*7 TEMPAT FAVORIT JIN/SYETAN DI TUBUH MANUSIA…*

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru

Ponpes. Terpadu ulul Abshor

baru-4

? Ada 7 bagian tubuh manusia yang juga menjadi tempat kesukaan jin. Oleh sebab itu kita dianjurkan untuk membersihkannya, yakni :

*1⃣ Lubang mulut manusia.*

? Jin akan berusaha masuk ke lubang mulut manusia saat sedang menguap. Oleh sebab itu saat sedang menguap, kita dianjurkan untuk menutup mulut. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Said bahwa Rasulullah bersabda,

_*”Apabila seseorang dari kalian menguap, letakkanlah tangannya pada mulutnya (tutuplah), karena setan akan masuk bersama dengan orang yang menguap.”_*
(HR. Muslim)

*2⃣ Dibawah kuku manusia.*

? Makanya kita dianjurkan untuk rutin memotong kuku, sunnahnya hari jum’at. Karena jin dan setan mengikat manusia melalui kuku-kuku yg panjang. Sebagaimana disebutkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda,

_*”Potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (melalui) kuku-kuku yang panjang.”_*
(HR. Ahmad)

*3⃣ Lubang hidung manusia.*

? Saat manusia tidur, ternyata jin juga ikut menginap di batang hidung manusia. Karenanya saat bangun tidur, kita dianjurkan untuk membasuh lubang hidung sebanyak tiga kali. Rasulullah bersabda,

_*”Apabila salah seorang di antara engkau bangun tidur, hendaklah memasukan (istinsaq) dan mengeluarkan air dari hidung (istintsar) tiga kali, karena setan itu menginap di batang hidungnya.”_*
(H.R. Muslim).

*4⃣ Lubang telinga manusia.*

? Bukan sekedar sembunyi di telinga manusia, namun ternyata ketika seorang manusia tertidur hingga pagi tanpa mengerjakan shalat malam maka berarti telinganya itu telah dikencingi oleh jin. Sebagaimana diceritakan dari Abdullah bahwa Di sisi Nabi bahwa ada seorang laki-laki yang selalu tidur sampai pagi tanpa mengerjakan shalat (malam). Lalu beliau bersabda,

_*”Setan telah kencing di telinganya”._*
(H.R. Muslim)

*5⃣ Urat darah manusia.*

? Sebagaimana telah disebutkan bahwa jin atau setan menyusup ke dalam tubuh manusia melalui aliran darah manusia tersebut. Kemudian dari aliran darah itulah jin berusaha memperdaya manusia. Hal ini dijelaskan oleh Shafiyyah binti Huyay bahwa Rasulullah bersabda,

_*”Sesungguhnya setan itu berjalan dalam tubuh anak Adam melalui peredaran darah dalam tubuhnya.”_* (H.R. Muslim)

*6⃣ Lubang pusar manusia.*

? Lubang pusar merupakan tempat yang kotor karena tidak banyak orang yg membersihkannya, sedang jin dan setan sangat menyukai tempat-tempat yang kotor. Bahkan saat seseorang diruqiyah diketahui bahwa kebanyakan jin bersembunyi dan tinggal di bagian lubang pusar manusia. Meski demikian kita tidak dianjurkan untuk membersihkan lubang pusar hingga mengoreknya, cara membersihkannya cukup dengan menyekanya secara lembut dengan air atau dengan kapas.

*7⃣ Lubang kemaluan manusia.*

? Setan dan jin akan menambah rasa nikmat saat seseorang sedang berzina dengan cara menstimulir syaraf kemaluan. Oleh sebab itulah dianjurkan untuk menjaga kebersihan organ intim baik pada pria maupun wanita dan berdo’a, *”Allahumma janibna bisyaitan, wajanibna syaitan wamarazaqtana waqinna ‘azabannar”* hanya dengan pasangan yg halal, bila tidak baca doa syaitan ikut saham yg kelak melahirkan keturunan yg berprilaku syetan.

? Karena itu kita dianjurkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah yaitu dengan mencukur rambut kemaluan, memendekkan kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak. Sebab selain menjadikan tubuh lebih bersih dan sehat, kita juga dapat menghalangi jin untuk bersembunyi pada bagian tubuh tersebut.

