Arsip Kategori: Aqidah

KUNCI SURGA DAN GERIGI-NYA (SYARAT-SYARAT LAA ILAAHA ILLALLAAH)

Wahb bin Munabbih rahimahullah pernah ditanya: Bukankah kunci surga adalah Laa Ilaaha Illallaah? Beliau menjawab: Ya. Tapi setiap kunci pasti memiliki gerigi-nya. Jika engkau memiliki kunci dengan gerigi yang tepat maka pintu itu akan terbuka, namun jika gerigi kunci itu tidak tepat, maka pintu itu tidak akan terbuka (Hilyatul Awliyaa’ (4/66), (at Taarikhul Kabiir [1/95]).

Wahb bin Munabbih adalah salah seorang tabi’i. Beliau murid beberapa orang Sahabat Nabi seperti Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudriy, anNu’man bin Basyir, Jabir bin Abdillah, dan Ibnu Umar. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits yang melalui jalur Wahb bin Munabbih tidak kurang dalam 2 riwayat, sedangkan al-Imam Muslim meriwayatkan tidak kurang 4 hadits.

Makna ucapan dari Wahb bin Munabbih di atas adalah: tidak cukup bagi seseorang sekedar mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah. Ia harus menjalankan konsekuensi/ syarat dari ucapan itu. Konsekuensi/ syarat dari ucapan Laa Ilaaha Illallah adalah ibarat gerigi bagi sebuah kunci. Benar bahwa Laa Ilaaha Illallah adalah kunci surga, namun konsekuensi yang dijalankan setelah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah adalah gerigi yang menentukan apakah pintu (surga) itu terbuka atau tidak.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah bertanya kepada seseorang: Apa yang engkau persiapkan untuk kematian? Orang itu mengatakan: persaksian (syahadat) Laa Ilaaha Illallah. Al-Hasan al-Bashri menyatakan: Sesungguhnya bersama persaksian itu ada syarat-syarat (yang harus dipenuhi)(Siyaar A’laamin Nubalaa’ [4/584]).

Al-Hasan al-Bashri adalah seorang tabi’i. Beliau murid dari beberapa orang Sahabat Nabi seperti Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Imron bin Hushain, al-Mughiroh bin Syu’bah, Jabir.

Para Ulama’ setelahnya kemudian mengumpulkan dalil-dalil dan merangkumnya dalam penjelasan tentang apa saja syarat-syarat yang terkandung dalam Laa Ilaaha Illallah. Syarat-syarat tersebut harus terpenuhi sebagaimana diibaratkan sebagai gerigi dalam kunci untuk membuka pintu surga.

Syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah ada 7, yaitu:

  1. Mengetahui maknanya (al-‘Ilmu).
  2. Yakin dan tidak ragu akan kandungan maknanya (al-Yaqiin).
  3. Menerima konsekuensi dari ucapan Laa Ilaaha Ilallaah dengan lisan dan hatinya serta tidak menolaknya (al-Qobuul).
  4. Tunduk terhadap perintah dan larangan yang terkandung dalam Laa Ilaaha Illallah dan berserah diri kepada Allah (al-Inqiyaad).
  5. Jujur dalam mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah (as-Shidq). Sesuai antara apa yang diucapkan dengan yang diyakini dalam hati serta menjalankan konsekuensinya.
  6. Ikhlas dalam mengucapkannya karena Allah (al-Ikhlash).
  7. Cinta terhadap kandungan yang terdapat dalam Laa Ilaaha Illallah (al-Mahabbah).

Berikut ini akan disebutkan dalil-dalil dan penjelasan terhadap ke-7 syarat tersebut :

1. Al-Ilmu, mengetahui kandungan makna Laa Ilaaha Illallah.

Seseorang muslim harus mengetahui makna Laa Ilaaha Illallaah. Allah memerintahkan dalam al-Quran untuk mengetahui makna Laa Ilaaha Illallah tersebut:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Ketahuilah, bahwasanya tidak ada Ilaah (sesembahan yang haq) kecuali Allah…”(Q.S Muhammad: 19)

Sangat disayangkan ketika sebagian besar saudara kita muslim masih belum mengerti dan memahami makna Laa Ilaaha Illallah. Makna Laa Ilaaha Illallah sebenarnya juga terkandung dalam bacaan dzikir yang disunnahkan untuk dibaca setiap selesai sholat fardlu:

… لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ…

…Laa Ilaaha Illallaah, dan kami tidak menyembah (beribadah)) kecuali hanya kepadaNya…(H.R Muslim dari Abdullah bin az-Zubair).

Itu menunjukkan bahwa ucapan Laa Ilaaha Illallah maknanya adalah tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah. Segala macam bentuk ibadah hanya boleh dipersembahkan untuk Allah semata, tidak boleh diberikan kepada selain-Nya.

