7 Golongan Yang Mendapat Naungan Di Padang Mahsyar

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

Ponpes. Terpadu Ulul Abshor
psb

Padang mahsyar adalah tempat dimana seluruh manusia dikumpulkan tanpa sehelai benang pun, mengantre, menemui nasibnya yang mana mengacu pada amal baik buruknya selama hidup di dunia. Luar biasa panas tempat itu. Bahkan digambarkan matahari hanya berjarak sejengkal dari kepala.

Allah memberi naungan dari dahsyat kesengsaraan di sana. Hamba hamba ini merupakan pilihan yang mana menjadi golongan yang akan dinaungi kelak. Siapa saja mereka, dan bertanyalah pada diri, apakah diri kita termasuk di dalamnya :

1. Pemimpin yang adil

Pemimpin yang adil termasuk salah satu golongan yang dinaungi di padang mahsyar.
Menimbang pemimpin yang adil dimasukkan ke dalam tujuh golongan. Menurut urgensi saya sendiri, begini penjelasannya.

Pemimpin perannya sangat vital. Bahkan orang bilang, jika pemimpin rusak, semua elemen akan rusak. Itu dari sisi pengaruh diri. Belum lagi kontribusinya penting. Sekali dia memikirkan dirinya tanpa mengindahkan rakyat, maka sejuta rakyat akan menjerit.
Maka mengingat kontribusinya tinggi dan tugasnya tidak ringan, balasan pun tidak ringan.

Tidak semua pemimpin adil. Maka hanya pemimpin adillah yang menjadi golongan yang akan dinaungi di padang mahsyar kelak.

2. Pemuda yang tumbuh pada kebiasaan beribadah pada RabbNya

Di sinilah peran orang tua. Semenjak kecil, anak harus didik beribadah. Berikan hukuman ketika sang anak tidak berangkat beribadah. Dampaknya mengakar sampai dewasa. Yang mana dewasa adalah lanjutan dari masa kecil yang terus berjalan seiring perkembangan zaman. Lihatlah, betapa banyak anak muda sekarang hobi bermaksiat, berani bersentuhan dengan lawan jenis, bahkan memakai obatan terlarang. Hal itu bisa disebabkan masa hidup yang dilalui oleh sang anak tersebut kurang bersahabat dengan kebaikan.

3. Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid

Masjid merupakan rumah Allah. Selayaknya orang yang selalu mengagungkan rumah Nya mendapat balasan melimpah disbanding orang biasa yang jarang ke situ. Setiap waktu menjelang sholat, dia sudah berada di sana untuk mengikuti sholat berjamaah. Dia pun melakukan sholat sunah yang membuat malaikat malaikat di sisinya mendoakannya agar si hamba tersebut selamat di akhirat.

4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga tidak bertemu dan tidak berpisah kecuali karena Allah

Saya melihat termasuk esensi di dalamnya adalah ukhuwah cinta. Betapa sesame muslim harus saling bersaudara, bahkan diumpamakan seperti anggota tubuh, bila satu merasa sakit maka semuanya akan terasa.

5. Lelaki yang diajak berzina dengan wanita berkedudukan dan dia menolak lalu bilang,” Aku takut pada Allah “

Biasanya normalnya adalah lelaki yang mengajak wanita untuk berzina. Tapi ini wanita cantik dan terhormat yang menawarkan diri untuk dizinai dengan suka rela karena dia ingin bersetubuh dengan lelaki itu disebabkan lelaki itu terlalu tampan.
Maka lelaki yang menolak dan bilang bahwa dia takut adzab Rabbnya, dia mendapat balasan agung kelak.

6. Orang yang bersedekah sembunyi sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.

Dari miliaran manusia di dunia, berapa persen yang dermawan ? Tentu tidak banyak. Padahal peran dermawan sangat penting untuk kesejahteraan bangsa dan Negara. Ketika Negara pusing mikiran hutang. Wakil rakyat ngurusi gaji sendiri, bahkan protes kalau gajinya telat apalagi tidak digaji, maka siapakah yang membangun infrastruktur, apa lagi yang tidak dijangkau oleh mata Negara, seperti daerah pedesaan. Dan mohon maaf, jikalau dananya disedot, maka sudah tidak ada harapan lagi.