Semoga bermanfaat ☝?
Refrensi:
? Shahih Muslim

Bagikan

AKU INI LAKI-LAKI YG TIDAK LAKU

 

brosur-smp-anyar

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

PONPES TERPADU Ulul Abshor

PENDEK Jelek. Hitam. Tidak berharta. “JULAIBIB”namanya. Namun dia adalah seorang sahabat Rasulullah yang mulia. Sangat malu dan minder ketika tiba-tiba Rasulullah menawarinya untuk menikah. Karena tahu diri. Namun Rasulullah menenangkannya.

Hingga suatu ketika, bertemulah Rasulullah dengan salah seorang sahabatnya.

“Aku ingin meminang puterimu,” kata Rasulullah.

Sahabat itu sangat bahagia. Siapa yang tidak bahagia ketika puterinya menjadi istri Nabi.

“Baiklah wahai Rasulullah, ini merupakan sebuah penghormatan bagi kami,” jawab sahabat itu dengan sangat riang.

“Bukan untukku. Tapi untuk Julaibib,” kata Nabi.

“Julaibib? Julaibib?” katanya dengan kaget.

Wajahnya berubah. Tidak lagi ceria seperti sebelumnya.

“Namun aku harus bermusyawarah dulu dengan ibunya,”lanjutnya.

“Julaibib? Julaibib?” kata sang istri terkejut saat mendengar berita dari suaminya.

Terbayang dengan jelas dalam benak wanita itu sosok lelaki yang pendek. Jelek. Hitam. Dan tidak berharta..

Dia yang akan menjadi menantunya nanti. Apa kata orang-orang, pikirnya…

Putrinya yang menyimak percakapan kedua orang tuanya dari bilik kamar segera keluar. “Ayah, ibu, bagaimana mungkin engkau menolak pilihan Rasulullah?

Bukankah Allah berfirman :

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka?

” jelas gadis itu. “Ayah, ibu, aku akan menikah dengan laki-laki pilihan Nabi.”Merekapun menikah.

Hingga suatu pagi, datang seruan untuk berjihad. Melawan kaum musyrikin di medan Uhud. Julaibib mendengar seruan itu. Iapun memenuhi panggilan Rasulullah saw. untuk pergi berjihad.

Selesai perang Uhud, Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya.

“Kalian kehilangan siapa hari ini?” tanya Rasulullah.

Ada sahabat yang menjawab.

“Kami kehilangan Hamzah!”

Ada yang berkata, “Kami kehilangan Mush’ab!”

Yang lain berkata, “Kami kehilangan Yaman!”

Ada pula yang mengatakan,

“Kami kehilangan ‘Amr bin Jamuh!”“

Namun, aku kehilangan Julaibib! Carilah Julaibib sekarang!” kata Rasulullah.

Para sahabat mencari Julaibib. Hingga akhirnya Julaibib ditemukan meninggal dunia diantara tujuh orang musyrikin.

Para sahabat mengabarkan kepada Rasulullah, bahwa Julaibib meninggal diantara tujuh orang musyrikin.

Dia membunuh tujuh orang musyrikin, kemudian dirinya terbunuh. Meninggal sebagai syuhada’.

“Dia adalah bagian dariku, dan aku bagian darinya!

Dia adalah bagian dariku, dan aku bagian darinya!

Dia adalah bagian dariku, dan aku bagian darinya!”

kata Rasulullah menanggapi kabar kematian Julaibib.

Seberuntung Julaibib mendapatkan bidadari. Tak disangka, tak diduga, Rasulullah meminangkan untuknya seorang wanita yang cantik, kaya, dan berkelas. Asyiknya lagi ketika wanita itu menerima lamaran Rasulullah, tanpa berat hati. Padahal dia sangat tahu seperti apa lelaki calon pendamping hidupnya. Julaibib. Ya, ‘hanya’ Julaibib.

Namun wanita itu sangat percaya, seperti apapun fisik Julaibib, dia adalah lelaki yang direkomendasikan Rasulullah. Pasti berkualitas. Pasti hebat. Pasti lelaki sejati. Keimanan yang luar biasa.

Apapun yang dipilihkan oleh Allah dan Rasul-Nya, itu pasti yang terbaik. Dan ternyata benar. Boleh tampang pas-pasan, tapi kualitas berani diadu.

