ENAM PILAR PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM

Kerja pendidikan dalam pandangan Islam dipandang sebagai profesi kenabian, sehingga memiliki ikatan yang kokoh dengan hakekat Islam itu sendiri. Ada 6 (enam) pilar paradigma pendidikan Islam yang dapat dijadikan pijakan inti dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam.

14947524_1121822471186884_594767761445743288_n

Pertama, Pendidikan Islam lahir dalam rangka memberikan gambaran yang utuh dan tuntas tentang hakikat kehi-dupan fisis maupun metafisis, menyangkut hakikat ke-Tuhanan, hakikat dunia, serta hakikat manusia baik secara duniawi maupun ukhrowi. Semua terangkum dalam paket Syariat Islam yang paripurna. Dalam konsep pendidikan Islam pemahaman akan keutuhan ajaran Islam dapat terbingkai dengan baik jika dan hanya jika basis konsep ini disandarkan pada dhowabit / kaidah dan alur yang benar. Alur ini dimulai dengan menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pijakan inti sebagaimana isyarat untuk mengaproksimasi objek ayat kauniyah (alam semesta / universum). Keluasan konsep ini akan melahirkan wacana berfikir ummat yang berlevel rahmatan lil’alamin. Islam tidak hanya dijadikan sebagai simbol ritual dengan hingar-bingar di wilayahnya, namun sangat sunyi-senyap di wilayah lain. Konsep ini juga akan memastikan bahwa kemusliman seseorang sangat tidak berarti jika ia hanya mampu menegakkan Islam pada dataran individu an sich. Islam hanya digambarkan dengan protokoler akti-vitas masjid dan mengharamkan diri memasuki wilayah politik, sosial, ekonomi, budaya, dan hankam. Tuhan digambarkan seakan-akan hanya sebagai penguasa masjid, penguasa individu, bukan sebagai penguasa alam semesta, petala langit dan bumi serta seluruh aspek kehidupan kita. Konsep dasar ini tertera dalam firman Allah SWT :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الاِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan telah Aku cukupkan nikmatKu padamu dan Aku telah ridho Islam menjadi agama kalian..”

(QS. Al Maidah : 3)

Pada ayat yang lain Allah SWT juga berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (totalitas)…”

(QS. Al Baqarah : 208).

Kedua, Keseimbangan merupakan salah satu kata kunci dalam praktik pendidikan. Artinya penguasaan dan pemahaman suatu konsep Islam sangat tidak berarti jika tidak diikuti oleh interaksi diri secara intens terhadap ajaran Islam. Muslim yang telah mendapatkan pendi-dikan Islam yang benar laksana sepotong kapur yang dimasukkan ke dalam tinta Islam. Ia akan memiliki warna sesuai warna Islam, baik aspek internal maupun tampilan eksternal. Tidak keluar ucapan dari mulutnya kecuali lafal-lafal Islam, pemikirannya tidak menghasil-kan konsep kecuali konsep yang Qur’ani, perasaannya tidak tersentuh kecuali sentuhan nilai nabawi dan jasad-nya tidak melakukan gerakan kecuali gerakan yang sis-tematis dan alami. Merekalah yang oleh Al Qur’an sering disebut muslim kaffah.

