خصائص الرسالة المحمدية (Kekhususan Risalah Nabi Muhammad)

تختص الرسالةالمحمدية عن الرسالات السابقة بجملة من الخصائص, نذكرمنها

Kekhususan Risalah Rosulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam dibandingkan risalah-risalah rosul yang terdahulu diantaranya adalah :

  1. الرسالة المحمدية خاتمة للرسالات السابقة
 Risalah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam adalah penutup dari risalah sebelumnya (Terdahulu) sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat : 40

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

2. الرسالة المحمدية ناسخة للرسالات السابقة

Risalah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam adalah adalah pengahapus risalah-risalah sebelumnya. Jadi Allah Ta’ala tidak menerima agama kecuali hanya Agama yang dibawa Oleh Rosulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam yakni Islam. Karena tidak akan bisa mendapat kenikmatan surga kecuali mengikuti jalan Islam. Rosulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam adalah Rosul Allah yang paling Mulia, dan umatnya adalah sebaik-baiknya umat, dan syariatnya adalah yang paling sempurna.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Ali Imron : 85)

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هـٰذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Rabb yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang dari umat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya aku (Muhammad), lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya (Islam), niscaya dia termasuk penghuni neraka.

3. الرسالة المحمدية عامة الى الثقلين : الجن والانس

Risalah Rosulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam bersifat Umum (Universal) yakni mencakup seluruh alam baik jin maupun manusia.

Surat Al-Ahqaf ayat 31
Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.(Alahqof : 31)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Saba’ : 28)

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فُضِّلْتُ عَلَى اْلأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيْتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَجُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ طَهُوْرًا وَمَسْجِدًا وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّوْنَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

Aku diberi keutamaan atas para nabi dengan enam perkara: pertama, aku diberi Jawami’ al-Kalim. Kedua, aku ditolong dengan rasa takut (yang dihujamkan di dada-dada musuhku). Ketiga, ghanimah (rampasan perang) dihalalkan untukku. Keempat, bumi dijadikan suci untukku dan juga sebagai masjid. Kelima, aku diutus kepada seluruh makhluk. Keenam, para nabi ditutup dengan kerasulanku.”

B E R S A M B U N G . . . . . . .

Oleh : Ust. Kastori, S.Pd. (Pengasuh Ponpes. Terpadu Ulul Abshor, Banyumanik, Semarang)

14729094_672646936233280_1026734684501378651_n
Kajian Aqidah, Setiap hari Rabu Siang

Tafsir Surat Alkahfi Ayat 17&18

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Ayat ke 17 – 18

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 17“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda [kebesaran] Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17)

18:18

“Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan [diri] dan tentulah [hati] kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. (QS. Al-Kahfi: 18)

Ayat 17 menerangkan bahwa Allah berkuasa mengawasi hamba-Nya yang sedang tidur. Allah yang menjaga dan memelihara mereka dalam gua, dan Dia pula yang mengatur posisi tudur mereka. Kemudian, dalam ayat 18, Allah menyebutkan bahwa Dia membalikkan badan mereka ke kanan dan ke kiri serta menghilangkan perasaan takut dari dalam diri mereka.

Seperti Kata Mutiara dari Imam Syafi’i :

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jka tidak, kan keruh menggenang

14666075_1115009681868163_290133558891219484_n
Kajian Selasa Subuh, 25 Oktober 2016. Bersama Ust. Kastori, S.Pd. Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

 

PENDIDIKAN ISLAM SUATU SOLUSI

Pendidikan dalam term Islam menggunakan istilah tarbiyah. Kata ini kalau kita rujuk dalam kamus bahasa arab berasal dari  tiga akar kata yaitu :

Pertama : Rabaa – Yarbuu ( يربوربا ) yang artinya “berkembang” dan “bertambah”, sebagaimana firman Allah :

وَمَا ءَاتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا ءَاتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ(39)

“Dan sesuatu (riba) yang kamu berikan agar kamu bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak akan menambah pada sisi Allah……”

( QS. Ar Ruum : 39)

13417659_1019531844749281_1631306943744829697_n

Kedua : Rabiya – Yarbaa ( ربييربى ) yang berarti ”tumbuh” dan ”berkembang” sebagaimana perkataan Ibnul al Arobi sebagai berikut:

فمن يك سا ئلا عني فاني   بمكة منزلي وبها ربيت

Barang siapa yang bertanya tentang aku sesung-guhnya tempat tinggalku di mekah dan di sanalah aku tambah besar.”