Dermawan mulia penting di dunia. Dan kalau terang terangan, mungkin orang orang terkagum. Nah, bagaimana jikalau sembunyi sembunyi, inilah yang dahsyat. Maka orang seperti ini sungguh mulia. Alam semesta berhutang budi padanya. Karena dia, banyak manusia bergembira. Banyak orang terbantu dan tertolong. Maka dia layak mendapat pertolongan dari Allah kelak.

7. Orang yang berdzikir pada Allah dengan sendiri hingga air matanya meleleh takut akan adzab Allah

Ketika tengah malam, semua orang terlelap tidur, dia pergi ke masjid mengambil air wudhu lalu sholat. Dinginnya malam tiada dihiraukan. Dia sangat mencintai Tuhannya melebihi apa pun dan takut akan adzab Nya yang pedih.

Aurat Bagian dari Kehormatan Diri

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

psb1Barangsiapa yang menjaga auratnya
Maka kehormatan dirinya akan tetap terjaga
[Ali Husaini Al-Barqiy].
Terkadang kita (kaum wanita) selalu menganggap bahwa Islam terlalu mengekang kita dengan perintah menutup aurat yang menurut kita sangatlah ribet.
Islam tidak bermaksud memenjarakan kaum wanita,
Kewajiban untuk menutup aurat yang telah dijelaskan dalam Islam bagi kaum wanita jangan diartikan sebagai bentuk pengekangan terhadap dirinya.
Justru dengan perintah menutup aurat tersebut seorang wanita Muslim merupakan manusia yang paling bebas dalam masyarakat
Dengan jilbab seorang wanita menjadi merdeka, bebas dari gangguan nafsu liar kaum laki-laki.
Jadi ketika seorang wanita Muslim menutup auratnya dengan batasan-batasan yang telah ditetapkan dalam Islam, maka seorang wanita tersebut akan sangat terhormat
Hal itu bisa meninggikan martabat kewanitaannya

 

Bagi Mereka Pertolongan Dan Kemenangan Dari Allah

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

brosur-smp-anyar

ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ كَذَٰلِكَ حَقًّا عَلَيۡنَا نُنجِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١٠٣

“Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban Kami menyelamatkan orang-orang beriman.” (QS. Yunus [10]: 103)

Allah ‘azza wa jalla telah mewajibkan atas diriNya untuk menolong dan menyelamatkan orang-orang beriman. Ini adalah bentuk keMahaMurahan Allah kepada para hambaNya. Ia bukan hanya menyelamatkan orang-orang beriman dalam kehidupan di dunia saja, namun Ia juga akan menolong dan menyelamatkan mereka pada kehidupan akhirat. Dan pertolongan kepada para hambaNya terjadi dalam bentuk dan jenis yang beragam banyak. Ia bukan hanya pertolongan dalam urusan dunia, namun juga urusan agama serta berkaitan dengan urusan yang lahir maupun batin.

Selama seorang mukmin berada dalam ketaatan kepada Allah maka ia senantiasa berada dalam jaminan pertolongan Allah. Maka sesungguhnya pertolongan Allah kepada hambaNya adalah balasan atas keimanan dan ketaatan hamba kepadaNya. Dan ketika Allah mencintai hambaNya maka Allah akan menguji hamba tersebut. Namun dibalik ujian tersebut ada hikmah dan kebaikan bagi si hamba.

Para Rasul Allah, para da’i, ulama dan mujahid adalah orang-orang yang mencurahkan tenaganya untuk menyiarkan dienullah. Mereka adalah di antara para hamba Allah yang mencintai Allah dan mencintai dienNya. Sehingga Allah pun mencintai mereka dan kemudian menguji mereka semuanya. Pada zaman yang penuh fitnah ini para ulama yang ikhlas, para da’i yang lurus dan para mujahid adalah kaum beriman yang terdepan di dalam berjuang menegakkan dienullah. Dan mereka juga adalah orang-orang yang paling berat ujiannya.

Agar menjadi mukmin yang mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah, maka seorang mukmin harus menjadi salahsatu dari orang dibawah ini dan atau memiliki sifat-sifat berikut ini:

  1. Istiqomah Dalam Keimanan

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠ نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَشۡتَهِيٓ أَنفُسُكُمۡ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ٣١  نُزُلٗا مِّنۡ غَفُورٖ رَّحِيمٖ ٣٢

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat -malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.” Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Didalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Allah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Fussilat [41]: 30-32)

Allah ‘azza wa jalla memberikan jaminan perlindungan dan pertolongan kepada para hambaNya yang istiqomah di dalam keimanan. Pertolongan ini baik dalam kehidupan dunia maupun dalam kehidupan akhirat. Jaminan perlindungan dan pertolongan dari Allah tersebut tidak berlaku jika seorang hamba tidak istiqomah dalam keimanan, dalam arti ia telah murtad dikarenakan melakukan perbuatan kekafiran. Sebab Allah berlepas diri dan menyatakan permusuhan terhadap orang-orang kafir.