Ketiga, Kesemangatan, kecerahan, keseriusan, dan kebermak-naan hidup merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan Islam. Unsur ini muncul karena sistem pendidikan Islam adalah sistem yang elastis dan adaptif yang mampu melahirkan kader yang dinamis. Elastisitas pendidikan Islam sesuai dengan hakikat Islam itu sendiri yang meletakkan sistem ijtihad sebagai salah satu piranti hukum. Dalam Islam sendiri sangat masyhur kaidah yang berbunyi “Senantiasa menjaga yang lama yang baik (berkualitas ) dan mengambil sesuatu yang baru yang jauh lebih baik”. Imam As Syafi’i berkataKulihat air yang diam  membusuk dan air yang bergerak senantiasa jernih“. Esensi dinamis dalam pendidikan Islam menyangkut dua hal penting, yaitu dinamis secara kualitatif dan dinamis secara kuan-titatif. Membangun generasi dinamis secara kualitatif dapat dilakukan dengan mengukur perkembangan ke-kuatan hafalan, kekuatan pemahaman, kekuatan analisis, sintesis maupun kemampuan menilai. Tentu hal ini dilakukan secara holistik baik terhadap ayat-ayat kauliyah maupun ayat-ayat kauniyah. Apabila kekuatan dinamisasi bidang ini dimiliki oleh setiap kader anak didik kita, maka akan mampu meningkatkan kemuliaan kedudukan mereka dalam masyarakat, sekaligus men-jadi magnet besar masyarakat kepadanya. Hal ini didukung kekuatan hujjah yang sangat argumentatif. Mereka adalah sosok unik yang mampu mengekspresi-kan diri lain daripada yang lain. Berbeda dengan Kenyataan yang kita lihat sekarang ini. Islam dalam produk pendidikan kita diartikulasikan dalam bahasa yang sangat kaku, tradisional, mengekor dan sebangsa-nya. Kalaupun action mereka berbeda justru pada sisi dan nilai westernisasinya, bukan pada substansi modernisasinya.

Keempat, Islam mengajarkan bahwa hidup adalah ujian. Hidup adalah permainan. Siapa yang selalu memper-siapkan diri dan selalu belajar dialah yang akan menang. Mereka yang berani menjemput bola dan pro-aktiflah yang akan sukses. Oleh karena itu pendidikan Islam sebagai wahana aktualisasi syariat Islam sangat menekankan pentingnya praktik lapangan dalam setiap aspek pembelajaran. Muslim yang baik adalah yang memiliki idealita setinggi langit namun kaki tetap berpijak pada bumi. Kita boleh dan bahkan harus memiliki konsep yang ideal dalam hidup ini. Kita juga harus menjadi orang yang pertama kali berani melaku-kan praktik dan menekuni pekerjaan sesederhana apapun selama pekerjaan itu memiliki basis konseptual yang kokoh. Dengan praktik langsung di lapangan, seseorang akan dapat merasakan hakikat dunia yang sesungguhnya, yang tidak mungkin diperoleh lewat alam pemikiran. Allah SWT banyak sekali memerintah-kan kepada kita untuk melakukan praktik lapangan sebagaimana firman-Nya :

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (105)

Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu maka Allah dan Rosul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan pada (Allah ) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan

(QS. At Taubah : 105).

Dalam pepatah kita sangat populer istilah :

”Pengalaman adalah guru yang terbaik, dan setiap orang yang ingin menjadi guru yang baik mesti harus berpengalaman”.

Jika ingin menjadi guru yang baik bagi dirinya, maka ia harus mempunyai pengalaman terhadap dirinya. Jika ingin menjadi guru yang baik dalam keluarga maka ia harus mempunyai pengalaman terhadap keluarganya dan sebagainya. Muara dari akumulasi pengalaman akan menjadi life skill bagi dirinya. Dengan kata lain, tidak ada sebuah profesionalisme diri kecuali melalui praktik lapangan.

Kelima, Hakikat pendidikan Islam adalah seni membangun manusia. Esensi dari seni membangun manusia adalah membangun dan memunculkan rasa kesadaran pada diri anak didik. Bangunan kesadaran diri inilah yang melahirkan pribadi bertanggung jawab. Pada dasarnya semua aktivitas di dunia ini tidak akan memberikan makna apa-apa kalau pelakunya adalah para peng-khianat. Sistem dan manajemen sebaik apapun akan hancur bila tidak ada rasa tanggung jawab para pelaku-nya. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berbasis hakikat fitrah kehidupan yang berupa kejujuran, amanah, dan keadilan. Tanggung jawab seorang muslim tentunya tanggung jawab vertikal kepada Allah SWT. Sebuah tanggung jawab yang akan melahirkan jiwa jujur, amanah serta perasaan selalu diawasi oleh Sang Khaliq (pencipta ) dalam setiap amalnya. Allah SWT berfirman :

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الاَرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (59)

Disisi Allahlah kunci-kunci yang ghaib, tidak ada yang tahu dalam masalah yang ghaib kecuali Allah. Allah maha mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan di lautan. dan tidak jatuh sehelai daun kecuali dalam pengawasan Allah. Dan tidak ada sebutir bijipun yang gugur dalam kegelapan bumi, dan tidak ada sesuatu yang basah dan yang kering kecuali semua tercatat dalam kitab Allah yang nyata”.

