Arsip Kategori: Aqidah

ENAM PILAR PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM

Kerja pendidikan dalam pandangan Islam dipandang sebagai profesi kenabian, sehingga memiliki ikatan yang kokoh dengan hakekat Islam itu sendiri. Ada 6 (enam) pilar paradigma pendidikan Islam yang dapat dijadikan pijakan inti dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam.

14947524_1121822471186884_594767761445743288_n

Pertama, Pendidikan Islam lahir dalam rangka memberikan gambaran yang utuh dan tuntas tentang hakikat kehi-dupan fisis maupun metafisis, menyangkut hakikat ke-Tuhanan, hakikat dunia, serta hakikat manusia baik secara duniawi maupun ukhrowi. Semua terangkum dalam paket Syariat Islam yang paripurna. Dalam konsep pendidikan Islam pemahaman akan keutuhan ajaran Islam dapat terbingkai dengan baik jika dan hanya jika basis konsep ini disandarkan pada dhowabit / kaidah dan alur yang benar. Alur ini dimulai dengan menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pijakan inti sebagaimana isyarat untuk mengaproksimasi objek ayat kauniyah (alam semesta / universum). Keluasan konsep ini akan melahirkan wacana berfikir ummat yang berlevel rahmatan lil’alamin. Islam tidak hanya dijadikan sebagai simbol ritual dengan hingar-bingar di wilayahnya, namun sangat sunyi-senyap di wilayah lain. Konsep ini juga akan memastikan bahwa kemusliman seseorang sangat tidak berarti jika ia hanya mampu menegakkan Islam pada dataran individu an sich. Islam hanya digambarkan dengan protokoler akti-vitas masjid dan mengharamkan diri memasuki wilayah politik, sosial, ekonomi, budaya, dan hankam. Tuhan digambarkan seakan-akan hanya sebagai penguasa masjid, penguasa individu, bukan sebagai penguasa alam semesta, petala langit dan bumi serta seluruh aspek kehidupan kita. Konsep dasar ini tertera dalam firman Allah SWT :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الاِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan telah Aku cukupkan nikmatKu padamu dan Aku telah ridho Islam menjadi agama kalian..”

(QS. Al Maidah : 3)

Pada ayat yang lain Allah SWT juga berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (totalitas)…”

(QS. Al Baqarah : 208).

Kedua, Keseimbangan merupakan salah satu kata kunci dalam praktik pendidikan. Artinya penguasaan dan pemahaman suatu konsep Islam sangat tidak berarti jika tidak diikuti oleh interaksi diri secara intens terhadap ajaran Islam. Muslim yang telah mendapatkan pendi-dikan Islam yang benar laksana sepotong kapur yang dimasukkan ke dalam tinta Islam. Ia akan memiliki warna sesuai warna Islam, baik aspek internal maupun tampilan eksternal. Tidak keluar ucapan dari mulutnya kecuali lafal-lafal Islam, pemikirannya tidak menghasil-kan konsep kecuali konsep yang Qur’ani, perasaannya tidak tersentuh kecuali sentuhan nilai nabawi dan jasad-nya tidak melakukan gerakan kecuali gerakan yang sis-tematis dan alami. Merekalah yang oleh Al Qur’an sering disebut muslim kaffah.