Ketiga : Rabba – Yarubbu ( ربيرب ) yang berarti ”memperbaiki”, ”mengurusi kepentingan”, ”mengatur”, ”menjaga dan memperhatikan” sebagaimana ungkapan Hasan bin Tsabit yang diterangkan oleh Ibnu Manzhur.

Secara terminologi pengertian pendidikan / tarbiyah adalah :

هي الاسلوب الامثل في التعامل مع الفطرة البشيرة توجيها مباشرا بالكلمة وغيرمباشر بالقدوة وفق منهج خاص ووسائل خاصة لاحداث تغيير في الا نسان نحوالا حسن

“Cara ideal berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung sesuai dengan sistem dan strategi yang khas untuk memproses perubahan (mendesain) manusia menuju kondisi lebih baik.”

Kalau kita perhatikan pengertian pendidikan di atas  akan timbul beberapa pertanyaan, “Bagaimana cara yang ideal itu ?” “Siapakah yang telah melakukan dengan cara yang ideal ?” “Darimana kita dapatkan referensinya ?”

Tentu cara yang paling ideal adalah cara-cara yang diajarkan Allah Subhanahu Wa ta’ala kepada Nabi-Nya (sejak zaman Nabi Adam As) khususnya Nabi Muhammad SAW dan cara yang diajarkan Nabi kepada para Shahabatnya. Secara umum hal tersebut terdapat dalam Al Qur’an sedang-kan secara khusus terdapat dalam Hadits beliau dan Sirah Nabawiyahnya. Kita tidak mungkin mampu melakukan proses pendidikan dengan ideal kecuali dengan mengikuti manhaj (pola dasar) para Nabi. Itulah arti ungkapan Syauki yang berbunyi :

كادالمعلم ان يكون رسولا

“Hampir-hampir guru itu seperti Rosul”

Keberhasilan Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat dalam mendidik manusia sangat luar biasa. Seorang diplomat Parsi mengakui ”keajaiban ini” dengan ungkapan polosnya : ”Umar telah merobek-robek (memakan) hati kami, karena telah mengajarkan anjing padang pasir menjadi manusia-manusia yang beradab.”

Seperti kita ketahui bersama, kondisi masyarakat Arab saat itu sangat biadab sehingga diibaratkan seperti “anjing padang pasir.” Bahkan Al Qur’an melukiskan kerimbaan masyarakat Arab pada saat itu lebih ganas dari sekedar anjing padang pasir.

Allah SWT berfirman :

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ(8) بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ(9)

“dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa mereka dibunuh ?”

(QS. At Takwir : 8-9)

Demikian Rosulullah SAW telah berhasil mendidik masya-rakat Arab yang sangat biadab  menjadi masyarakat yang sangat ideal yaitu ”Masyarakat Madani.”

Berawal dari pemahaman terhadap  Al Qur’an dan As Sunnah sebagai konsep ideal, Rosulullah SAW sebagai figur pendidik ideal dan para Shababat sebagai proto type masya-rakat ideal, maka sudah waktunya bagi kita untuk kembali membangun peradaban ummat ini dengan membangun dunia pendidikan sebagai prioritas utama. Dan dalam rangka mem-perbaiki sistem pendidikan ini maka yang membutuhkan prioritas penanganan paling utama adalah pembangunan Sumber Daya Manusia.

fototp2a

(Sumber Materi : Buku ‘Surat Sakti’ karya :  Ust. Kastori, S.Pd. (Pengasuh Ponpes. Terpadu Ulul Abshor, Banyumanik, Semarang)

Menjadi Pribadi yang Dicintai Allah

Alquranul karim sebagai pedoman hidup umat muslim dalam berbagai aspek dan dimensi kehidupan secara lugas, jelas dan gambling telah memberikan beberapa petunjuk praktis dan sistematis kepada kita. Antara lain adalah perbuatan dan sikap apa saja yang sekiranya dilakukan secara baik dan konsisten, mampu menghantarkan kita untuk dicintai oleh Allah. Dan manakala Allah telah cinta kepada kita, maka segala rencana baik, segala amaliyah dan peribadatan akan terpenuhi dan tercapai secara tepat karena Allah ridha dan cinta kepada kita. Diantara ciri-ciri Pribadi yang dicintai Allah adalah :

  1. Mencintai Allah  , dalam Hadist Qudsi disebutkan :

    عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَـى قَالَ : مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ».