2. Al-yaqiin, yakin dan tidak ragu terhadap kandungan makna yang terdapat di dalamnya.

إنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

“Hanyalah orang-orang yang beriman itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian tidak ragu…”(Q.S al-Hujuraat:15)

3. Al-Qobuul, menerima dengan sepenuh hati tidak bersikap sombong dengan menolaknya. Bersedia menjalankan konsekuensinya.

Sikap orang yang beriman berbeda dengan orang-orang kafir yang ketika disampaikan kepadanya Laa Ilaaha Illallah, mereka bersikap sombong (takabbur).

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya mereka (orang-orang musyrikin) jika dikatakan kepada mereka Laa Ilaaha Illallaah, mereka menyombongkan diri”. (Q.S as-Shaffaat: 35)

Orang-orang musyrikin Arab sangat paham dengan makna Laa Ilaaha Illallah. Mereka tahu bahwa jika mereka mengucapkannya, mereka harus meninggalkan seluruh sesembahan selain Allah yang sebelumnya mereka sembah. Mereka tidak mau melakukan konsekuensi itu sebagai bentuk kesombongan.

Orang-orang musyrikin Arab tersebut menganggap dakwah Nabi itu sebagai sesuatu yang aneh. Mereka mengatakan:

أَجَعَلَ الْآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Apakah dia (Muhammad) menjadikan sesembahan-sesembahan itu hanya satu saja? Sungguh itu adalah suatu hal yang mengherankan!” (Q.S Shood:5)

Hal ini menunjukkan bahwa konsekuensi dari ucapan Laa Ilaaha Illallah adalah meninggalkan sesembahan-sesembahan lain selain Allah.

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah dan mengkufuri segala yang disembah selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, serta perhitungannya diserahkan kepada Allah” (H.R Muslim)

4. Al-Inqiyaad, tunduk patuh dan berserah diri kepada Allah.

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى…

“dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedangkan ia berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang dengan buhul tali yang kokoh” (Q.S Luqman: 22)

Buhul tali yang kokoh itu ditafsirkan oleh Sahabat Nabi Ibnu Abbas sebagai Laa Ilaaha Illallah (Tafsir atThobary)

5. As-Shidqu, Jujur, tidak mengandung kedustaan

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Tidaklah ada seseorang yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah (sesembahan yang haq) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, jujur dari hatinya, kecuali Allah akan haramkan ia dari anNaar (neraka)”. (H.R al-Bukhari dari Anas bin Malik)

Sebaliknya, orang munafik hanya mengucapkan secara lisan namun tidak jujur dalam hatinya. Hatinya mengingkarinya.

…يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ…

“…mereka (kaum munafikin) mengucapkan dengan mulut mereka apa yang tidak terdapat dalam hati mereka, dan Allah Paling Mengetahui apa yang mereka sembunyikan”. (Q.S Ali Imran: 167).

6. Ikhlas dalam mengucapkannya, hanya karena Allah

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan dari neraka orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, (hanya) mengharapkan Wajah Allah (ikhlas)”. (H.R al-Bukhari dan Muslim dari ‘Itban bin Malik)

Orang beriman mengucapkan dan menjalankan konsekuensi Laa Ilaaha Illallah dengan ikhlas karena Allah semata, sedangkan orang munafik mengucapkannya hanya untuk kepentingan duniawi.

7. Al-Mahabbah (Mencintai Laa Ilaaha Illallah, dan mencintai orang-orang yang menjalankan syarat-syaratnya). Konsekuensi dari mengucapkan Laa Ilaaha Illallah adalah mencintai Ahlul Iman/ Ahlut Tauhid dan membenci kesyirikan, kekufuran dan orang-orangnya. Mencintai Allah di atas segala-galanya. Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ…

“Dan di antara manusia, ada yang menjadikan tandingan-tandingan dari selain Allah yang mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Sedangkan orang yang beriman lebih tinggi kecintaannya kepada Allah…”. (Q.S al-Baqoroh:165)

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Tidaklah engkau dapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan RasulNya walaupun orang itu adalah ayah, anak, saudara laki-laki, atau karib kerabat mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tetapkan iman dalam hatinya dan Allah kuatkan mereka dengan pertolongan yang datang dariNya. Dan Allah memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Mereka adalah golongan Allah. Ketahuilah sesungghnya golongan Allah adalah orang-orang yang beruntung”. (Q.S al-Mujaadilah:22)

NASEHAT YANG LUAR BIASA

Syaikhul Islam Muhammad Ibn Abdil Wahhab dari kitab Qowaidul Arba’ memberikan nasehat emas kepada kita semua, jika kita lakukan niscaya Insya Allah akan selalu berbahagia di dunia ini maupun akhirat kelak.