Ketiga, Kesemangatan, kecerahan, keseriusan, dan kebermak-naan hidup merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan Islam. Unsur ini muncul karena sistem pendidikan Islam adalah sistem yang elastis dan adaptif yang mampu melahirkan kader yang dinamis. Elastisitas pendidikan Islam sesuai dengan hakikat Islam itu sendiri yang meletakkan sistem ijtihad sebagai salah satu piranti hukum. Dalam Islam sendiri sangat masyhur kaidah yang berbunyi “Senantiasa menjaga yang lama yang baik (berkualitas ) dan mengambil sesuatu yang baru yang jauh lebih baik”. Imam As Syafi’i berkataKulihat air yang diam  membusuk dan air yang bergerak senantiasa jernih“. Esensi dinamis dalam pendidikan Islam menyangkut dua hal penting, yaitu dinamis secara kualitatif dan dinamis secara kuan-titatif. Membangun generasi dinamis secara kualitatif dapat dilakukan dengan mengukur perkembangan ke-kuatan hafalan, kekuatan pemahaman, kekuatan analisis, sintesis maupun kemampuan menilai. Tentu hal ini dilakukan secara holistik baik terhadap ayat-ayat kauliyah maupun ayat-ayat kauniyah. Apabila kekuatan dinamisasi bidang ini dimiliki oleh setiap kader anak didik kita, maka akan mampu meningkatkan kemuliaan kedudukan mereka dalam masyarakat, sekaligus men-jadi magnet besar masyarakat kepadanya. Hal ini didukung kekuatan hujjah yang sangat argumentatif. Mereka adalah sosok unik yang mampu mengekspresi-kan diri lain daripada yang lain. Berbeda dengan Kenyataan yang kita lihat sekarang ini. Islam dalam produk pendidikan kita diartikulasikan dalam bahasa yang sangat kaku, tradisional, mengekor dan sebangsa-nya. Kalaupun action mereka berbeda justru pada sisi dan nilai westernisasinya, bukan pada substansi modernisasinya.

Keempat, Islam mengajarkan bahwa hidup adalah ujian. Hidup adalah permainan. Siapa yang selalu memper-siapkan diri dan selalu belajar dialah yang akan menang. Mereka yang berani menjemput bola dan pro-aktiflah yang akan sukses. Oleh karena itu pendidikan Islam sebagai wahana aktualisasi syariat Islam sangat menekankan pentingnya praktik lapangan dalam setiap aspek pembelajaran. Muslim yang baik adalah yang memiliki idealita setinggi langit namun kaki tetap berpijak pada bumi. Kita boleh dan bahkan harus memiliki konsep yang ideal dalam hidup ini. Kita juga harus menjadi orang yang pertama kali berani melaku-kan praktik dan menekuni pekerjaan sesederhana apapun selama pekerjaan itu memiliki basis konseptual yang kokoh. Dengan praktik langsung di lapangan, seseorang akan dapat merasakan hakikat dunia yang sesungguhnya, yang tidak mungkin diperoleh lewat alam pemikiran. Allah SWT banyak sekali memerintah-kan kepada kita untuk melakukan praktik lapangan sebagaimana firman-Nya :

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (105)

Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu maka Allah dan Rosul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan pada (Allah ) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan

(QS. At Taubah : 105).

Dalam pepatah kita sangat populer istilah :

”Pengalaman adalah guru yang terbaik, dan setiap orang yang ingin menjadi guru yang baik mesti harus berpengalaman”.

Jika ingin menjadi guru yang baik bagi dirinya, maka ia harus mempunyai pengalaman terhadap dirinya. Jika ingin menjadi guru yang baik dalam keluarga maka ia harus mempunyai pengalaman terhadap keluarganya dan sebagainya. Muara dari akumulasi pengalaman akan menjadi life skill bagi dirinya. Dengan kata lain, tidak ada sebuah profesionalisme diri kecuali melalui praktik lapangan.

Kelima, Hakikat pendidikan Islam adalah seni membangun manusia. Esensi dari seni membangun manusia adalah membangun dan memunculkan rasa kesadaran pada diri anak didik. Bangunan kesadaran diri inilah yang melahirkan pribadi bertanggung jawab. Pada dasarnya semua aktivitas di dunia ini tidak akan memberikan makna apa-apa kalau pelakunya adalah para peng-khianat. Sistem dan manajemen sebaik apapun akan hancur bila tidak ada rasa tanggung jawab para pelaku-nya. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berbasis hakikat fitrah kehidupan yang berupa kejujuran, amanah, dan keadilan. Tanggung jawab seorang muslim tentunya tanggung jawab vertikal kepada Allah SWT. Sebuah tanggung jawab yang akan melahirkan jiwa jujur, amanah serta perasaan selalu diawasi oleh Sang Khaliq (pencipta ) dalam setiap amalnya. Allah SWT berfirman :

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الاَرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (59)

Disisi Allahlah kunci-kunci yang ghaib, tidak ada yang tahu dalam masalah yang ghaib kecuali Allah. Allah maha mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan di lautan. dan tidak jatuh sehelai daun kecuali dalam pengawasan Allah. Dan tidak ada sebutir bijipun yang gugur dalam kegelapan bumi, dan tidak ada sesuatu yang basah dan yang kering kecuali semua tercatat dalam kitab Allah yang nyata”.

