Arsip Kategori: Artikel

Tanda-Tanda Kiamat Kecil yang Terjadi di Indonesia

kajianKajian Rutin hari Senin, 22 Oktober 2018 yang dibimbing oleh Ustadz Drs. Kastori mengetengahkan topik pembahasan tentang tanda-tanda kiamat kecil yang terjadi di Indonesia. Topik ini diambil karena akhir-akhir ini sedang banyak terjadi fenomena bencana di negeri tercinta ini. Melalui topik kajian ini, pembicara tidak ingin mengklaim maupun menarik kesimpulan bahwa bencana-bencana yang terjadi di negara kita sebagai azab dari Allah Subhanahu Wata’ala tetapi beliau hanya ingin menyampaikan beberapa keterangan dari kitab-kitab mu’tamad yang berkaitan dengan fenomena bencana. Berikut rangkuman materi kajian tersebut.

Saat ini kita telah memasuki fase akhir zaman. Bahkan diutusnya Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam sebagai Nabi dan Rosul terakhir juga merupakan salah satu alamat akhir zaman. Rosulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam telah menyampaikan banyaknya fitnah atau kiamat kecil yang terjadi  menjelang datangnya kiamat besar melalui hadist-hadist Beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Namun karena terbatasnya waktu kajian, hanya beberapa hal saja yang disampaikan.  Kiamat sendiri dalam bahasa Arab juga disebut dengan Assa’ah karena baik kiamat kecil maupun besar terjadi secara tiba-tiba. Beberapa tanda itu di antaranya sebagai berikut.

1. Munculnya beberapa fitnah akhir zaman.

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْقَائِمِ وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنْ السَّاعِي فَكَسِّرُوا قِسِيَّكُمْ وَقَطِّعُوا أَوْتَارَكُمْ وَاضْرِبُوا سُيُوفَكُمْ بِالْحِجَارَةِ فَإِنْ دُخِلَ يَعْنِي عَلَى أَحَدٍ مِنْكُمْ فَلْيَكُنْ كَخَيْرِ ابْنَيْ آدَمَ

“Sesungguhnya, menjelang terjadinya Kiamat ada fitnah-fitnah seperti sepotong malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, tetapi pada sore hari ia menjadi kafir, sebaliknya pada sore hari seseorang dalam keadaan beriman, namun dipagi hari ia dalam keadaan kafir. Orang yang duduk pada masa itu lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berjalan cepat. Maka, patahkan busur kalian, putus-putuslah tali kalian, dan pukullah pedang kalian dengan batu, jika salah seorang dari kalian kedatangan fitnah-fitnah ini, hendaklah ia bersikap seperti anak terbaik di antara dua anak Adam (yakni bersikap seperti Habil, jangan seperti Qabil–pent).”  (HR. Ahmad)

Dengan banyaknya fitnah yang sudah terjadi di lingkungan kita saat ini, maka sebaiknya kita bisa menjaga diri dengan tidak mengikuti kebiasaan dari kebanyakan orang yang tidak sesuai dengan tuntunan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Hal ini disebabkan karena sendi-sendi kehidupan masyarakat dunia sudah dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan orang-orang kafir.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ﴿١١٦﴾إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persanggkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah mengira-ngira saja. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am/6:116-117)

2. Munculnya Nabi-Nabi Palsu

فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ وَدَجَّالُونَ سَبْعَةٌ وَعِشْرُونَ، مِنْهُمْ أَرْبَعُ نِسْوَةٍ وَإِنِّي خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي
“Di tengah umatku ada para pendusta, pembohong berjumlah 27. Empat dari mereka adalah wanita. Aku adalah penutup para Nabi, tiada nabi setelahku.” (HR. Ahmad)
Di Indonesia pernah muncul beberapa orang yang mengaku sebagai Nabi. Di Indonesia sudah ada setidaknya 10 orang yang pernah mengaku sebagai nabi. Di antaranya yang paling terkenal ialah Lia Eden dan Ahmad Musaddeq.
3. Terangkatnya Ilmu dan Tetapnya Kebodohan