*PERTAMA* :
إذا أعطي شكر

” Jika diberi nikmat bersyukur”
Walaupun nikmat itu jumlahnya sedikit, kalau kita pandai bersyukur insya Allah akan selalu merasa cukup dan cukup, sedangkan kalau kita tidak pernah mau bersyukur dan selalu mengeluh sebanyak apapun nikmat yg diberikan oleh Allah selalu akan merasa kurang dan kurang. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

ﻭَﺇِﺫْ ﺗَﺄَﺫَّﻥَ ﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﻟَﺌِﻦْ ﺷَﻜَﺮْﺗُﻢْ ﻷﺯِﻳﺪَﻧَّﻜُﻢْ ﻭَﻟَﺌِﻦْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢْ ﺇِﻥَّ ﻋَﺬَﺍﺑِﻲ ﻟَﺸَﺪِيد
ٌ
”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan : Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-
Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat
pedih” [QS. Ibrahim : 7].

*KEDUA* ;
و إذا بتلي صبر

” Jika diuji bersabar”
Berapapun besarnya ujian baik berupa sedikitnya rezeki yang kita dapat, atau wafatnya seorang yang kita cintai. Kalau kita selalu berusaha memupuk diri untuk bisa bersabar, insya Allah semuanya akan terasa ringan dan mudah dihadapi.

*KETIGA* ;
إذا أذنب إستغفر

” Jika berdosa segera memohon ampun”

Seorang mukmin ketika merasa melakukan dosa maka ia akan bersegera memohon ampun kepada Allah subhaanahu wa ta’alaa dan berusaha menghapusnya dengan ibadah yang lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan sebuah nasehat berharga kepada Abu Dzar Al Ghifariy Jundub bin Junadah,

ﺍﺗَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺣَﻴْﺜُﻤَﺎ ﻛُﻨْﺖَ ﻭَﺃَﺗْﺒِﻊِ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺌَﺔَ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺔَ ﺗَﻤْﺤُﻬَﺎ ﻭَﺧَﺎﻟِﻖِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ
ﺑِﺨُﻠُﻖٍ ﺣَﺴَﻦ
ٍ
“ Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu
berada dan ikutkanlah kejelekan dengan
kebaikan, niscaya kebaikan akan
menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan
sesama dengan akhlaq yang baik (HR. Tirmidzi
no. 1987. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan
bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi
(hasan dilihat dari jalur lainnya), Shahih
At Targhib wa At Tarhib 2655).

___________________
___________________

Cuman tiga, tapi tidak semudah yang dibayangkan…

Kalau kita bisa yakinlah akan bahagia dunia & akhirat insya Allah

SAHABAT

img_20170724_194917_hdr1

 

 

 

 

 

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “seseorang itu akan mengikuti agama temanya. Maka hendaklah masing-masing kamu memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR. Tirmidzi)

Dari sekelumit sabda Nabi SAW ini mengandung makna yang sangat besar, tidak disangka teman menentukan segalanya, jika teman anda adalah orang yang selalu mendurhakai allah SWT, maka bersiap-siaplah untuk ikut-ikutan mendurhakai Allah SWT. Akan tetapi jika teman anda termasuk hamba Allah yang taat maka ketaatanya akan merembet kepada kita dan kita pun akan ikut-ikutan taat kepada Allah SWT. Begitu agung islam menempatkan kedudukan seorang teman, hal itu sangat berbeda dengan banyak anggapan orang yang menganjurkan memperbanyak teman dari semua kalangan tanpa melihat sisi lain si teman tersebut.

Lalu muncul pertanyaan dibenak kita, adakah manfaat seorang teman besok dihari kiamat ??

Hal itu coba kita kaji berdasarkan beberapa hadist salah satunya hadist dalam kitab Az-Zuhd yang diriwayatkan oleh ibnul Mubarak “Apabila penghuni surga telah masuk kedalam surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu sewaktu didunia. Mereka pun bertanya tentang sahabat mereka kepada Allah SWT. “Yaa Robb … Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami.” Maka Allah berfirman: “Pergilah kamu ke Neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang dihatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah”.

Atsar Tabi’in juga menegaskan akan hal itu, kali ini Al-hasan Al-Basri berkata: “Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafa’at pada hari kiamat nanti”.

Teman buruk menuntun ke neraka

Berikut firman Allah yang menunjukan kepada kita ungkapan penduduk neraka perihal sebab kenapa dia masuk neraka:

1(27) Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.

(28) Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).

(29) Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.

Ya, itulah akibat dari salah memilih teman, Allah SWT sebenarnya telah mengirim Rasul untuk dijadikan teman, Allah juga telah mengirimkan orang-orang shaleh yang ada disekitar kita untuk dijadikan teman, semuanya itu tergantung diri kita masing-masing, apakah mau menjadikan orang shaleh sebagai temanya atau mencari teman yang fajir atau yang suka mendurhakai Allah untuk menjadi sahabat.