(QS. Al An’aam : 59 ).

Rakitan emosional inilah yang dalam istilah Islam disebut dengan sikap ikhsan, yaitu mereka yang ber-ibadah seolah-olah melihat Allah dan kalaupun mereka tidak melihat Allah maka pastilah Allah melihat mere-ka. Jiwa inilah yang menjadi landasan paling esensi profesionalisme. Tanggung jawab yang kedua adalah tanggung jawab horisontal sesama mahluk Allah, khu-susnya manusia. Tanggung jawab inilah yang tersim-pulkan dalam diri Rosulullah dengan sifat asasi beliau yang disebut Tabligh. Dengan sikap ini beliau mem-punyai public relationship yang luar biasa. Beliau adalah orang yang ketika berkumpul dengan pengemis seakan pengemis yang paling pengemis dengan segala perangkat kerendahan hati, kelembutan budi dan kesederhanaan sikap. Semua itu karena kemampuan adaptif jiwa dan perasaannya yang sangat luar biasa dengan lingkungan. Sebaliknya jika beliau berkumpul dengan para raja beliau adalah rajanya para raja, dengan kehebatan, kewibawaan, kecerdasan dan kecerdikan, ketangkasan, ketangguhan sikap, dan segudang integri-tas diri lainnya. Sehingga beliau adalah satu-satunya orang yang paling berhasil dan sukses setiap menyam-paikan visi dan misi kepada orang lain. Berbeda dengan kebanyakan kita, jika kita tinggi kedudukannya maka merasa risih dan mudah merendahkan martabat masyarakat kalangan bawah. Sedangkan jika kita ber-kumpul dengan kelompok di atas level kita, kita merasa kehilangan kepercayaan diri.Para generasi kita gagal membangun komunikasi dialogis dengan berbagai kelompok dengan menghilangkan atau meminimalisir sekat-sekat psikologis ketika sedang berinteraksi. Kiranya sudah seharusnyalah kita merenungkan kem-bali ajaran kita yang berbunyi

Hendaknya kalian menempatkan manusia sesuai dengan habitatnya, berbicara kepada kaumnya sesuai dengan bahasa kaumnya serta sesuai dengan kapasitas intelektualnya”.

Keenam, Muara dari sistem pendidikan Islam adalah mem-bangun profesionaliame pada individu. Profesionalisme dalam pandangan Islam mempunyai perbedaan visi dengan profesionalisme menurut istilah umum (sekuler). Profesionalisme harus mempunyai dua fondasi inti yaitu ikhsan dan itqan. Ikhsan telah dijelas-kan pada poin kelima, sedangkan itqan adalah sikap kokoh yang digambarkan oleh Allah seperti alam ciptaan-Nya berupa gunung. Pribadi itqan adalah pribadi yang memenuhi lima syarat yaitu ”Penampilan yang Meyakinkan, Konsep yang Argumentatif, Sikap yang Familier, Jiwa yang Dinamis, serta Sosok Pribadi yang Militan”.

Sikap itqan digambarkan oleh Allah sebagaimana alam semesta yang memiliki sifat :

  1. Disiplin yang tinggi (Syahsiah Inthibatiyah)
  2. Semangat baja (Jiddiyah)
  3. Beramal dengan kontinyu (Istimroriyyah)
  4. Produktivitas (Intajiyah)
  5. Penghargaan yang tinggi terhadap waktu (Harishon ‘ala Waqtih)

Allah berfirman :  

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ  (88)

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalan-nya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS. An Naml : 88)

Dari keenam pilar di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam pada dasarnya adalah sistem pendidikan yang ingin melahirkan ”Pribadi Standar” yang mampu melahirkan ”Keluarga Standar, Masyarakat Standar, Negara Standar, dan Dunia yang Standar” di bawah naungan syariat Islam.