عن انس قا ل قا ل رسٯ ل الله صلى الله عليه  سلم ان اشراط السعة ان يرفع العلم ٯ يثبت الجھل ٯ يشرب الخمر ٯ يظھر الزنا

“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tetapnya kebodohan, merebaknya minuman keras serta merajalelanya perzinahan.” (HR. Bukhori)

Kondisi umat Islam di Indonesia khususnya sampai dengan saat ini sangat jauh dari ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mudah dipengaruhi, dibodohi dan dikuasai oleh kaum kafir dalam segala aspek.

4. Disia-siakannya Amanah

إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أَوْ قَالَ مَا إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا أَسْنَدَ الْأَمْرَ غَيْرُ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

“Jika amanah telah disia-siakan maka tunggulah qiyamat”. Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu bertanya, “Bagaimana tersia-siakannya amanah wahai Rosulullah ?” Beliau menjawab, “Jika sebuah perkara disandarkan/diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah qiyamat”

Maka dalam memilih seorang pemimpin kita harus benar-benar mengenal calon pemimpin kita.

 kajian-2kajian-3

Bagikan

Pendidikan Islam Sebagai Sebuah Solusi

Ustadzuna Drs. Kastori memiliki karya tulis berupa buku yang berjudul “Surat Sakti Buat Guruku Tersayang”. Dalam bukunya, beliau ingin menyampaikan pesan-pesan moral dan visi misi bagi para pendidik, orang tua serta aktivis yang peduli dan konsen terhadap dunia pendidikan. Melalui bukunya, beliau juga memaparkan secara rinci 25 kesalahan fatal yang terdapat dalam dunia pendidikan. Oleh karena pemikiran beliau dirasa penting untuk dibagikan secara luas sebagai referensi dalam membangun pendidikan umat, maka isi dari buku tersebut kami posting melalui website ini secara bertahap dimulai dari BAB I dengan judul Pendidikan Islam Sebuah Solusi.

1. Pendahuluan

Dengan menyebut Asma Allah, Tuhan petala langit dan bumi, jika Allah menghendaki sesuatu pasti terjadi dan jika Allah tidak menghendaki sesuatu pasti tidak akan terjadi.

Salah satu kelebihan Islam dibanding sistem hidup yang lain adalah perhatiannya yang sangat besar terhadap pembangunan peradaban ummat. Islam menuntut setiap ummatnya untuk menjadi kontributor peradaban manusia. Untuk itu Allah SWT telah melengkapi manusia dengan perangkat-perangkat yang mampu menghantarkannya menjadi “manusia-manusia beradab”.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas bahwa ummat yang pertama kali paling beradab di permukaan bumi adalah ummat yang dibangun oleh Rosulullah SAW di Madinah. Peradaban tersebut dibimbing di atas nilai-nilai fitrah kemanusian. Lahirnya piagam Madinah sebagai tatanan masyarakat kala itu telah diakui oleh para ahli tatanegara sebagai bentuk ikatan kenegaraan modern yang pertama di dunia. Di sinilah terbentuk kerangka filosofis “Paradigma masyarakat madani/civil society”, yang berakar dari bahasa arab mujtama Madani. Mujtama berarti Masyarakat sedangkan Madani berasal dari kata Madinah yang berati kota, juga bisa berasal dari kata madaniyyah yang berarti peradaban.

Masyarakat Madani sebagaimana yang telah berhasil dibentuk oleh Rosulullah tidak mungkin terwujud kecuali ditopang oleh SDM-SDM yang handal yang dibangun oleh Baginda Nabi Muhammad SAW melalui sistem pendidikan Robbani. Oleh karena itu Islam meletakkan pendidikan sebagai asas dan prioritas utama dalam membangun tatanan ummat.