Kualitas agama Julaibib tidak sesederhana penampilannya. Sangat luar biasa.Terbaca dari dialognya bersama Rasulullah saw. saat ditawari untuk menikah.

Julaibib berkata, “Wahai Rasulullah, aku ini lelaki yang tidak laku.”

Namun Rasulullah saw. segera menjawab, “Tapi kamu di sisi Allah laku.” ( HR. Muslim)

 

Bagikan

KISAH INSPIRATIF “Marbot Masjid Atta’awun Cisarua Puncak Bogor”

kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

Ponpes Terpadu Ulul Abshor 

brosur-smp-anyar-depanCerita ini nyata yang mengisahkan dua sahabat yg terpisah cukup lama; *Ahmad dan Zaenal*

Ahmad ini pintar sekali. Cerdas. Tapi dikisahkan kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah sahabat yg biasa2 saja. Namun keadaan orang tuanya mendukung karir dan masa depan Zaenal.
.
Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu. Bertemu di tempat yg istimewa; di koridor wudhu, koridor toilet sebuah masjid megah dengan arsitektur yg cantik, yg memiliki view pegunungan dengan kebun teh yg terhampar hijau di bawahnya. Mesjid tersebut adalah mesjid At-Ta’awun yang berada di puncak Bogor.
Adalah Zaenal, sudah menjelma menjadi seorang manager kelas menengah. Necis. Parlente. Tapi tetap menjaga kesalehannya.
Ia punya kebiasaan. Setiap keluar kota, ia sempatkan singgah di masjid di kota yg ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. Syukur-syukur masih dapat waktu yg diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah juga sebagai tambahan.
Seperti biasa, ia tiba di Puncak Pas, Bogor. Ia mencari masjid. Ia pinggirkan mobilnya, dan bergegas masuk ke masjid yg ia temukan.
.
Di sanalah ia menemukan Ahmad. Cukup terperangah Zaenal ini. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga tak punya, tapi pintarnya minta ampun.
.
Zaenal tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad sebagai merbot masjid..!
“Maaf,” katanya menegor sang merbot. “Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?”.

Yang ditegor tidak kalah mengenali. Lalu keduanya berpelukan, Ahmad berucap
“Keren sekali Kamu ya Mas… Manteb…”. Zaenal terlihat masih dlm keadaan memakai dasi. Lengan yg digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam bermerknya terlihat oleh Ahmad. “Ah, biasa saja…”.
.
Zaenal menaruh iba. Ahmad dilihatnya sedang memegang kain pel. Khas merbot sekali. Celana digulung, dan peci didongakkan sehingga jidatnya yg lebar terlihat jelas.
“Mad… Ini kartu nama saya…”.
Ahmad melihat.

“Manager Area…”. Wuah, bener-bener keren.”
“Mad, nanti habis saya shalat, kita ngobrol ya. Maaf, kalau kamu berminat, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar merbot di masjid ini. Maaf…”.

Ahmad tersenyum. Ia mengangguk. “Terima kasih ya… Nanti kita ngobrol. Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun menyelesaikan pekerjaan bersih2 dulu… Silahkan ya. Yang nyaman”.
Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad yg pintar, kemudian harus terlempar darik kehidupan normal. Ya, meskipun tidak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai merbot, tapi merbot… ah, pikirannya tidak mampu membenarkan.
Zaenal menyesalkan kondisi negerinya ini yg tidak berpihak kepada orang-orang yang sebenarnya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.
.
Air wudhu membasahi wajahnya…
Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yang sedang bersih-bersih.

Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan merbot. Melainkan “office boy”.

Tanpa sadar, ada yang shalat di belakang Zaenal.

Sama-sama shalat sunnah sepertinya.

Setelah menyelesaikan shalatnya Zaenal sempat melirik.

“Barangkali ini kawannya Ahmad…”, gumamnya.

Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dengan Ahmad.

“Pak,” tiba2 anak muda yg shalat di belakangnya menegur.

“Iya Mas..?”
“Pak, Bapak kenal emangnya sama bapak Insinyur Haji Ahmad…?”

“Insinyur Haji Ahmad…?”
“Ya, insinyur Haji Ahmad…”

“Insinyur Haji Ahmad yang mana…?”
“Itu, yang barusan ngobrol sama Bapak…”

“Oh… Ahmad… Iya. Kenal. Kawan saya dulu di SMP.