Oleh : Ustad Kastori, S.Pd. (Pengasuh Ponpes. Terpadu Ulul Abshor, Semarang)

Jl. Karangrejo II/25 A, Banyumanik, Semarang.

Bagikan

خصائص الرسالة المحمدية (Kekhususan Risalah Nabi Muhammad)

تختص الرسالةالمحمدية عن الرسالات السابقة بجملة من الخصائص, نذكرمنها

Kekhususan Risalah Rosulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam dibandingkan risalah-risalah rosul yang terdahulu diantaranya adalah :

  1. الرسالة المحمدية خاتمة للرسالات السابقة
 Risalah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam adalah penutup dari risalah sebelumnya (Terdahulu) sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat : 40

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

2. الرسالة المحمدية ناسخة للرسالات السابقة

Risalah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam adalah adalah pengahapus risalah-risalah sebelumnya. Jadi Allah Ta’ala tidak menerima agama kecuali hanya Agama yang dibawa Oleh Rosulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam yakni Islam. Karena tidak akan bisa mendapat kenikmatan surga kecuali mengikuti jalan Islam. Rosulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam adalah Rosul Allah yang paling Mulia, dan umatnya adalah sebaik-baiknya umat, dan syariatnya adalah yang paling sempurna.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Ali Imron : 85)

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هـٰذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Rabb yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang dari umat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya aku (Muhammad), lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya (Islam), niscaya dia termasuk penghuni neraka.

3. الرسالة المحمدية عامة الى الثقلين : الجن والانس

Risalah Rosulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam bersifat Umum (Universal) yakni mencakup seluruh alam baik jin maupun manusia.

Surat Al-Ahqaf ayat 31
Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.(Alahqof : 31)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Saba’ : 28)

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فُضِّلْتُ عَلَى اْلأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيْتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَجُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ طَهُوْرًا وَمَسْجِدًا وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّوْنَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

Aku diberi keutamaan atas para nabi dengan enam perkara: pertama, aku diberi Jawami’ al-Kalim. Kedua, aku ditolong dengan rasa takut (yang dihujamkan di dada-dada musuhku). Ketiga, ghanimah (rampasan perang) dihalalkan untukku. Keempat, bumi dijadikan suci untukku dan juga sebagai masjid. Kelima, aku diutus kepada seluruh makhluk. Keenam, para nabi ditutup dengan kerasulanku.”

B E R S A M B U N G . . . . . . .

Oleh : Ust. Kastori, S.Pd. (Pengasuh Ponpes. Terpadu Ulul Abshor, Banyumanik, Semarang)

14729094_672646936233280_1026734684501378651_n
Kajian Aqidah, Setiap hari Rabu Siang

Bagikan

Tafsir Surat Alkahfi Ayat 17&18

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Ayat ke 17 – 18

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 17“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda [kebesaran] Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17)

18:18

“Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan [diri] dan tentulah [hati] kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. (QS. Al-Kahfi: 18)

Ayat 17 menerangkan bahwa Allah berkuasa mengawasi hamba-Nya yang sedang tidur. Allah yang menjaga dan memelihara mereka dalam gua, dan Dia pula yang mengatur posisi tudur mereka. Kemudian, dalam ayat 18, Allah menyebutkan bahwa Dia membalikkan badan mereka ke kanan dan ke kiri serta menghilangkan perasaan takut dari dalam diri mereka.