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’”

  2. Sholat Diawal Waktu
  3. Menjaga Amalan agar Istiqomah
  4. Melanjutkan dakwah Rosul. Terutama bagi para guru-guru yang mendapat predikat pewaris para rosul.

كاد المعلم ان يكون رسولا

“Hampir-hampir, guru itu seperti Rosul”

لابد من ان يكونوا شخصية داعيتا مشتمرة

“Kita Wajib Menjadi Pribadi yang mampu mengemban amanah dakwah dengan istiqomah”

Pertanyaan:

  1. Bagaimana agar amalan-amalan kita tetap Istiqomah? (Ust. Wahyu K.)

    14731224_1112230972146034_8847396640527956327_n
    Ust. Wahyu K.

Jawab :

a. Istiqomah Itu milik Allah, Maka mintalah pada Allah

b. Istiqomah itu adalah hadiah emas dari Allah yang diberikan kepada hamba-hambaNYA yang Istimewa yang berhasil menjadi juara dalam kompetisi di dunia.

c. Istiqomah itu juga merupakan pengaruh lingkungan , maka carilah lingkungan yang bisa meneguhkan iman kita dalam beribadah kepada Allah.

2.  a. Bagaimana dengan orang islam yang tidak semangat dalam menjalankan syariati islam?

b. Doa untuk selalu bisa istiqomah (Ustdh. Dian)

Jawab : a. Orang yang tidak semangat dalam menjalankan syariat islam dikhawatirkan menjadi Dzolim, bahkan bisa menjadi kafir kalau samapai menganggap ada hukum lain yang lebih baik selain hukum Allah.

من اعتقد ان هذي غير النبي صلى الله عليه وسلم اكمل من هديه او ان حكم غيره احسن من حكمه, كالذين يفضلون حكم الطواغيت على حكمه, فهو كافر

Barang siapa yang berkeyakinan bahwa ada hadiy sama dengan ajaran dari perdamaian Nabi menjadikepadanya , atau yang ada adalah ketentuan yang serupa dengan yang aturan dari perdamaian Nabi menjadi atasnya , maka ia mendustakan (Kafir).

b. DOA ISTIQAMAH 

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Artinya :
Wahai Dzat yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agamaMu

14717243_1112230988812699_5509696554110949093_n
Kajian Sabtu Pagi, 22 Oktober 2016

Oleh Ust. Kastori, S.Pd. (Pengasuh Ponpes. Terpadu Ulul Abshor, Banyumanik, Semarang)

SEKALI LAGI URGENSI PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER

Salah satu kelebihan Islam dibanding sistem hidup yang lain adalah perhatiannya yang sangat besar terhadap pembangunan peradaban ummat. Islam menuntut setiap ummatnya untuk menjadi kontributor peradaban manusia. Untuk itu Allah Subhanahuataala  telah melengkapi manusia dengan perangkat-perangkat yang mampu menghantarkannya menjadi “manusia-manusia beradab”.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas bahwa ummat yang pertama kali paling beradab dipermukaan bumi adalah ummat yang dibangun oleh Rosulullah Shollallohualaihiwasallam di Madinah. Peradaban tersebut dibimbing di atas nilai-nilai wahyu yang pasti selaras dengan fitrah kemanusiaan. Lahirnya piagam Madinah sebagai tatanan masyarakat kala itu telah diakui oleh para ahli tata negara sebagai bentuk ikatan kenegaraan modern yang pertama di dunia.

