Amalan Pada 10 Hari Pertama Di Bulan Dzulhijjah

Tahukah kita bahwa 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah adalah hari-hari terbaik yang diciptakan oleh Allah seperti dalam firman-Nya :
وَلَيَالٍ عَشْرٍ “Dan demi malam yang sepuluh.” (Q.S. Al Fajr : 2)
yaitu sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab ( Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/651) dan Latha-iful Ma’aarif hal. 20) serta menjadi pendapat mayoritas ulama.

idul adha

buletin

buletin2

Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam bersabda :

((رواه البخاري مَا مِنْ اَياَّم الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ اْلأَياَّم الْعَشْرَةِ
“Tidak ada hari yang amal sholih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah dari hari-hari yang sepuluh ini.” (HR Al-Bukhari).

Amal yang harus kita lakukan adalah sebagai berikut :
1) Memperbanyak amal sholih secara mutlak, berdasarkan hadits berikut ini :
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ.

“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal sholih lebih dicintai oleh Allah melebihisepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.” (HSR al-Bukhari (no. 926), Abu Dawud (no. 2438), at-Tirmidzi (no. 757) dan Ibnu Majah (no. 1727), dan ini lafazh Abu Dawud.)

Berkata al Hafidz Imam Ibnu Rajab al-Hambali : Sungguh hadits ini menunjukkan dilipatgandakan seluruh amal sholih pada 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah.

2) Memperbanyak Dzikir
Disunnahkan untuk membaca tahmid, takbir, tahlil dan tasbih dengan mengeraskan bacaannya ketika di masjid, rumah, jalan-jalan dan setiap tempat yang dibolehkan untuk berdzikir kepada Allah. Ini juga merupakan bentuk syiar ibadah, serta pengingat kepada muslim lain agar di bulan Dzulhijjah untuk mengagungkan Allah Ta’ala.
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”
(QS. Al Hajj: 28)

Menurut jumhur ‘ulama, makna kalimat “al ayyamul ma’lumat” adalah 10 hari pertama bulan Dzuhijjah. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
“Tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah daripada amalan yang dilakukan pada hari-hari yang sepuluh ini, maka perbanyaklah membaca tahlil, takbir dan tahmid.’ (H.R. Ahmad)

Kini amalan ini seperti asing bagi kita, sangat jarang kita mendengar takbir kecuali sebagian kecil.
Imam Bukhari dalam Shahihnya mengatakan:
“Umar radhiallahu ‘anhu pernah bertakbir di dalam khutbahnya di Mina. Kemudian takbir tersebut didengar oleh orang-orang yang berada di masjid. Maka mereka pun bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang di pasar, sehingga Mina dipenuhi oleh gema takbir. Ibnu Umar pernah bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut setiap selesai melakukan sholat ketika di atas ranjang tempat tidurnya, di dalam rumah, di majelis dan ketika berjalan. Maimunah radhiyallahu ‘anha selalu bertakbir pada hari-hari Nahr (‘Idhul Adha), sedangkan para wanita bertakbir di belakang Abban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam-malam tasyriq bersama laki-laki di masjid.”

Syaikh Al-Albani berkata, “Dalam hadits ini ada dalil disyari’atkannya melakukan takbir dengan suara jahr (keras) di jalanan ketika menuju mushalla sebagaimana yang biasa dilakukan kaum muslimin. Meskipun banyak dari mereka mulai menganggap remeh sunnah ini hingga hampir-hampir sunnah ini sekadar menjadi berita. Termasuk yang baik untuk disebutkan dalam kesempatan ini adalah bahwa mengeraskan takbir di sini tidak disyari’atkan berkumpul atas satu suara (menyuarakan takbir secara serempak dengan dipimpin seseorang) sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang.”

