Semua tulisan dari admin

Cinta Adalah Anugerah dari Allah

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

brosur

brosur-1

Rasa cinta adalah fitrah yang telah Allah anugerahkan kepada setiap hamba. Fitrah yang dimaksud adalah kecintaan terhadap apa yang diinginkan oleh jiwa dan tergeraknya hati untuk memiliki atau mendapatkannya.

Dan ketahuilah bahwa semua perbuatan yang kita lakukan, maka mesti diawali dengan keinginan dan kecintaan. Sampai-sampai, menolak dan menghindar dari hal-hal yang dibenci, maka ia menghindarinya karena memiliki keinginan dan kecintaan untuk mendapatkan lawan dari apa yang ia benci. Karena itulah, ini menjadikan cinta memiliki kedudukan yang tinggi di dalam syariat.

Secara garis besar, dalam Islam, cinta itu terbagi menjadi dua: cinta yang khusus dan cinta yang umum. Cinta yang khusus terbagi lagi menjadi dua: cinta yang disyariatkan dan cinta yang diharamkan.

Cinta yang disyariatkan banyak bentuknya. Di antaranya adalah cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan syariat Allah. Cinta seperti ini adalah bentuk kewajiban yang paling besar landasan di dalam Islam. Allah menceritakan keadaan kaum mukminin dalam kecintaan mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ

“Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan. Mereka mencintainya, sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cinta mereka kepada Allah.“ (QS. Al Baqarah: 165)

Kecintaan yang dengannya seorang mukmin mendahulukan segala apa yang Allah cintai dan ridhai di atas keinginan dan keridhaan dirinya. Kecintaan yang mendorong untuk senantiasa taat beribadah kepada Allah, cinta yang mendorong karena berbagai macam kebaikan dan kebahagiaan.

Dengan mengedepankan cinta kepada Allah, akan dapat menikmati kelezatan iman, sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada tiga perkara, yang apabila ketiganya ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman. [1] Apabila Allah dan rasulNya lebih ia cintai daripada yang selain keduanya. [2] Apabila ia mencintai seseorang, namun ia tidak mencintai, kecuali karena Allah. Dan [3] apabila ia tidak suka untuk kembali ke dalam kekafiran sesudah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, seperti halnya ia tidak suka jika ia dilemparkan ke dalam api Neraka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Cinta kepada Allah adalah salah satu sebab tersebut. Allah golongkan kita termasuk orang-orang yang diberikan kenikmatan dunia dan akhirat. Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seseorang datang kepada beliau, lalu bertanya,

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Kapan terjadi kiamat, wahai Rasulullah?” Kemudian Nabi balik bertanya, “Apa yang telah engkau siapkan untuk menghadapinya?” Sahabat tadi pun menjawab, “Tidaklah aku mempersiapkan dengan banyaknya shalat, shaum, sedekah, tetapi aku mencintai Allah dan RasulNya.” Maka Nabi bersabda, “Seseorang itu bersama siapa yang ia cintai.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Di antara cinta yang disyariatkan adalah cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadikan beliau orang yang paling dicintai di atas segalanya dari kalangan makhluk. Rasulullah bersabda dalam hadits yang shahih,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

“Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai aku adalah orang yang dia paling cintai dibandingkan anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan  Muslim)

Dalam hadits ini, disebutkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah adalah bukti kesempurnaan iman. Bentuk kecintaan terhadap Rasul dibuktikan dengan kita mengedepankan apa yang Rasulullah cintai, dari itu melaksanakan perintah-perintah beliau dan menjauhi larangan-larangan beliau, membenarkan kabar-kabar yang datang dari beliau dan beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang beliau contohkan.

Termasuk cinta yang disyariatkan adalah cinta kepada para nabi, para rasul, dan orang-orang shalih. Cinta kepada mereka dikarenakan mereka adalah orang-orang pilihan Allah dan senantiasa melaksanakan ketaatan kepada Allah, sehingga Allah pun mencintai mereka. Juga mencintai kesabaran yang ada pada mereka, ketakwaan dan amalan-amalan baik yang mereka kerjakan. Mencintai orang-orang shalih akan mendorong kita mengikuti jejak mereka serta mencontoh akhlak dan adab mereka yang mulia.

Akhirnya, muncul harapan agar Allah golongkan bersama mereka  (para nabi dan orang-orang shalih). Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa dengan kecintaan seseorang dapat disatukan bersama siapa yang dia cintai,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang itu bersama dengan siapa yang dicintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, cinta yang diharamkan adalah cinta yang mengandung kesyirikan. Maksudnya, seseorang menjadikan sesuatu  yang ia cintai itu seperti cintanya kepada Allah atau bahkan lebih besar daripada kepada Allah.