Seperti Kata Mutiara dari Imam Syafi’i :

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jka tidak, kan keruh menggenang

14666075_1115009681868163_290133558891219484_n
Kajian Selasa Subuh, 25 Oktober 2016. Bersama Ust. Kastori, S.Pd. Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

 

Bagikan

PENDIDIKAN ISLAM SUATU SOLUSI

Pendidikan dalam term Islam menggunakan istilah tarbiyah. Kata ini kalau kita rujuk dalam kamus bahasa arab berasal dari  tiga akar kata yaitu :

Pertama : Rabaa – Yarbuu ( يربوربا ) yang artinya “berkembang” dan “bertambah”, sebagaimana firman Allah :

وَمَا ءَاتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا ءَاتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ(39)

“Dan sesuatu (riba) yang kamu berikan agar kamu bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak akan menambah pada sisi Allah……”

( QS. Ar Ruum : 39)

13417659_1019531844749281_1631306943744829697_n

Kedua : Rabiya – Yarbaa ( ربييربى ) yang berarti ”tumbuh” dan ”berkembang” sebagaimana perkataan Ibnul al Arobi sebagai berikut:

فمن يك سا ئلا عني فاني   بمكة منزلي وبها ربيت

Barang siapa yang bertanya tentang aku sesung-guhnya tempat tinggalku di mekah dan di sanalah aku tambah besar.”

Ketiga : Rabba – Yarubbu ( ربيرب ) yang berarti ”memperbaiki”, ”mengurusi kepentingan”, ”mengatur”, ”menjaga dan memperhatikan” sebagaimana ungkapan Hasan bin Tsabit yang diterangkan oleh Ibnu Manzhur.

Secara terminologi pengertian pendidikan / tarbiyah adalah :

هي الاسلوب الامثل في التعامل مع الفطرة البشيرة توجيها مباشرا بالكلمة وغيرمباشر بالقدوة وفق منهج خاص ووسائل خاصة لاحداث تغيير في الا نسان نحوالا حسن

“Cara ideal berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung sesuai dengan sistem dan strategi yang khas untuk memproses perubahan (mendesain) manusia menuju kondisi lebih baik.”

Kalau kita perhatikan pengertian pendidikan di atas  akan timbul beberapa pertanyaan, “Bagaimana cara yang ideal itu ?” “Siapakah yang telah melakukan dengan cara yang ideal ?” “Darimana kita dapatkan referensinya ?”

Tentu cara yang paling ideal adalah cara-cara yang diajarkan Allah Subhanahu Wa ta’ala kepada Nabi-Nya (sejak zaman Nabi Adam As) khususnya Nabi Muhammad SAW dan cara yang diajarkan Nabi kepada para Shahabatnya. Secara umum hal tersebut terdapat dalam Al Qur’an sedang-kan secara khusus terdapat dalam Hadits beliau dan Sirah Nabawiyahnya. Kita tidak mungkin mampu melakukan proses pendidikan dengan ideal kecuali dengan mengikuti manhaj (pola dasar) para Nabi. Itulah arti ungkapan Syauki yang berbunyi :

كادالمعلم ان يكون رسولا

“Hampir-hampir guru itu seperti Rosul”

Keberhasilan Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat dalam mendidik manusia sangat luar biasa. Seorang diplomat Parsi mengakui ”keajaiban ini” dengan ungkapan polosnya : ”Umar telah merobek-robek (memakan) hati kami, karena telah mengajarkan anjing padang pasir menjadi manusia-manusia yang beradab.”

Seperti kita ketahui bersama, kondisi masyarakat Arab saat itu sangat biadab sehingga diibaratkan seperti “anjing padang pasir.” Bahkan Al Qur’an melukiskan kerimbaan masyarakat Arab pada saat itu lebih ganas dari sekedar anjing padang pasir.

Allah SWT berfirman :

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ(8) بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ(9)

“dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa mereka dibunuh ?”

(QS. At Takwir : 8-9)

Demikian Rosulullah SAW telah berhasil mendidik masya-rakat Arab yang sangat biadab  menjadi masyarakat yang sangat ideal yaitu ”Masyarakat Madani.”