Emangnya udah haji dia?”

“Dari dulu udah haji Pak. Dari sebelum beliau bangun ini masjid…”.
.
Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hatinya Zaenal… Dari dulu sudah haji… Dari sebelum beliau bangun masjid ini…
Anak muda ini kemudian menambahkan, “Beliau orang hebat Pak. Tawadhu’. Saya lah yg merbot asli masjid ini. Saya karyawannya beliau. Beliau yang bangun masjid ini Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau biayai sendiri pembangunan masjid indah ini, sebagai masjid transit mereka yg mau shalat. Bapak lihat hotel indah di sebelah sana? … Itu semua milik beliau… Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya, aneh. Yaitu senangnya menggantikan posisi saya. Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji saja dan azan…”.
Zaenal tertegun, entah apa yang ada di hati dan di pikiran Zaenal saat itu
.
*****
Ada pelajaran dari kisah pertemuan Zaenal dan Ahmad. Jika Ahmad itu adalah kita, mungkin begitu bertemu kawan lama yang sedang melihat kita membersihkan toilet, segera kita beritahu posisi kita yang sebenarnya.
.
Dan jika kemudian kawan lama kita ini menyangka kita merbot masjid, maka kita akan menyangkal dan kemudian menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah kawan kita bahwa kita inilah pewakaf dan yang membangun masjid ini.
Tapi kita bukan Haji Ahmad. Dan Haji Ahmad bukannya kita. Semoga ia selamat dari rusaknya nilai amal, sebab ia tetap tenang dan tidak risih dengan penilaian manusia. Haji Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa. Dan kemudian Allah yg memberitahu siapa dia sebenarnya…
.
*”Al mukhlishu, man yaktumu hasanaatihi kamaa yaktumu sayyi-aatihi”* Orang yang ikhlas itu adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya, seperti ia menyembunyikan keburukan-keburukan dirinya. [Ya’qub YahimaHullah, dalam kitab Tazkiyatun Nafs].
.
Jangan Lupa Klik -SHARE- Bagikan ke teman2 agar jadi renungan inspiratif buat teman2. ?

Renungan bulan haram bersama *gusmik brothers*

 

 

Bagikan

Hikmah Kejujuran

kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

PONPES TERPADU Ulul Abshor brosur-smp-anyar-depan


Seorang CEO bermaksud untuk Pensiun, dan ingin menyerahkan jabatan nya tersebut kepada salah Seorang Karyawan terbaiknya.

Untuk itu Ia memanggil Seluruh karyawannya, memberikan masing2 sebutir BENIH di tangannya dan berkata : ” Rawat, Pupuk, Siram dengan teratur Benih ini dan kembalilah 3 bulan dari sekarang dengan membawa Tanaman Yang tumbuh dari Benih ini” ” YANG TERBAIK, akan menjadi penggantiku sebagai CEO di Perusahaan ini.” Salah seorang karyawan, bernama Toni yg juga mendapat Benih tersebut, langsung pulang ke Rumah dan Merawat dg penuh disiplin Benih tanaman tsb. Setiap hari Benih itu ia Siram dengan air dan diberinya Pupuk. Setelah 3 bulan, di Kantor, semua orang saling membicarakan kehebatan Tanaman Mereka yg tumbuh dari Benih tsb. Ternyata Hanya Benih Tanaman Toni yang tanamanya tidak tumbuh sama sekali. Toni Merasa telah gagal. Setelah 3 bulan, seluruh Eksekutif menghadap CEO memperlihatkan hasil Benih tersebut. Toni berkata kepada istrinya bahwa ia tidak akan membawa Pot yang Kosong Karena Bibitnya busuk dan tidak bisa Tumbuh., Namun istrinya mendorong untuk tetap membawa Pot Kosong tsb apa adanya utk memenuhi janji kepada Sang CEO 3 bulan yang lalu. “Bawa saja Mas, meskipun Mas Gagal utk bisa menumbuhkan Benih tsb, paling tidak Mas Toni sdh menunjukan itikad baik sdh berusaha semaksimal mungkin merawatnya sesuai dengan Permintaan dan Arahan CEO tsb ” demikian kata Istrinya. “Baiklah ” Jawab Toni, meskipun dgn hati ciut karena merasa tidak bisa melaksanakan perintah sang CEO dgn sebaik2 nya. Masuk ruang meeting , Toni membawa pot kosong. Seluruh mata memandangnya kasihan. Ketika CEO masuk ruangan Ia memandang keindahan Seluruh Tanaman yang katanya Hasil dari Benih2 yg diberikan sang CEO 3 Bulan yg lalu itu, hingga akhirnya berhenti di depan Toni yang tertunduk malu. Sang CEO memintanya ke Depan & Toni disuruh menceritakan Secara Kronologis proses penanamannya kok sampai tidak bisa tumbuh…?? Ketika ia selesai cerita, CEO berkata dengan Antusias, “Beri tepuk tangan utk Toni , CEO kita Yang Baru “, Ia kemudian Menceritakan: “Semua benih Yang kuberikan kepada Kalian, sebelumnya Telah KUREBUS dgn AIR PANAS hingga mati & tidak mungkin tumbuh lagi. Jika Benih kalian dapat Tumbuh, berarti kalian telah Menukarnya & Berbohong padaku. Kecuali Toni, hanya dia yang JUJUR” MORAL STORY : Taburlah KEJUJURAN, karena dengan Menabur Kejujuran akan menuai Kepercayaan. Jangan pernah takut berbuat JUJUR. The Real Moral Story! Yg hebat itu Isterinya Toni- hanya perempuan hebatlah yg bisa memberi dorongan semangat suaminya utk selalu menjaga Integritasnya! Selamat Pagi.. Awali Hidup Bersih Dengan KEJUJURAN ???