Istiqomah artinya melazimi ketaatan kepada Allah. Maka seorang hamba yang istiqomah dalam keimanan adalah orang yang hidupnya senantiasa dalam ketaatan kepada Allah. Setiap saat aktifitas hidupnya adalah berpindah dari satu ketaatan ke ketaatan lainnya. Sehingga saat dia melakukan satu ketaatan kepada Allah, maka Allah membalasnya dengan menolongnya untuk melakukan jenis ketaatan yang lain kepadanya, begitu seterusnya. Atau dalam kata lain, ketika dia melakukan satu kebaikan (amal shalih) maka Allah membalasnya dengan menolongnya diberikan kemudahan untuk melakukan amal shalih yang lainnya. Inilah makna firman Allah:

هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ ٦٠

“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman [55]: 60)

Hal yang paling dibutuhkan oleh seorang hamba dari Allah adalah diberikan keistiqomahan dalam keimanan. Sebab di dalam keistiqomahan tercakup seluruh kebaikan yang dibutuhkan oleh seorang hamba. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

“Diriwayatkan dari Abu Amru -ada yang memanggilnya Abu Amrah- Sufyan bin Abdillah Radhiyallahu’anhu bahwa dia berkata,  “Aku pernah berkata, “Ya Rasulullah katakanlah kepadaku ungkapan tentang Islam, dimana aku tidak akan menanyakannya kepada seorang pun selain engkau.” Beliau kemudian bersabda, “katakan : “Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim)

Seluruh amal seorang hamba menjadi sia-sia jika dirinya tidak istiqomah dalam keimanan. Apalah artinya amal kebaikan seperti shadaqah, shaum sunnah, shalat sunnah bahkan jihad, jika kemudian pelakunya meninggalkan keimanan kepada Allah atau tidak istiqomah?

يوَمَن يَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتۡ وَهُوَ كَافِرٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٢١٧

“Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat dan mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal didalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 217)

Jika seorang hamba menginginkan dan berniat untuk istiqomah dengan melazimi ketaatan kepada Allah, maka Allah akan menolongnya dengan mengaruniakan keistiqomahan kepadanya. Ini adalah bentuk kemurahan Allah kepada para hambaNya. Sebaliknya, jika seorang hamba menginginkan kesesatan dengan menempuh jalan kesesatan, maka Allah akan menyesatkannya. Ini adalah bentuk keadilan Allah, dan ini juga hukuman bagi yang menginginkan untuk sesat. Hal tersebut sebagaimana firmanNya:

وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦ يَٰقَوۡمِ لِمَ تُؤۡذُونَنِي وَقَد تَّعۡلَمُونَ أَنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡۖ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ٥

“Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran) Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. Ash-Shaff [61] : 5)

  1. Mukmin Yang Loyal (Setia) Kepada Allah, Rasul dan Orang-orang Beriman

وَمَن يَتَوَلَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَإِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ

“Dan barangsiapa menjadikan Allah, RasulNya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh  (agama) Allah, itulah yang menang.” (QS. Al-Ma’idah [5] : 56)

Allah ‘azza wa jalla menjamin memberikan kemenangan kepada orang-orang yang berwala (memberikan loyalitas/kesetiaan) hanya kepada Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman. Pertolongan Allah dengan memberikan kemenangan kepada mereka adalah sebagai balasan atas kesetiaan mereka kepada Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman. Bentuk loyalitas seorang hamba kepada Allah adalah dengan beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun dalam ibadah tersebut. Ia juga mentaati setiap syariat dan hukum yang ditetapkan oleh Allah ‘azza wa jalla.

Bentuk loyalitas seorang hamba kepada Allah yang lainnya adalah mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan membenci apa yang dibenci oleh Allah, serta rela berkorban untuk membela dienullah dan menegakkannya. Ketika seorang hamba mencintai Allah, maka Allah akan membalas dengan mencintainya. Dan salahsatu bukti cinta Allah kepada hambaNya adalah dengan menolongnya dan mengaruniakan kemenangan di dunia dan di akhirat. Pertolongan itu bisa berupa penjagaan Allah kepada hamba dari ketergelinciran dan kesesatan. Adapun kemenangan hidup di dunia bisa berupa akhir hidup sebagai seorang mukmin yang istiqomah.