(QS. Al An’aam : 59 ).

Rakitan emosional inilah yang dalam istilah Islam disebut dengan sikap ikhsan, yaitu mereka yang ber-ibadah seolah-olah melihat Allah dan kalaupun mereka tidak melihat Allah maka pastilah Allah melihat mere-ka. Jiwa inilah yang menjadi landasan paling esensi profesionalisme. Tanggung jawab yang kedua adalah tanggung jawab horisontal sesama mahluk Allah, khu-susnya manusia. Tanggung jawab inilah yang tersim-pulkan dalam diri Rosulullah dengan sifat asasi beliau yang disebut Tabligh. Dengan sikap ini beliau mem-punyai public relationship yang luar biasa. Beliau adalah orang yang ketika berkumpul dengan pengemis seakan pengemis yang paling pengemis dengan segala perangkat kerendahan hati, kelembutan budi dan kesederhanaan sikap. Semua itu karena kemampuan adaptif jiwa dan perasaannya yang sangat luar biasa dengan lingkungan. Sebaliknya jika beliau berkumpul dengan para raja beliau adalah rajanya para raja, dengan kehebatan, kewibawaan, kecerdasan dan kecerdikan, ketangkasan, ketangguhan sikap, dan segudang integri-tas diri lainnya. Sehingga beliau adalah satu-satunya orang yang paling berhasil dan sukses setiap menyam-paikan visi dan misi kepada orang lain. Berbeda dengan kebanyakan kita, jika kita tinggi kedudukannya maka merasa risih dan mudah merendahkan martabat masyarakat kalangan bawah. Sedangkan jika kita ber-kumpul dengan kelompok di atas level kita, kita merasa kehilangan kepercayaan diri.Para generasi kita gagal membangun komunikasi dialogis dengan berbagai kelompok dengan menghilangkan atau meminimalisir sekat-sekat psikologis ketika sedang berinteraksi. Kiranya sudah seharusnyalah kita merenungkan kem-bali ajaran kita yang berbunyi

Hendaknya kalian menempatkan manusia sesuai dengan habitatnya, berbicara kepada kaumnya sesuai dengan bahasa kaumnya serta sesuai dengan kapasitas intelektualnya”.

Keenam, Muara dari sistem pendidikan Islam adalah mem-bangun profesionaliame pada individu. Profesionalisme dalam pandangan Islam mempunyai perbedaan visi dengan profesionalisme menurut istilah umum (sekuler). Profesionalisme harus mempunyai dua fondasi inti yaitu ikhsan dan itqan. Ikhsan telah dijelas-kan pada poin kelima, sedangkan itqan adalah sikap kokoh yang digambarkan oleh Allah seperti alam ciptaan-Nya berupa gunung. Pribadi itqan adalah pribadi yang memenuhi lima syarat yaitu ”Penampilan yang Meyakinkan, Konsep yang Argumentatif, Sikap yang Familier, Jiwa yang Dinamis, serta Sosok Pribadi yang Militan”.

Sikap itqan digambarkan oleh Allah sebagaimana alam semesta yang memiliki sifat :

  1. Disiplin yang tinggi (Syahsiah Inthibatiyah)
  2. Semangat baja (Jiddiyah)
  3. Beramal dengan kontinyu (Istimroriyyah)
  4. Produktivitas (Intajiyah)
  5. Penghargaan yang tinggi terhadap waktu (Harishon ‘ala Waqtih)

Allah berfirman :  

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ  (88)

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalan-nya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS. An Naml : 88)

Dari keenam pilar di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam pada dasarnya adalah sistem pendidikan yang ingin melahirkan ”Pribadi Standar” yang mampu melahirkan ”Keluarga Standar, Masyarakat Standar, Negara Standar, dan Dunia yang Standar” di bawah naungan syariat Islam.

Oleh : Ustad Kastori, S.Pd. (Pengasuh Ponpes. Terpadu Ulul Abshor, Semarang)

Jl. Karangrejo II/25 A, Banyumanik, Semarang.