Bagikan

? *Kisah Seorang Anak di Amsterdam**

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

brosur-smp-anyar

Setiap selesai sholat Jum’at setiap pekannya, seorang imam (masjid) dan anaknya (yang berumur 11 tahun) mempunyai jadwal membagikan buku–buku Islam, diantaranya buku ath-Thoriq ilal Jannah (Jalan Menuju Surga). Mereka membagikannya di daerah mereka, di pinggiran Kota Amsterdam.

Namun, tibalah suatu hari ketika kota tersebut diguyuri hujan yang sangat lebat dengan suhu yang sangat dingin. Sang anakpun mempersiapkan dirinya dengan memakai beberapa lapis pakaian demi mengurangi rasa dingin.

Setelah selesai mempersiapkan diri, ia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, aku telah siap.”

Ayahnya menjawab, “Siap untuk apa?”

Ia berkata, “Untuk membagikan buku (seperti biasanya).”
Sang ayahpun berucap, “Suhu sangat dingin di luar sana, belum lagi hujan lebat yang mengguyur.”

Sang anak menimpali dengan jawaban yang menakjubkan, “Akan tetapi, sungguh banyak orang yang berjalan menuju Neraka di luar sana, dibawah guyuran hujan.”

Sang ayah terhenyak dengan jawaban anaknya seraya berkata, “Namun, Ayah tidak akan keluar dengan cuaca seperti ini.” Akhirnya, anak tersebut meminta izin untuk keluar sendiri. Sang ayah berpikir sejenak, dan akhirnya memberikan izin.

Iapun mengambil beberapa buku dari ayahnya untuk dibagikan, dan berkata, “Terima kasih, wahai ayahku.”

Dibawah guyuran hujan yang cukup deras, ditemani rasa dingin yang menggigit, anak itu membawa buku-buku itu yang telah dibungkusnya dengan sekantong plastik ukuran sedang agar tidak basah terkena air hujan, lalu ia membagikan buku kepada setiap orang yang ditemui. Tidak hanya itu, beberapa rumahpun ia hampiri demi tersebarnya buku tersebut.

Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku di tangannya. Namun, sudah tidak ada orang yang lewat di lorong tersebut. Akhirnya, ia memilih untuk menghampiri sebuah rumah di seberang jalan untuk menyerahkan buku terakhir tersebut.

Sesampainya di depan rumah, ia pun memencet bel, tapi tidak ada respon. Ia ulangi beberapa kali, hasilnya tetap sama. Ketika hendak beranjak seperti ada yang menahan langkahnya, dan ia coba sekali lagi ditambah ketukan tangan kecilnya. Sebenarnya, ia juga tidak mengerti kenapa ia begitu penasaran dengan rumah tersebut. Pintupun terbuka perlahan, disertai munculnya sesosok nenek yang tampak sangat sedih.