Adapun bentuk loyalitas kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan mencintainya melebihi kecintaan kepada seluruh manusia di muka bumi. Yang lainnya adalah dengan membenarkan setiap kabar yang dibawa oleh Rasulullah. Membenarkan dan mentaati ajaran yang dibawa oleh Rasulullah secara global dan terperinci. Kemudian siap berkorban untuk membela dan menegakkan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Sedangkan bentuk loyalitas kepada orang-orang beriman adalah mencintai mereka karena keimanannya dan memberikan hak-haknya berdasarkan ketentuan syariat. Membela mereka dari kezaliman pihak lain. Baik kezaliman dari sesama muslim maupun kezaliman dari kaum kafir. Senang hidup ditengah-tengah kaum mukminin dan benci untuk hidup ditengah kaum musyrikin adalah bentuk loyalitas lain kepada orang-orang  beriman. Dengan sebab loyalitasnya kepada para hambaNya yang beriman maka Allah pun berkenan memberikan pertolongan dan kemenangan kepada mereka.

Dan puncak loyalitas seorang hamba kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman adalah dengan berjihad untuk tegaknya syariat Allah dan RasulNya serta menolong kaum mukminin dari kezaliman kaum kafir. Dan yang sanggup untuk melakukan itu semua adalah para mujahid. Sedangkan mujahid yang berjihad di jalan Allah adalah salahsatu hamba yang mendapatkan jaminan pertolongan dan kemenangan dari Allah.

  1. Mukmin Yang Sabar Dalam Menghadapi Ujian

أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ

“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah? “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah [2] : 214)

Allah ‘azza wa jalla menetapkan bahwa Ia akan menguji setiap hamba yang menyatakan dirinya beriman. Ujian itu untuk  membuktikan akan dusta atau benarnya keimanan seorang hamba. Hal tersebut sebagaimana firmanNya :

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-’Ankabut [29] : 2-3)

Dan tidaklah Allah menguji iman seorang hamba kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya. Dibalik ujian yang Allah berikan kepada seorang hamba sesungguhnya ada pertolongan dan hikmah yang baik bagi si hamba. Semakin keras dan berat ujian (musibah) yang menimpa hamba menandakan semakin dekatnya pertolongan Allah jika hamba tersebut bersabar dan tidak menyerah. Bahkan besarnya pahala di akhirat yang didapat seorang hamba salahsatunya adalah berdasar beratnya ujian yang menimpa dan bersabar karenanya.

Jika saja seorang hamba bersabar tatkala musibah atau ujian pada puncaknya, maka itu pertanda sudah sangat dekatnya pertolongan Allah. Contoh dalam hal ini adalah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika hendak dibakar oleh Raja Namrudz. Ketika tangan dan kaki Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diikat kemudian dilemparkan ke dalam api, secara logika berakhirlah kisah Nabi Ibrahim.  Namun pertolongan Allah justru datang dari dalam api yang direncanakan oleh Raja Namrudz untuk membinasakan Nabi Ibrahim. Api tersebut menjadi dingin dan sejuk serta membakar tali-tali yang mengikat tubuh Nabi Ibrahim.

Kisah lain adalah tatkala Nabi Musa ‘alaihissalam dan bani Israil dikejar oleh pasukan tentara Raja Fir’aun dan sampai di tepi laut merah. Secara logika berakhirlah kisah Nabi Musa ‘alaihissalam dan bani Israil karena tidak ada lagi celah bagi mereka untuk menyelamatkan diri. Namun pertolongan Allah justru muncul dari tempat berpijak Nabi Musa ‘alaihissalam. Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam memukulkan tongkatnya ke laut merah maka terbentanglah jalan yang menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dan bani Israil sekaligus tempat dibinasakannya Fir’aun dan bala tentaranya.