Demikian juga dengan mencintai harta, anak atau kerabat hingga ia berani melakukan apa yang Allah haramkan demi yang dicintainya itu. Cinta yang menjadikan seseorang tunduk dan patuh pada apa yang ia cintai dari selain Allah diharamkan. Hal ini telah Allah ingatkan dalam firmanNya,

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakan [wahai Muhammad], ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai daripada Allah dan rasulNya serta berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik’.” (QS. At Taubah: 24)

Adapun cinta yang umum, itu adalah cinta yang sifatnya tabiat seperti cinta harta, cinta anak, cinta kepada istri, cinta kepada orangtua. Meski demikian, cinta jenis ini tidak boleh sampai membuatnya tunduk kepadanya. Cinta jenis ini dibolehkan selama tidak mendorong seseorang itu melakukan apa yang Allah larang. Setiap hamba diberikan fitrah untuk mencintai dan menyayangi sesamanya. Allah tegaskan itu di dalam firmanNya,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan terhadap apa yang diinginkan, baik itu berupa kaum wanita anak-anak dan harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah-ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14)

Dan yang seperti itu mengingatkan kita kepada apa yang banyak dikerjaan oleh banyak orang pada hari ini (bahkan sebagian kaum muslimin) ketika mereka merayakan Valentine Day. Perayaan seperti ini tidaklah ada dalam Islam. Terlebih lagi, perayaan seperti ini mengungkapkan kecintaan kepada perkara yang Allah haramkan.

Oleh karena itu, selayaknya kaum muslimin meninggalkan perkara-perkara yang akan membahayakan agamanya dan melemahkan imannya. Dan hanya kepada Allah-lah kita mengadu, bersandar, dan memohon pertolongan.

Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: Buletin Jum’at Dakwah Islam, No. 69, Ponpes Al Islam Cileunyi, Kab. Bandung, Jawa Barat.

Bagikan

AL QUR-AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

brosur

 

brosur-1

Kaum muslimin meyakini Al Qur’an adalah pedoman hidup bagi mereka. Bahkan, keimanan terhadap Al Kitab adalah salah satu rukun iman yang enam. Bagi umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib untuk mengimani Al Qur-an, dengan meyakini bahwa kitab suci Al Qur’an turun di sisi Allah.

Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dengan ayat-ayat yang ada di dalamnya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr: 9) membenarkan seluruh kabar yang datang dalam Al Qur-an, karena firman Allah subhanahu wa ta’ala seluruhnya jujur dan benar adanya.

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۗ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

“Allah, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kalian di hari kiamat yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?” (QS. An Nisa: 87) 

Dan juga dalam ayat lain,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ  وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا

“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh kelak akan kami masukkan ke dalam Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?” (QS. An Nisa: 122)

Al Qur’an diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk tiga perkara:

1. Beribadah dengan membacanya. Siapa saja yang membaca huruf-huruf yang ada dalam Al Qur’an mendapat satu kebaikan. Kemudian, dari satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa saja yang membaca satu huruf dalam Al Qur’an ia mendapatkan satu kebaikan dan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali kebaikan. Aku tidak mengatakan alif laam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

Karena itu, bagi siapa yang membacanya, mendapat kebaikan yang banyak. Orang-orang yang mahir atau fasih dalam membaca ayat-ayat Allah akan mendapatkan keutamaan yang tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha,

“Orang yang membaca Al Qur’an dan ia mahir membacanya bersama para malaikat Allah yang mulia dan orang yang membacanya dengan terbata-bata ia berat membacanya mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Merenungi maknanya, memahami dan mendalami kandungan ayat Al Qur’an. Dengan merenunginya, seseorang dapat mengambil manfaat dari Al Qur’an. Sebagaimana dalam firmanNya,

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 29)

Bukanlah yang diinginkan dari Al Qur-an membaca saja. Akan tetapi, sepantasnya bagi kita untuk mendalami kandungan makna yang ada di dalam Al Qur-an, sehingga dapat mengamalkan bimbingan yang ada padanya. Sebab tidaklah seseorang bisa mengamalkan Al Qur’an kecuali dengan memahami kandungannya. Sungguh, seorang akan mendapatkan kesenangan dan kesejukan hati di dalam membaca Al Qur’an bersamaan ia mendalami makna ayat-ayatnya.

3. Mengambil nasehat dan wejangan dari ayat-ayat Al Qur-an seakan Al Qur-an sebagai penasehat baginya, mengingatkannya kepada Allah. Hal ini sebagaimana firmannya,

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Al Qur’an merupakan obat bagi hati yang berada dalam kegelisahan, gundah gulana. Dengan membacanya, akan mendapatkan ketenteraman, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan kami turunkan dari Al Qur-an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur-an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra: 82)

Betapa banyak keutamaan Al Qur’an bagi kita, kaum muslimin. Selain Al Qur-an adalah mukzijat yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara keutamaannya adalah sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya. Dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah oleh kalian Al Qur’an. Sesungguhnya pada hari kiamat Al Qur-an akan datang sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim) 

Pada hari tidak ada yang dapat menyelamatkan diri seorang hamba kecuali amalannya sendiri, maka Al Qur-an datang sebagai pemberi syafaat, apabila kita membacanya hanya mengharap pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah mengangkat kedudukan suatu kaum dengan berpegangnya mereka terhadap Al Quran dan merendahkan suatu kaum dengannya pula. Setan lari dari rumah yang dibacakan padanya ayat-ayat Al Qur-an terkhusus surat Al Baqarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian jadikan rumah kalian kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat Al Baqarah.” (HR. Muslim)

Terkhusus bulan yang sedang kita jalani, bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan padanya Al Qur-an, sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk lebih memperhatikan dalam membaca dan mengkaji Al Quran dan juga memperbanyak membacanya. Sebab Jibril ‘alaihis salam datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap malam di bulan Ramadhan untuk mengajarkan Al Qur’an dan mengulangnya.