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentari riwayat-riwayat di atas, “Atsar-atsar ini menunjukkan adanya takbir pada hari-hari tersebut ketika selesai melakukan sholat ‘Id dan juga dalam keadaan-keadaan yang lain. Para Ulama berselisih pendapat tentang saat-saat dilakukannya takbir, di antara mereka ada yang berpendapat bahwa takbiran itu hanya dilakukan ketika sholat saja. Ada pula yang mengkhususkan pada shalat-shalat yang diwajibkan saja tanpa sholat-sholat nafilah (sholat sunnah), dilaksanakan oleh laki-laki tanpa wanita, dengan berjama’ah tidak perorangan, orang-orang yang muqim tanpa orang yang musafir, orang-orang yang tinggal di kota saja tanpa orang-orang yang tinggal di desa. Dan dzahir pendapat Al-Bukhari mencakup seluruh keadaan-keadaaan itu dan terbukti atsar-atsar yang telah beliau sebutkan mendukung pendapatnya tersebut. (Fiqhus Sunnah jilid 1)

كَبِّرُوْا… اَلله أَكْبَرُ، اَلله أَكْبَرُ، اَلله أَكْبَرُ، كَبِيْرًا… رواه عبد الرق بسند الصحيح

“Bertakbirlah kamu: Allahu Akbar (Allah Maha Besar), Allahu Akbar, Allahu Akbar, Kabiira.” (Shohih, HR Imam Abdur Razzaq dari Salman Radiyallahu ‘anhu)
اَلله أَكْبَرُ، اَلله أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اَلله أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
((رواه ابن أبي شيبة و اسند الصحيح
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang benar selain Allah, Allahu Maha Besar, Allah Maha Besar dan untuk Allah-lah segala pujian. (HR Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Mas’ud 2/168, Shohih)

3) Puasa 9 hari di bulan Dzulhijjah
Dari Hunaidah bin Khalid Al Khoza’i dari istrinya, dari sebagian istri-istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :
“Dulu Nabi saw berpuasa pada sembilan hari pertama bulan dzulhijjah, hari ‘Asyura, 3 hari tiap bulan dan hari senin pertama pada setiap bulan dan di dua kamis.” (An-Nasai dan Abu Dawud)

Namun hadits ini diperselisihkan pengamalannya oleh para ulama:
1. Imam nawawi berpendapat bahwa hadist itu menerangkan untuk berpuasa 9 hari pertama di bulan Dzulhijjah
2. Syeh Albani berpendapat bahwa hadist ini menerangkan untuk berpuasa hanya pada tanggal 9 Dzulhijjah (Puasa Arofah)

4) Puasa Arafah
Selain memperbanyak dzikir dan amal shalih lainnya, maka kita juga disunnahkan untuk berpuasa, khususnya pada hari Arafah (9 Dzulhijjah). Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab:
أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
“Aku berharap kepada Allah puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu dan tahun berikutnya.” HSR Muslim (no. 1162).
Beliau juga bersabda :

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba-hamba dari api neraka, lebih banyak daripada di hari Arafah.” (HR. Muslim)

Subhanallah, begitu besar keutamaan dan pahala yang diberikan oleh Allah. Tidakkah kita melaksanakannya?
Adapun bagi para jama’ah haji, mereka tidak diperbolehkan untuk berpuasa, karena pada hari itu mereka harus melakukan wukuf. Sehingga mereka memerlukan cukup kekuatan untuk memperbanyak dzikir dan doa pada saat wukuf di Arafah. Sehingga pada hari tersebut kita semua berharap untuk mendapatkan keutamaan yang sangat besar serta ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak puasa pada hari itu ketika melakukan ibadah haji, sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1887) dan Muslim (no. 123). Lihat kitab Zaadul Ma’ad (2/73).