Berawal dari pemahaman terhadap  Al Qur’an dan As Sunnah sebagai konsep ideal, Rosulullah SAW sebagai figur pendidik ideal dan para Shababat sebagai proto type masya-rakat ideal, maka sudah waktunya bagi kita untuk kembali membangun peradaban ummat ini dengan membangun dunia pendidikan sebagai prioritas utama. Dan dalam rangka mem-perbaiki sistem pendidikan ini maka yang membutuhkan prioritas penanganan paling utama adalah pembangunan Sumber Daya Manusia.

fototp2a

(Sumber Materi : Buku ‘Surat Sakti’ karya :  Ust. Kastori, S.Pd. (Pengasuh Ponpes. Terpadu Ulul Abshor, Banyumanik, Semarang)

Bagikan

Menjadi Pribadi yang Dicintai Allah

Alquranul karim sebagai pedoman hidup umat muslim dalam berbagai aspek dan dimensi kehidupan secara lugas, jelas dan gambling telah memberikan beberapa petunjuk praktis dan sistematis kepada kita. Antara lain adalah perbuatan dan sikap apa saja yang sekiranya dilakukan secara baik dan konsisten, mampu menghantarkan kita untuk dicintai oleh Allah. Dan manakala Allah telah cinta kepada kita, maka segala rencana baik, segala amaliyah dan peribadatan akan terpenuhi dan tercapai secara tepat karena Allah ridha dan cinta kepada kita. Diantara ciri-ciri Pribadi yang dicintai Allah adalah :

  1. Mencintai Allah  , dalam Hadist Qudsi disebutkan :

    عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَـى قَالَ : مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ».

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’”

  2. Sholat Diawal Waktu
  3. Menjaga Amalan agar Istiqomah
  4. Melanjutkan dakwah Rosul. Terutama bagi para guru-guru yang mendapat predikat pewaris para rosul.

كاد المعلم ان يكون رسولا

“Hampir-hampir, guru itu seperti Rosul”

لابد من ان يكونوا شخصية داعيتا مشتمرة

“Kita Wajib Menjadi Pribadi yang mampu mengemban amanah dakwah dengan istiqomah”

Pertanyaan:

  1. Bagaimana agar amalan-amalan kita tetap Istiqomah? (Ust. Wahyu K.)

    14731224_1112230972146034_8847396640527956327_n
    Ust. Wahyu K.

Jawab :

a. Istiqomah Itu milik Allah, Maka mintalah pada Allah

b. Istiqomah itu adalah hadiah emas dari Allah yang diberikan kepada hamba-hambaNYA yang Istimewa yang berhasil menjadi juara dalam kompetisi di dunia.

c. Istiqomah itu juga merupakan pengaruh lingkungan , maka carilah lingkungan yang bisa meneguhkan iman kita dalam beribadah kepada Allah.

2.  a. Bagaimana dengan orang islam yang tidak semangat dalam menjalankan syariati islam?

b. Doa untuk selalu bisa istiqomah (Ustdh. Dian)

Jawab : a. Orang yang tidak semangat dalam menjalankan syariat islam dikhawatirkan menjadi Dzolim, bahkan bisa menjadi kafir kalau samapai menganggap ada hukum lain yang lebih baik selain hukum Allah.

من اعتقد ان هذي غير النبي صلى الله عليه وسلم اكمل من هديه او ان حكم غيره احسن من حكمه, كالذين يفضلون حكم الطواغيت على حكمه, فهو كافر

Barang siapa yang berkeyakinan bahwa ada hadiy sama dengan ajaran dari perdamaian Nabi menjadikepadanya , atau yang ada adalah ketentuan yang serupa dengan yang aturan dari perdamaian Nabi menjadi atasnya , maka ia mendustakan (Kafir).

b. DOA ISTIQAMAH 

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Artinya :
Wahai Dzat yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agamaMu

14717243_1112230988812699_5509696554110949093_n
Kajian Sabtu Pagi, 22 Oktober 2016

Oleh Ust. Kastori, S.Pd. (Pengasuh Ponpes. Terpadu Ulul Abshor, Banyumanik, Semarang)

Bagikan