Masyarakat Madani sebagaimana yang telah berhasil dibentuk oleh Rosulullah tidak mungkin terwujud kecuali ditopang oleh SDM-SDM yang handal yang dibangun oleh Baginda Nabi Muhammad Shollallohualahiwasallam  melalui sistem pendidikan Robbani. Oleh karena itu Islam meletakkan pendidikan sebagai asas dan prioritas utama dalam membangun tatanan ummat

Salah satu bukti otentik pentingnya term pendidikan bagi ummat manusia adalah dijadikannya lima ayat surat Al Alaq sebagai pilihan ayat pertama yang diturunkan oleh Allah Taala :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الا ِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ ال اَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الا ِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang mencipta-kan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang me-ngajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar-kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”(QS. Al ‘Alaq : (1-5)

Demikianlah Al Qur’an dengan sangat jelas memberikan taujih (nasihat) kepada kita betapa pentingnya kedudukan pendidikan dalam kehidupan ini. Pendidikan memang bukan segala-galanya namun dengan izin Alloh Taala segalanya bermula dari pendidikan.

Eksistensi pendidikan Islam saat ini rusak parah  karena rute, arah, dan dermaganya tidak jelas. Perahu pendidikan Islam hanya berputar-putar di atas pusaran berbagai arus deras ideologi jahat seperti pluralisme ,liberalisme,sekulerme, kapitalme, sosialisme dan lain-lain yang setiap saat siap menyeret, dan menenggelamkannya.

Kalau kita menelaah lebih dalam akan hakikat pendidikan lewat defenisi yang disampaikan para ulama,bisa kita temukan diantara salah satu definisi pendidikan sebagai berikut :

pendidikan / tarbiyah adalah :

هي الاسلوب الامثل في التعامل مع الفطرة البشيرة توجيها مباشرا بالكلمة وغيرمباشر بالقدوة وفق منهج خاص ووسائل خاصة لاحداث تغيير في الا نسان نحوالا حسن

“Cara ideal berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung sesuai dengan sistem dan strategi yang khas untuk memproses perubahan (mendesain) manusia menuju kondisi lebih baik.”

Kalau kita perhatikan pengertian pendidikan di atas  akan timbul beberapa pertanyaan, “Bagaimana cara yang ideal itu ?” “Siapakah yang telah melakukan dengan cara yang ideal ?” “Darimana kita dapatkan referensinya ?”

Tentu cara yang paling ideal adalah cara-cara yang diajarkan Allah Subhanahu Wa ta’ala kepada Nabi-Nya (sejak zaman Nabi Adam ) khususnya Nabi Muhammad Sholallohualaihiwasallam dan cara yang diajarkan kepada para Shahabatnya. Secara umum  hal tersebut terdapat dalam Al Qur’an sedangkan secara khusus terdapat dalam Hadits beliau dan secara praktis terdapat dalam Sirah Nabawiyahnya. Kita tidak mungkin mampu melakukan proses pendidikan dengan ideal kecuali dengan mengikuti manhaj (pola dasar) para Nabi. Itulah arti ungkapan Imam Syauki yang berbunyi :

كادالمعلم ان يكون رسولا

“Hampir-hampir guru itu seperti Rosul”

Keberhasilan Nabi Muhammad sholallohualaihiwasallam dan para Shahabat dalam mendidik manusia sangat luar biasa. Seorang diplomat Parsi mengakui ”keajaiban ini” dengan ungkapan polosnya : ”Umar telah merobek-robek (memakan) hati kami, karena telah mengajarkan anjing padang pasir menjadi manusia-manusia yang beradab.”

Seperti kita ketahui bersama, kondisi masyarakat Arab saat itu sangat biadab sehingga diibaratkan seperti “anjing padang pasir.” Bahkan Al Qur’an melukiskan kerimbaan masyarakat Arab pada saat itu lebih ganas dari sekedar anjing padang pasir.

Allah Subhanahu Wa ta’ala  berfirman :

 وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ(8)بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ(9)

“dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa mereka dibunuh ?” (QS. At Takwir : 8-9)

Demikian Rosulullah sholallohualaihiwasallam telah berhasil mendidik masya-rakat Arab yang sangat biadab  menjadi masyarakat yang sangat beradab yaitu “masyrakat madani” (masyrakat madinah)

MODEL PENDIDIKAN QURAN

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13)

  1. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Ayat ini menjadi salah satu model pendidikan islam ,yang membekali setiap peserta didik  dengan karakter terbaik, terkuat  dan terkokoh yaitu aqidah/keimanan  yang lurus sekaligus menutup rapat-rapat kesyirikan yang menghancurkan karakter yang paling dasar bagi manusia,dan komunitasnya.