Nenek berkata, “Ada yang bisa saya bantu, Nak?”

Si anak berkata (dengan mata yang berkilau dan senyuman yang menerangi dunia), “Saya minta maaf jika mengganggu. Akan tetapi, saya ingin menyampaikan bahwa Allah sangat mencintai dan memperhatikan Nyonya. Kemudian saya ingin menghadiahkan buku ini kepada Nyonya. Didalamnya, dijelaskan tentang Allah Ta’ala, kewajiban seorang hamba, dan beberapa cara agar dapat memperoleh keridhoannya.”

Satu pekan berlalu, seperti biasa sang imam memberikan ceramah di masjid. Seusai ceramah, ia mempersilahkan jama’ah untuk berkonsultasi.

Terdengar sayup-sayup, dari shaf perempuan, seorang perempuan tua berkata, “Tidak ada seorangpun yang mengenal saya disini, dan belum ada yang mengunjungiku sebelumnya. Satu pekan yang lalu, saya bukanlah seorang muslim, bahkan tidak pernah terbetik dalam pikiranku hal tersebut sedikitpun. Suamiku telah wafat, dan dia meninggalkanku sebatang kara di bumi ini.”

Dan iapun memulai ceritanya bertemu anak itu, “Ketika itu cuaca sangat dingin disertai hujan lebat, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Kesedihanku sangat mendalam, dan tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup. Akupun naik ke atas kursi, dan mengalungkan leherku dengan seutas tali yang sudah kutambatkan sebelumnya. Ketika hendak melompat, terdengar olehku suara bel. Aku terdiam sejenak dan berpikir, ‘Paling sebentar lagi, juga pergi.’

Namun suara bel dan ketukan pintu semakin kuat. Aku berkata dalam hati, ‘Siapa gerangan yang sudi mengunjungiku? Tidak akan ada yang mengetuk pintu rumahku.’

Kulepaskan tali yang sudah siap membantuku mengakhiri nyawaku, dan bergegas ke pintu. ketika pintu kubuka, aku melihat sesosok anak kecil dengan pandangan dan senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak mampu menggambarkan sosoknya kepada kalian. Perkataan lembutnya telah mengetuk hatiku yang mati hingga bangkit kembali.

Ia berkata, “Nyonya, saya datang untuk menyampaikan bahwa Allah Ta’ala sangat menyayangi dan memperhatikan nyonya,” lalu dia memberikan buku ini (buku Jalan Menuju Surga) kepadaku.

Malaikat kecil itu datang kepadaku secara tiba-tiba, dan menghilang dibalik guyuran hujan hari itu juga secara tiba-tiba. Setelah menutup pintu, aku langsung membaca buku dari malaikat kecilku itu sampai selesai. Seketika, kusingkirkan tali dan kursi yang telah menungguku, karena aku tidak akan membutuhkannya lagi.

Sekarang, lihatlah aku. Diriku sangat bahagia, karena aku telah mengenal Tuhan-ku yang sesungguhnya. Akupun sengaja mendatangi kalian berdasarkan alamat yang tertera di buku tersebut untuk berterima kasih kepada kalian yang telah mengirimkan malaikat kecilku pada waktu yang tepat, hingga aku terbebas dari kekalnya api Neraka.”

Air mata semua orang mengalir tanpa terbendung. Masjid bergemuruh dengan isak tangis dan pekikan takbir, “Allahu akbar.”

Sang imam (ayah dari anak itu) beranjak menuju tempat dimana malaikat kecil itu duduk, dan memeluknya erat, dan tangisnyapun pecah tak terbendung di hadapan para jama’ah.

Sungguh mengharukan. Mungkin tidak ada seorang ayahpun yang tidak bangga terhadap anaknya seperti yang dirasakan imam tersebut.

(Judul asli: قصة رائعة جدا ومعبرة ومؤثرة | Penerjemah: Shiddiq Al-Bonjowiy –jazāhullāhu khairan wa waffaqahu–)

Mari kita sebarkan kebaikan! Kita tidak pernah tahu, berapa banyak orang yang mendapatkan hidayah dengan sedikit langkah yg kita lakukan.
_______________

===

semoga bermanfaat

Bagikan