Maka ditengah musibah yang menimpa Daulah Islam hari ini berupa pengeroyokan dengan gempuran yang sangat massif oleh koalisi kafir internasional, adalah pertanda semakin dekatnya pertolongan dan kemenangan dari Allah bagi Daulah Islam. Jika Daulah Islam mampu bersabar dan bertahan dalam masa-masa kritis ini, maka tidak lama lagi -biidznillah- kemenangan-kemenangan besar akan segera dicapai oleh Daulah Islam. Sebab pertolongan dan kemenangan dari Allah datang tatkala seolah tidak ada lagi jalan keluar bagi seorang hamba. Tetap bersabar, optimis dan berprasangka baik kepada Allah tatkala musibah datang akan menjadi wasilah datangnya pertolongan Allah

Perubahan Tidak Pernah Berubah

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

brosur-smp-anyar-depan

Selama pergantian pemimpin, negeri ini mengalami perubahan demi perubahan. Dari sisi apa pun semua berubah, entah itu perubahan ke arah lebih maju atau perubahan ke arah lebih mundur. Kebijakan demi kebijakan diambil dan memberi perubahan itu sendiri. Aturan pemilihan pemimpin berubah. Yang mana dulu hanya kalangan tertentu saja, sekarang dipilih seluruh rakyat. Perubahan terus terjadi. Setiap pemimpin membuat perubahan, entah itu ke arah lebih positif atau sebaliknya.

Begitu juga pada masa sepeninggal Rasulullah, dari satu khalifah ke khalifah membuat perubahan tersendiri, yang mana untuk kemajuan umat. Mulai Abu Bakar yang mana menfokuskan menajamkan akidah seiring banyak terdengar orang mengaku nabi, tidak mau bayar zakat. Selain itu, beliau juga memperluas daerah kekuasaan. Sepeninggal beliau, khilafah beralih ke Umar. Ini titik perubahan menakjubkan, penyebaran Islam menyebar drastis, menguasai daerah luar Arab sangat luas. Bahkan Michael Hart menempatan Umar sebagai seorang berpengaruh di dunia di dalam bukunya seratus tokoh paling berpengaruh di dunia. Umar dianggap sebagai dalang perluasan kekuasaan umat Islam yang sangat berpengaruh untuk kemajuan umat.

Sepeninggal Umar, Utsman mengambil tahta. Perubahan pun terjadi. Banyak hafidz Qur’an yang syahid membuat khalifah resah. Maka beliau merijtihad untuk menuliskan Al Quran ke dalam lembaran lembaran untuk kemaslahatan umat. Titik balik masa yang mana Al Quran dibukukan. Sepeninggal Utsman, Ali menjadi khalifah. Perluasan daerah pun semakin gencar. Intinya, dari khalifah satu ke lain pun berubah dan memberi perubahan pada masa itu, dan tidak mungkin sama.
Bangsa ini telah tau pemimpin untuk lima tahun ke depan. Dan jika ada orang berharap bisa sama seperti pemimpin sebelumnya, maka dia hanya bermimpi karena itu tidak mungkin. Perubahan itu akan terjadi. Hanya saja kita tahu, apakah perubahan ke arah lebih baik atau sebaliknya. Kita lihat saja nanti. Tanda tanda mulai ada.

Mengapa begitu ?

Karena semua orang itu berbeda. Seluruh garis garis telapan manusia di dunia tidak ada yang sama, walau satu orang pun. Begitu pula karakter. Anda mengharapkan sesuatu yang sama dengan orang, sementara Anda menggantinya dengan orang lain. Maka mustahil terjadi. Karena mereka berbeda. Kalau tidak ke arah lebih baik, maka ke arah lebih buruk. Kalau tidak lebih maju, berarti akan lebih mundur.

Setiap saya menemui orang yang beberapa waktu tidak saya temui, cenderung mereka berubah secara fisik. Ada yang lebih gemuk, lebih kurus, lebih indah di pandang, bahkan ada yang lebih muda dari umur sebenarnya atau terakhir kali saya bertemu. Begitu juga alam, pohon kelapa depan rumah saya tiada lagi yang dulu sering saya panjat. Seiring berjalan waktu, tanaman tanaman mulai ditebang diganti bangunan bangunan megah. Semuanya berubah, tidak perlu waktu lama, sejenak saja pun kita sudah berubah. Bulan pun mengalami fase fase perubahan, begitu juga matahari yang mana strukturnya dari waktu ke waktu tidak sama.

Lalu adakah yang tidak berubah ?

Yang tidak berubah hanya Tuhan dan perubahan itu sendiri. Perubahan tidak pernah berubah. Perubahan selalu mengitari seluruh dunia dan alam semesta. Karena dia menjadi hakekat yang tidak pernah berubah.

Membangun Generasi Akhirat yang Sukses di Dunia