Sungguh sangat disayangkan, hanya karena alasan dunia yang fana’ ini, seseorang memilih berteman kepada orang-orang yang suka mendurhakai Allah bahkan sebagian muslim malah nekat berteman kepada non muslim.

Lalu akankah mereka akan menuntunya kesurga ? Tidak mungkin. Bahkan sebaliknya, akan menuntun untuk masuk ke dalam neraka.

Akhir kata, semoga kita lebih selektif didalam memilih teman. Selektif dalam arti bukan membeda-bedakan teman/sahabat. Selektif dalam hal ini lebih mengarah kepada mencari teman yang bisa diajak menuju jalan kebaikan dan kesuksesan.

KARAKTERISTIK KURIKULUM ISLAM

psbpsb

Pengertian  kurikulum  apabila kita rujuk dalam bahasa Arab dapat disamakan dengan  istilah minhajمنهاج ) yang berasal dari kata :

نهج ) yang artinya menjelaskan

Al Qur’anul Karim melalui ayatnya menerangkan tentang term manhaj. Diantaranya adalah sebagaimana firman Allah SWT :

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“…Untuk tiap-tiap ummat  diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.”

(QS. Al Maidah : 48)

Dalam  dataran praktis, kurikulum yang  diterapkan dalam sebuah lembaga pendidikan Islam haruslah merupakan kurikulum yang dibangun atas landasan konsep Islam.  Ada beberapa hal yang merupakan basis konseptual dalam penyu-sunan kurikulum yang Islami, diantaranya :

  1. Kurikulum yang Islami haruslah memiliki sistem pengajar-an dan materi yang selaras dengan fitrah manusia, sebagai-mana sabda Rosulullah SAW :

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِه

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya  sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi.”

(HR. Bukhari)

  1. Kurikulum Islam haruslah dapat mewujudkan tujuan pen-didikan Islam yang fundamental yaitu memurnikan ketaat-an dan peribadatan hanya kepada Allah.
  2. Tingkatan setiap kurikulum Islami haruslah sesuai dengan tingkatan pendidikan, baik dalam hal karakteristik, usia, tingkat pemahaman, dan sebagainya.
  3. Aplikasi, kegiatan, contoh atau teks kurikulum Islami harus memperhatikan tujuan-tujuan masyarakat yang realistis dan bertitik tolak dari konsep Islam yang ideal. Sebagai contoh : bisnis yang Islami, olah raga yang islami dan sebaginya.
  4. Sistem kurikulum Islam harus selaras dengan desain psiko-logis yang telah Allah ciptakan untuk manusia. Atas dasar inilah maka seluruh ilmu yang diberikan haruslah diarah-kan pada pembentukan kepribadian manusia yang ber-tauhid.
  5. Kurikulum Islami hendaknya memiliki metode yang elastis sehingga dapat diadaptasikan keberbagai kondisi dan po-tensi yang ada.
  6. Kurikulum Islami haruslah memperhatikan pada pendidik-an tentang segi-segi aktivitas langsung seperti jihad, dakwah, dan sebagainya.

 

Hakikat Iman

Iman secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i, iman adalah “Keyakinan dalam hati, Perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat”.
Para ulama salaf menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Oleh sebab itu iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan berkurang”. Ini adalah definisi menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad,
“Agar bertambah keimanan mereka di atas keimanan mereka yang sudah ada.”
—QS. Al Fath [48] : 4
Imam Syafi’i berkata, “Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Dia bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.” Imam Ahmad berkata, “Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Ia bertambah dengan melakukan amal, dan ia berkurang dengan sebab meninggalkan amal.” Imam Bukhari mengatakan, “Aku telah bertemu dengan lebih dari seribu orang ulama dari berbagai penjuru negeri, aku tidak pernah melihat mereka berselisih bahwasanya iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.”
Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan. Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan dan perbuatan sama dalam satu keyakinan, maka orang – orang beriman adalah mereka yang di dalam hatinya, disetiap ucapannya dan segala tindakanya sama, maka orang beriman dapat juga disebut dengan orang yang jujur atau orang yang memiliki prinsip. atau juga pandangan dan sikap hidup.
Jadi,dapat di simpukan,seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi unsur unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, unsur unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
Keimanan adalah hal yany paling mendasar yang harus dimiliki seseorang. Allah memerintahkan agar ummat manusia beriman kepada-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa : 136)
Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa Bila kita ingkar kepada Allah, maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri agar selamat dunia maupun di akhirat kelak.
Semoga bermanfaat…
Kajian Aqidah Rabu Siang
Ponpes, Terpadu Ulul Abshor
psb