5) Mengikuti sholat ‘Id di lapangan
Setelah kita melaksanakan puasa Arafah, maka keesokan harinya (tanggal 10 Dzulhijjah) kita disyari’atkan untuk melaksanakan shalat ‘Id. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
Mandi dan mengenakan wewangian
Memakai wewangian hanya dikhususkan bagi laki-laki karena ada larangan bagi seorang wanita memakai wewangian ketika keluar rumah dan memakai pakaian yang paling bagus tanpa berlebih-lebihan. Sedangkan wanita disyariatkan baginya keluar menuju tempat shalat ‘Id tanpa tabarruj, tanpa memakai wewangian dan senantiasa menjaga adab-adab yang sesuai syariat Islam.
Keluar menuju tanah lapang
Dari Abu Said Al Khudri Radliallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar menuju mushalla (tanah lapang) pada hari Idul Fitri dan Idul Adha…” (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim dan An-Nasaa’i )
Ibnu Qudamah di dalam Al-Mughni menyatakan :
“Sunnah untuk melaksanakan shalat ‘Id di tanah lapang, Ali Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan yang demikian dan dianggap baik oleh Al-Auza’i dan Ashabur Ra’yi. Inilah ucapan Ibnul Mundzir.”
Shalat ‘Id tanpa azan dan iqamah
Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku pernah shalat dua hari raya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari sekali, dua kali, tanpa dikumandangkan azan dan tanpa iqamah” (Riwayat Muslim, Abu Daud dan At-Tirmidzi)
Ibnu Abbas dan Jabir Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Tidak pernah dikumandangkan adzan (untuk shalat ‘Id) pada hari Idul Fithri dan Idul Adha” (Riwayat Muslim, Abu Daud dan At-Tirmidzi )
Tidak ada shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat ‘Id
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at pada hari Idul Fithri, beliau tidak shalat sebelumnya dan tidak pula sesudahnya….” (Hadits Riwayat Al-Bukhari, At-Tirmidzi 537, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)
Berkata Ibnul Qayyim Rahimahullah, “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah melakukan shalat (sunah) ketika tiba di tanah lapang sebelum shalat ‘Id dan tidak pula sesudahnya”.

6) Berkurban pada hari Id dan tasyriq
Menyembelih kurban adalah amalan yang sering dilakukan kaum muslimin pada Idul Adha. Dan disunnahkan bagi orang yang menyembelih untuk melakukannya di tanah lapang yang digunakan untuk sholat ‘Id.
Sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadits shahih (yang artinya) bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan dzabh dan nahr (dzabh adalah menyembelih sapi dan kambing dan nahr adalah menyembelih unta), di tanah lapang (HR Al-Bukhari, An Nasa’i, Ibnu Majah dan Abu Dawud).
Do’a menyembelih hewan kurban
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud, doa yang dibaca Nabi Muhammad ketika hendak menyembelih hewan kurban adalah:
باِسْمِ اللهِ ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ
Dengan nama Allah, ya Allah terimalah (kurban) dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta dari ummat Muhammad.

Dalam suatu riwayat dari Anas yang semisal dengan riwayat di atas, akan tetapi pada akhirnya disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan :
بِاسْمِ اللهِ ، وَ اللهُ أَكْبَرُ
Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar. (HR Muslim)
Dalam riwayat Baihaqi dengan memakai tambahan:
اَللَّهُمَّ مِنْكَ وَ لَكَ
“Ya Allah, darimu dan untukmu.” (HR Baihaqi)

Waktu menyembelih
Hewan kurban disembelih setelah selesai shalat ‘Id. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perkara yang pertama kita mulai pada hari ini adalah kita shalat kemudian menyembelih. Maka barangsiapa yang melakukan hal itu, dia telah mendapatkan sunnah kami. Dan barangsiapa yang telah menyembelih (sebelum shalat), maka sesungguhnya sembelihan itu adalah daging yang diperuntukkan bagi keluarganya, bukan termasuk hewan kurban sedikitpun.” (HR. Muslim)

Diperbolehkan untuk mengakhirkan penyembelihan, yaitu menyembelih pada hari kedua dan ketiga setelah hari ‘Id. Sebagaimana diterangkan dalam hadits:
“Dari Nabi shallallahu alai wa sallam bahwasanya beliau bersabda : setiap hari tasyriq ada sembelihan.” (HR. Ahmad)

Larangan Memotong Rambut dan Kuku
Barangsiapa yang hendak berkurban, tidak diperbolehkan bagi dia memotong rambut dan kukunya sedikitpun, setelah masuk tanggal 1 Dzulhijjah hingga shalat ‘Id.
Dari Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian hendak menyembelih, maka hendaknya dia menahan (yakni tidak memotong) rambut dan kukunya.” (HR. Muslim)
Imam Nawawi berkata: “Maksud larangan tersebut adalah dilarang memotong kuku dengan gunting dan semacamnya, memotong rambut; baik gundul, memendekkan rambut, mencabutnya, membakarnya atau selain itu. Dan termasuk dalam hal ini, memotong bulu ketiak, kumis, kemaluan dan bulu lainnya yang ada di badan.