Alloh menggambarkan pendidikan berbasis aqidah dengan gambaran yang  jelas,gamblang dan pengaruhnya dalam pembentukan karakter yang sangan kuat,generasi kita kita sebagai berikut:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,”

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya mengetengahkan :

قال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس في قوله: { مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً } شهادة أن لا إله إلا الله، { كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ } وهو المؤمن، { أَصْلُهَا ثَابِتٌ } يقول: لا إله إلا الله في قلب المؤمن، { وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ } يقول: يرفع بها عمل المؤمن إلى السماء.

”Berkata Ali bin Abi Tholhah,dari Ibnu Abbas dalam  ayat

 { كَلِمَةً طَيِّبَةً } /kalimat yang baik adalah shahadat Laa ilaaha illallooh,

 { كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ }/pohon yang baik adalah seorang mukmin

 أَصْلُهَا ثَابِتٌ }  {/akarnya kokoh adalah Laa ilaaha illallooh dalam hati seorang mukmin

{ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ } adalah dengan syahadat amal seorang mukmin terangkat ke langit.

Baganya sebagai berikut :

web

Alloh juga menggambarkan betapa rapuh dan hancurnya kepribadian seseorang jika tauhidnya/imannya rusak diantaranya :

حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ (31)

“Dengan ikhlas kepada Alloh, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa yang memepersekutukan sesuatu dengan Alloh, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” ( QS . 22 :31)

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (41)

  1. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.

Maksud ayat di atas adalah,jiwa seoprang muslim yang aqidahnya rusak akan sangat lemah,karena bersandar pada makhluk yang  lemah,berbeda dengan seorang yang bertauhid ia bergantung kepada Alloh zat yang maha kuat.

Pribadi yang lemah tauhidnya adalah gambaran generasi lemah yang terbonsai oleh kungkungan makhluk. Mirip dengan ilustrasi berikut :

web-jpg2

 Inilah potret generasi bonsai yang hanya menampilkan casingnya ,sangat lemah akar dan pondasinya.

الشخصية الموحدة

PIGUR PRIBADI YANG BERTAUHID

  1. Nabi Muhammad shollallohualaihiwasallam

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”

Beliau merupakan sosok terkuat aqidahnya sehingga pribadi yang paling kokoh karakternya.  Dahsyat pribadi beliau terlihat ketika menghadapi salah satu tantangan terberatnya. Ketika itu pendukung rosululloh rontok satu-demi satu bahkan paman beliau sebagai salah satu bemper terkuat meminta supaya beliau menghentikan dakwahnya, Apa jawaban beliau ?.

Inilah jawaban yang menggambarkan kokohnya pendirian beliau yang lebih kokoh dari karang bahkan makhluh terkokoh sekalipun:

يا عم، والله لو وضعوا الشمس في يمينى والقمر في يسارى على أن أترك هذا الأمر ـ حتى يظهره الله أو أهلك فيه ـ ما تركته

“Ya pamanku ,demi Alloh seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kaananku dan bulan di tangan kiriku,agar aku meninggalkan perkara ini (dakwah tauhid),tidak mungkin sehingga Alloh memenangkan atau menghancurkannya,Aku tidak akan meninggalkannya.”

  1. Kholid bin Walid

Beliau adalah sosok tangguh didikan Rosululloh dengan tauhidnya, mental bajanya tergambar sangat jelas ketika beliau memimpin pasukannya. Inilah ucapan pribadi yang mentalnya sangat tangguh :

أسلم تسلم أو اعقد لنفسك وقومك الذمة وأقر بالجزية وإلا فلا تلومن إلا نفسك فقد جئتك بقوم يحبون الموت كما تحبون الحياة

“Masuk islamlah anda akan selamat, atau berakadlah dirimu dan kaummu sebagai ahluldzimmah (arang kafir yang tunduk dengan hukum pemerintah islam) dan berikrarlah dengan membayar zijyah (pajak), kalau engkau menolak janganlah salahkan kecuali pada dirimu, karena anda akan berhadapan dengan suatau kaum yang mencintai kematian sebagai mana kalian semua mencintai kehidupan.”