Salah satu bukti otentik pentingnya term pendidikan bagi ummat manusia adalah dijadikannya lima ayat surat Al Alaq sebagai pilihan ayat pertama yang diturunkan oleh Allah SWT :al-alaq-1-5

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qolam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Demikianlah Al Qur’an dengan sangat jelas memberikan taujih (nasihat) kepada kita betapa pentingnya kedudukan pendidikan dalam kehidupan ini. Pendidikan memang bukan segala-segalanya namun segalanya bermula dari pendidikan. Bahkan secara ekstrim, kita dapat mengatakan bahwa tujuan Al Qur’an diturunkan adalah untuk melakukan proses pendidikan.

Dunia pendidikan kita hampir mirip dengan kisah “Kidlir” yang dengan terpaksa melubangi perahu yang ditumpangi walaupun Nabi Musa As menggerutu. Eksistensi pendidikan Islam saat ini justru lebih parah lagi karena rute, arah, dan dermaganya tidak jelas. Perahu pendidikan Islam hanya berputar-putar di atas pusaran arus deras ideologi sekuler yang setiap saat siap menyeret dan menenggelamkannya.

Kita memang sangat sedih, bingung, lelah dan kesal melihat fenomena ini. Kita harus sadar bahwa semua itu merupakan akibat ulah kita sendiri. Menghadapi hal ini tidak ada jalan lain bagi kita kecuali ikhtiar mencari jalan keluar, dengan merekonstruksi keping-keping pendidikan yang masih bisa kita manfaatkan.

Kita kadang heran melihat betapa banyak saudara kita yang terlibat dalam dunia pendidikan belum sadar, bahkan tidak memiliki sensitivitas terhadap kebrobokan dunianya. Kita harus jujur dan adil bahwa jeleknya sistem pendidikan kita tidak bisa terlepas dari rapuhnya sistem yang ada. Bagi para pelaku pendidikan yang Robbani, ia harus lebih sadar bahwa sesungguhnya pendidikan adalah poros, hati dan jantung ummat, artinya kebrobokan sistem hidup kita berasal dari kebrobokan sistem pendidikan yang ada. Tepatlah apa yang dikatakan oleh pendidikan di atas bahwa “pendidikan bukanlah segala-galanya namun segalanya bermula dari pendidikan”. (Bersambung…)

Bagikan

LEMAH LEMBUTLAH DALAM BERTUTUR KATA

psb-webbrosur-a4-beasiswa-psb-april-2018

Segala puji bagi Allah, Rabb yang berhak disembah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Semakin maju zaman, semakin manusia menjauh dari akhlaq yang mulia. Perangai jahiliyah dan kekasaran masih meliputi sebagian kaum muslimin. Padahal Islam mencontohkan agar umatnya berakhlaq mulia, di antaranya adalah dengan bertutur kata yang baik. Akhlaq ini semakin membuat orang tertarik pada Islam dan dapat dengan mudah menerima ajakan. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita perangai yang mulia ini.

Perintah Allah untuk Berlaku Lemah Lembut Allah Ta’ala berfirman,

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. ” (QS. Al Hijr: 88).

Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengatakan, “’Berendah dirilah‘ yang dimaksud dalam ayat ini hanya untuk mengungkapkan agar seseorang berlaku lemah lembut dan tawadhu’ (rendah diri).”1 Jadi sebenarnya ayat ini berlaku umum untuk setiap perkataan dan perbuatan, yaitu kita diperintahkan untuk berlaku lemah lembut. Ayat ini sama maknanya dengan firman Allah Ta’ala,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ الله لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ القلب لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

“ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159). Yang dimaksud dengan bersikap keras di sini adalah bertutur kata kasar.2 Dengan sikap seperti ini malah membuat orang lain lari dari kita.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Berlaku lemah lembut inilah akhlaq Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang di mana beliau diutus dengan membawa akhlaq yang mulia ini.”3

Keutamaan Bertutur Kata yang Baik

Pertama: Sebab Mendapatkan Ampunan dan Sebab Masuk Surga Dari Abu Syuraih, ia berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمِلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ

“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.” Beliau bersabda,

إِنَّ مِنْ مُوجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ بَذْلُ السَّلامِ، وَحُسْنُ الْكَلامِ

“Di antara sebab mendapatkan ampunan Allah adalah menyebarkan salam dan bertutur kata yang baik.”4

Kedua: Mendapatkan Kamar yang Istimewa di Surga Kelak

Dari ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar.” Kemudian seorang Arab Badui bertanya, “Kamar-kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau pun bersabda,

لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

“Kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa saja yang tutur katanya baik, gemar memberikan makan (pada orang yang butuh), rajin berpuasa dan rajin shalat malam karena Allah ketika manusia sedang terlelap tidur.”

Ketiga: Bisa menggantikan Sedekah

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Tutur kata yang baik adalah sedekah.”

Dari ‘Adi bin Hatim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Selamatkanlah diri kalian dari siksa neraka, walaupun dengan separuh kurma. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka cukup dengan bertutur kata yang baik.”

Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan tutur kata yang baik sebagai pengganti dari sedekah bagi yang tidak mampu untuk bersedekah.”

Keempat: Menyelematkan Seseorang dari Siksa Neraka

Dalilnya adalah hadits Adi bin Hatim di atas. Ibnu Baththol mengatakan, “Jika tutur kata yang baik dapat menyelamatkan dari siksa neraka, berarti sebaliknya, tutur kata yang kotor (jelek) dapat diancam dengan siksa neraka.”10

Kelima: Dapat Menghilangkan Permusuhan

Ibnu Baththol mengatakan, “Ketahuilah bahwa tutur kata yang baik dapat menghilangkan permusuhan dan dendam kesumat. Lihatlah firman Allah Ta’ala,

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat: 34-35). Menolak kejelekan di sini bisa dengan perkataan dan tingkah laku yang baik.”

Sahabat yg mulia, Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.” Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”

Berlaku Lemah Lembut Bukan Berarti Menjilat

Perlu dibedakan antara berlaku lemah lembut dengan tujuan membuat orang tertarik dan berlaku lembah lembut dengan maksud menjilat. Yang pertama ini dikenal dengan mudaroh yaitu berlaku lemah lembut agar membuat orang lain tertarik dan tidak menjauh dari kita. Yang kedua dikenal dengan mudahanah yaitu berlaku lemah lembut dalam rangka menjilat dengan mengorbankan agama. Sikap yang kedua ini adalah sikap tercela sebagaimana yang Allah firmankan,

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS. Al Qalam: 9)

Ibnu Jarir Ath Thobari menafsirkan ayat di atas, “Wahai Muhammad, orang-orang musyrik tersebut ingin kalian berlaku lembut pada mereka (dengan mengorbankan agama kalian) dengan memenuhi seruan untuk beribadah kepada sesembahan mereka. Jika kalian demikian, maka mereka akan berlaku lembut pada kalian dalam ibadah yang kalian lakukan pada sesembahan kalian.” Oleh karenanya, orang yang bersikap mudaroh akan berlemah lembut dalam pergaulan tanpa meninggalkan sedikitpun prinsip agamanya. Sedangkan orang yang bersikap mudahin, ia akan berusaha menarik simpati orang lain dengan cara meninggalkan sebagian dari prinsip agamanya.

Hendaknya kita bisa memperhatikan perbedaan antara mudaroh dan mudahanah. Lemah lembut yang dituntunkan adalah dalam rangka membuat orang tertarik dengan akhlaq kita yang baik. Sikap pertama inilah yang akan membuat orang menerima dakwah, namun tetap dengan mempertahankan prinsip-prinsip beragama. Sedangkan lemah lembut yang tercela adalah jika sampai mengorbankan sebagian prinsip beragama dan mendiamkan kemungkaran tanpa adanya pengingkaran minimalnya dengan hati.

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kepada kita tutur kata yang baik dan akhlaq yang mulia. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Aamiin.

Artikel Rumaysho.com

 

Bagikan