Berkata Ibnu Qudamah: “Siapa yang melanggar larangan tersebut hendaknya minta ampun kepada Allah dan tidak ada fidyah (tebusan) baginya, baik dilakukan sengaja atau lupa.”

Hewan kurban tidak cacat
Termasuk tuntunan Nabi shallalahu alaihi wa sallam yaitu memilih hewan yang selamat dari cacat dan memilih yang terbaik. Beliau melarang menyembelih hewan yang terputus telinganya, terpecah tanduknya, matanya pece, terputus bagian depan atau belakang telinganya, terbelah atau terkoyak telinganya. Adapun gibas yang dikebiri boleh untuk disembelih.

Cara menyembelih
Menyembelih dengan pisau yang tajam, mengucapkan bismillah wallahu akbar, membaringkan sembelihan pada sisi kirinya karena yang demikian mudah bagi si penyembelih memegang pisau dengan tangan kanannya, dan menahan lehernya dengan tangan kiri.

“Dari Anas bin Malik, dia berkata: Bahwasanya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menyembelih dua ekor gibasnya yang bagus dan bertanduk. Beliau mengucapkan basmallah dan takbir dan meletakkan kakinya di samping lehernya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya)
Dan disunnahkan bagi yang berkurban, memotong sendiri sembelihannya dan dibolehkan mewakilkan kepada orang lain.

Subhanallah, begitu besar rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan kesempatan bagi orang yang belum mampu menjalankan ibadah haji untuk mendapatkan keutamaan yang besar pula, yaitu beramal shalih pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Sehingga sudah semestinya kaum muslimin memanfaatkan sepuluh hari pertama ini dengan berbagai amalan ibadah, seperti berdoa, dzikir, sedekah, dan sebagainya. Sungguh tak pantaslah kita menjadi hamba yang tidak bersyukur.
Semoga pemaparan ini dapat memberikan manfaat dan pencerahan kepada kita semua. Wallahu A’lam.

 

Oleh : Ust. Kastori, S.Pd. (Pengasuh Ponpes. Terpadu Ulul Abshor, Banyumanik, Semarang)

Menerima & Menyalurkan Hewan Qurban

“Nabi Shalallahu alaihi wa sallam berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk.  Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. [Muttafaq ‘Alaihi]

idul adha

Segala puji bagi Allah, Rabb sekalian alam, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada penghujung Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam., keluarganya, shahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa komitmen mengikuti mereka sampai yaumul qiyamah.

Bulan Dzulhijjah semakin dekat. Bulan dimana kaum muslimin melaksanakan ibadah haji. Bulan dimana tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari pertama bulan (Dzulhijjah) ini, serta amal ibadah lainnya termasuk di dalamnya berqurban. Untuk itu kami, Panitia Idul Adha 1437 H Pesantren Terpadu Ulul Abshor memberitahukan bahwa kami siap menerima, mengelola dan menyalurkan hewan qurban dari Bapak / Ibu dengan memperhatikan sunnah Rosulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam.

Bagi Bapak / Ibu yang hendak menyalurkan hewan Qurban kepada kami, dimohon untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Pengadaan hewan Qurban dilakukan sendiri atau jika mengalami kesulitan, panitia bisa membantu.
  2. Menyerahkan infaq pengelolaan Rp 100.000,- (untuk kambing) dan Rp 700.000,- (untuk sapi).
  3. Penyerahan hewan Qurban dimohon dilakukan pada H-1 (malam penyembelihan)
  4. Disunnahkan penyembelihan hewan Qurban dilakukan sendiri, setidaknya turut menyaksikan.
  5. Untuk hal-hal yang kurang jelas tentang penyaluran hewan Qurban, bisa menghubungi Pak Suharno (085647965681) / Pak Zaenal (081902181977)

Demikian surat ini kami sampaikan, semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala menerima amal sholih kita. Atas perhatian dan partisipasi Bapak/Ibu kami ucapkan Jazakumullahu Khoiron Katsir.