Bulan Ramadhan dinamakan pula bulan Al Qur-an, bulan ketika kaum muslimin benar-benar menghidupkan malamnya dengan membacanya, baik kita membacanya  pada shalat malam atau membaca dari mushaf-mushaf. Para Ulama terdahulu ada yang mengkhatamkan Al Qur-an setiap pekannya di bulan Ramadhan. Di antara mereka ada yang mengkhatamkan setiap tiga hari. Semua berlomba-lomba mengumpulkan kebaikan dengan membacanya. Marilah kita menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya, bersemangat membaca Al Qur-an dan mengkajinya, sehingga kita mendapatkan keutamaan-keutamaan yang telah dijanjikan.

Rujukan: Buletin Jum’at DAKWAH ISLAM, No. 23, Tahun ke-1, 9 Ramadhan 1436 H/26 Juni 2015 M

Bagikan

SYARAT AGAR AMAL IBADAH DITERIMA ALLAH

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

baru-3

Syarat-syarat diterimanya di sisi Allah ada tiga.

Pertama, beriman dan bertauhid kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلاً

“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shalih, untuk merekalah surga-surga Firdaus.” (QS. Al Kahfi: 107)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قُلْ أَمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

“Katakan, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqamah-lah.” [HR. Muslim]

Kedua, ikhlas. Yaitu, beramal untuk Allah tanpa riya’[1] dan sum’ah[2]. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ

“Maka, ibadahilah Allah dengan ikhlas untukNya dalam [menjalankan] agama.” (QS. Az Zumar: 2)

Ketiga, sesuai dengan apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Dan apa-apa yang datang kepada kalian dari Rasulullah, maka ambillah. Dan apa-apa yang beliau larang darinya untuk kalian, maka jauhilah.” (QS. Al Hasyr: 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَادٌّ

“Siapa saja yang mengerjakan amalan yang tidak kami contohkan, maka amalannya tertolak.” [HR. Muslim]

 

Oleh : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Bagikan

Doa yang Sering Dibaca Rosululloh

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

baru-3

Qatadah bin Da’amah As Sadusi pernah bertanya kepada Anas bin Malik rahimahullah, “Doa apa yang paling sering diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Anas menjawab, “Doa yang paling sering diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

للَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

YA, ALLAH, BERIKANLAH KEPADA KAMI KEBAIKAN DI DUNIA DAN KEBAIKAN DI AKHIRAT SERTA JAUHKANLAH KAMI DARI AZAB NERAKA’.”

Dan adalah Anas, jika diminta mendoakan, berdoa dengan doa itu. Jika hendak berdoa, di dalamnya berdoa dengan doa itu.”

RUJUKAN: Muslim bin Hajjaj Al Qusyairi An Naisaburi. Shahih Muslim al Musamma Al Musnad Ash Shahih Al Mukhtashar min As Sunan bi Naqli Al ‘Adl ‘an Al ‘Adl ila Ar Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riyadh: Dar Ath Thayyibah. 1426H/2006M, halaman 1239-1240.

Bagikan

Diantara Adab Mencari Ilmu

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

baru-3

[Di antara adab seorang penuntut ilmu agama] hendaknya ia mengetahui hak gurunya dan tidak melupakan kebaikan gurunya.

Syu’bah mengatakan, “Aku, jika mendengar satu hadits dari seseorang, maka aku adalah budaknya selama ia masih hidup.”

Beliau juga mengatakan, “Tidaklah kudengar dari seseorang sesuatu, kecuali aku lebih banyak mendatanginya daripada apa yang kudengar darinya.”

Dan termasuk adab-adab kepada guru adalah memuliakan kehormatan dirinya serta membantah orang-orang yang meng-ghibah-nya dan marah kepada orang-orang yang meng-ghibah-nya. Jika tidak mampu untuk itu, maka ia berdiri dan meninggalkan majelisnya.

Hendaknya juga seorang penuntut ilmu itu mendoakan gurunya sepanjang hidupnya, menanggung beban anak-anak dan kerabatnya serta orang-orang yang dicintainya setelah wafat gurunya itu, meluangkan waktu menziarahi kuburnya, memintakan ampunan untuknya, bersedekah atas namanya, meniti jalannya dan mengikuti petunjuknya, memerhatikan ilmunya dan agama yang yang ia jalani, mencontoh etika dan ibadah-ibadahnya, beradab dengan adab-adabnya, dan tidak abai dari mencontohnya.

Sumber: Muhammad bin Ibrahim Ibnu Jama’ah Al Kinani. Tadzkirah As Sami’ wal Mutakallimi fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim. Kairo: Darul Atsar. 1428H/2007M, halaman 121.

Bagikan