Semarang, 19 Dzulqo’dah 1437 H

22 Agustus 2016

Mengetahui,

Ponpes Terpadu Ulul Abshor                                                     Ketua Pelaksana

 

Drs. Kastori                                                                                M. Agus Zaenal Arifin.

SAHABAT SETIA HINGGA SURGA

Bismillaah……….

Di tengah keterasingan, aku mencoba memaknai persahabatan dan di kala kesulitan menghimpit aku berusaha merenungkan tafsir Kesetiaan…

14045703_822651257865877_631464731320740263_n

Di tengah gangguan bersosialisasi aku berjuang mengurai benang kusut kejujuran dalam pergaulan…

Memang benar kata para ulama,, sahabat ada empat:

Pertama, teman laksana makanan yang dibutuhkan untuk kehidupan.

Kedua, teman laksana obat yang dibutuhkan saat kesakitan.

Ketiga, teman laksana racun amat bahaya bila ditelan.

Keempat, teman laksana virus senantiasa menularkan penyakit saat berdampingan.

Para ulama salaf, waspadalah bersahabat dengan banyak orang, karena mereka pada umumnya, tidak mudah mentolelir kekurangan, kurang bisa memaafkan kesalahan, mudah mengumbar aib, mudah marah dalam urusan sepele, dan gampang hasud dengan kenikmatan besar maupun kecil.

Jangan kamu jadikan seseorang sebagai sahabat sebelum Anda mengujinya dengan lamanya pergaulan, amanah dalam masalah uang, membantumu dalam kesulitan, dan setia dalam bepergian.

Ribuan orang pernah bertegur sapa dan berpapasan denganku, ada yang masih aku ingat namun banyak yang terlupa moga semuanya bisa jumpa di Surga.

Banyak sekali kebaikan yang aku petik dan hikmat yang aku dapatkan dari harga sebuah persahabatan…

Atha berkata, carilah temanmu saat menghilang, barangkali dia sedang sakit perlu ditengok, atau sedang menghadapi kesulitan perlu bantuan atau sedang lupa persahabatan perlu diingatkan.

Kebaikan dan perhatian mereka terlalu banyak dihitung apalagi ditabung, ada yang terekam indah dalam kenangan dan ada yang terlupakan bahkan terabaikan semoga Allah memaafkan.

Betapa besarnya pahala persahabatan yang ditegakkan diatas keimanan dan keadilan hingga Allah menjamin naungan teduh di hari pengadilan…..

Bahkan Allah berfirman dalam hadits qudsi, manakah orang-orang yang berkasih sayang karenaku, demi izzahku Aku akan naungi dengan naungan Arasyku…

Dan manusia dihimpun pada hari Kiamat bersama orang yang dicintainya, di mana pernah seorang Badui datang kepada Rasulullah dan bertanya, Kapankah Kiamat terjadi?

Beliau menjawab, Apakah yang Anda persiapkan untuknya?

Maka sang Badui pun menjawab,

Cinta Allah dan cinta RasulNya.

Maka beliau menjawab, Engkau akan dihimpun bersama orang yang kamu cintai.

Anas bin Malik menangis setelah mendengar jawaban nabi karena kegembiraan sehingga berkata, Aku mencintai Rasulullah, Abu Bakar, Umar dan Utsman meski amalanku tidak bisa menyamai amalan mereka, aku hanya berharap bisa dikumpulkan bersama mereka di hari Kiamat.

Hak bersahabatan cukup banyak yang antara lain,

1. Jagalah nama baik dan kehormatan sahabatmu.

2. Nasehati secara tulus di kesepian akan kesalahan dan kesesatannya.

3. Bantulah hajat hidupnya baik berupa materi, tenaga, pikiran dan ilmu yang Anda miliki.

4. Doakan ketika bersin dan mengucapkan hamdalah, jawablah salamnya, tengoklah saat sakit, antarkan jenazahnya saat meninggalnya dan berilah nasihat dengan tulus saat minta nasihat serta kabulkan undangannya.

5. Jagalah kehormatan keluarganya dan panggillah dengan nama indahnya.

6. Doakan dengan kebaikan dan Hidayah saat Anda sedang berjauhan.

Said bin Ash berkata, temanku punya hak tiga atasku, kalau dia mendatangiku aku sambut dengan hangat, bila dia berbicara aku dengar dengan menghadapkan muka dan bila dia duduk aku luaskan majelisnya.

Sementara sahabat setia adalah orang yang bila kamu pandang mengingatkan Allah, ucapannya mendorong kepada kebaikan dan tingkah lakunya memotivasi kepada keakhiratan.

____________________

[ Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin ]

Hakekat Kemerdekaan

Ust. Kastori, S.Pd. (Pengasuh Ponpes. Terpadu Ulul Abshor)

الحر هو الواقع في لزوم الشريعة الشاملة ظاهرة وباطنة من الاحرار هم الذين اسلمواامورهم الى الله وحده

“Hakikat kemerdekaan dalam agama Islam adalah selalu berada pada jalan syariat secara Syamilah (menyeluruh) baik secara dhohir maupun  batin. Dan orang yang merdeka adalah orang  yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah yang maha esa.”

14063856_644566362374671_8073523553894882260_n

Kemerdekaan merupakan salah satu karunia besar dari Allah subhaanahu wa ta’aala kepada hamba-hambaNya. Ia merupakan ni’mat urutan kedua sesudah ni’mat kehidupan. Namun ia tetap berada pada satu urutan di bawah ni’mat termahal, yakni ni’mat keimanan. Sebagaimana ni’mat-ni’mat lainnya Allah subhaanahu wa ta’aala memerintahkan kita untuk mensyukurinya. Sebab mensyukuri ni’mat akan menghasilkan pelipatgandaan ni’mat itu sendiri. Sedangkan kufur ni’mat akan menyebabkan ni’mat itu berubah menjadi sumber bencana bahkan azab.

الشكر في الغنى اصعب من الصبر في المسكين

“Syukur dalam Kekayaan itu lebih susah daripada sabar dalam kemiskinan”. Sebuah rumus kehidupan yang akan menjadikan kita bisa menghargai nikmat yang telah Allah titipkan kepada kita. Syukur dalam kekayaan itu lebih susah karena kebanyakan orang mengira bahwa kekayaan yang didapat merupakan hasil jerih payahnya. Padahal semua kekayaan yang diperoleh lewat kerja keras merupaka titipan dari Allah. Kekeyaan juga merupakan ujian, jika kita terlena akan kekayaan maka akan menjadi bencana.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim ayat 7)

Sebaliknya juga kemiskinan juga ujian dari Allah, hanya saja dengan kemiskinan akan mendekatkan kita kepada Allah. Tak heran jika Rosulullah diantara doanya meminta agar dijadikan orang miskin

Urutan nikmat-nikmat Allah

  1. Nikmat Hidup.

Nikmat ini Allah berikan kepada semua makhluknya tanpa terkecuali. Seperti kambing yang diberikan nikmat hidup sehingga bisa makan, minum, beranak dsb.

  1. Nikmat Merdeka

Nikmat jenis ini khusus diberikan kepada manusia. Kambing diberikan nikmat hidup tapi tidak diberikan nikmat merdeka sehingga gerak hidupnya dibatasi. Jika waktunya malam kambing dibatasi hidupnya di dalam kandang, jika idul qurban hidupnya juga dibatasi dengan menjadi hewan kurban.

  1. Nikmat Iman dan Islam

Inilah nikmat terbesar yang hanya diberikan kepada orang-orang yang Allah kehendaki. Jika kita diberikan nikmat terbesar ini, maka jangan kita sia-siakan karena yang akan mengahantarkan kita kelak kepada kebahagiaan abadi adalah Iman dan Islam.

 

Semoga Allah selalu menjaga Iman dan Islam kita selalu melekat di hati, dan kita selalu dimudahkan Allah dalam merealisasikan atau mengaplikasikan Iman dan Islam ini dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kita menjadi manusia yang benar-benar merdeka.

 

Semarang, 20 Agustus 2016

Kajian Sabtu Pagi