KARAKTERISTIK PENDIDIKAN ISLAM

Pembahasan mengenai pendidikan Islam tentu tidak bisa terlepas dari karakteristik pendidikan Islam itu sendiri. Beberapa karakteristik istimewa pendidikan Islam adalah :

1) Robbaniyah

Inilah dasar ideologis yang luar biasa dalam pendidikan Islam. Dasar ini pula yang menyebabkan pakar non muslim barat “JEAN L HEURENS” mengatakan : “Islam mempunyai daya takluk yang sangat luar biasa secara damai terhadap jiwa dengan kesederhanaan teologinya, kejelasan dogma dan asas-asanya…”.

Dengan prinsip ini, setiap objek didik diberi konsumsi ilmu tauhid yang sangat dasyat, yang mampu memerdekakan dirinya, sehingga menjadi orang yang paling merdeka hidupnya. Sedangkan kemerdekaan adalah salah satu hakikat asasi makhluk untuk bisa dikatakan sebagai manusia. Pendidikan adalah memanusiakan manusia, seni membangun manusia. Manusia pada hakikatnya belum dikatakan manusia yang sebenarnya kecuali dalam dirinya ada “kemerdekaan.” Itulah sebabnya Allah SWT memberikan hikmah besar kepada Lukmanul Hakim karena mengajarkan anaknya dengan tauhid:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لا بْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ(13)

“Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah karena sesungguhnya menyekutukan Allah adalah dosa yang paling besar.” (QS. Luqman : 13)

14947524_1121822471186884_594767761445743288_n

2) Integral

Salah satu kehebatan Islam adalah senantiasa meletak-kan sesuatu secara adil. Pendidikan Islam merupakan suatu sistem pendidikan yang meletakkan dasar-dasar pendidikan secara utuh, seimbang antara berbagai aspek baik aspek aqliyah, ruhiyah, maupun jasadiyah; unsur dzikir, fikir, dan ikhtiar; pengembangan personal dan komunal; mengembang-kan kepercayaan metafisis maupun empiris, memberi beban materi dan metodologi serta perhatian terhadap dunia dan akhirat dll. Dengan sistem ini, pendidikan Islam mampu menghasilkan sosok pribadi yang utuh.

14906908_1124482124254252_7997142568461571182_n

3) Fleksibel

Murunah (lentur) adalah bagian dari sifat hakiki pendidikan Islam, di kalangan ulama telah disepakati adanya sebuah aksioma :

المحافظة على القديم الصالح والاخذ بالجديد الاصلح

“Menjaga/mempertahankan sesuatu yang lama yang baik dan mengambil/menerima sesuatu yang baru yang jauh lebih baik”.

Dengan unsur ini setiap pelaku pendidikan Islam akan menjadi dinamis, memiliki visi ke depan, tidak alergi terhadap setiap perubahan, serta menerima perubahan dari manapun asalkan dalam koridor nilai-nilai aqidah dan syariah.

14915557_1121843177851480_3314777389710812751_n

4) Realistis, Profesionalis dan Spesialis

Islam mengajarkan kepada kita agar menjadi manusia yang bercita-cita setinggi langit, akan tetapi kaki tetap berpijak di bumi. Kita boleh berkonsep sampai Z namun kita harus berani mengawalinya dari A. Sejak awal Rosulullah dan para Shahabat mendidik umat ini untuk memahami hakikat alam nyata ini. Berbekal kemampuan visi misi, ma’rifatul maidan (penghayatan dan pengalaman lapangan) kita mampu menjadi generasi tangguh, serta mampu menyelesaikan tugas-tugas hidup dengan hasil yang memenuhi standar optimal (baik dan benar), sebagaimana Rosul SAW bersabda kepada para Shahabatnya :

ان الله يحب اذا عمل احدكم عملا ان يتقنه

“Sesungguhnya Allah mencintai seorang diantara kamu yang melakukan amal dengan itqan (profesional)

(HR. Tirmidzi).

Orang tidak mungkin menghasilkan karya yang profesional kecuali dalam hidupnya memiliki minimal satu spesialisasi keilmuan. Itulah sebabnya Islam meletakkan dasar-dasar profesionalisme dengan dua sifat pokok ikhsan dan itqan.

Karakteristik pendidikan Islam yang khas tidak saja mampu menghadirkan masyarakat Madinah kala itu gegap gempita dengan suasana keagamaannya, namun pendidikan Islam yang dimulai dari rumah Arqam bin Abil Arqam sampai ke masjid Khan dan Madrasah ini juga mampu melahirkan embrio inti ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK )

Pada abad 8-9 M Islam telah menghasilkan  ilmuwan-ilmuwan terkemuka di bidang IPTEK yaitu Jabir ibn Hayyan, bapak ilmu kimia , pendiri laboratorium pertama; Al khawarizmi, matematikawan ulung pertama; Al Kindi, filsuf penggerak dan pengembang ilmu pengetahuan; Abu Kamil Syuja’, ahli aljabar Islam tertua; Ibnu Masawayh, dokter spesialis diet; Alfaghani, astronom yang karyanya banyak diterjemahkan; Tsabit bin Qurroh, ahli geometri terbesar yang membahas waktu matahari; Al Battani, astronom yang melakukan observasi secara gemilang; Habasy al Marwazi, astronom sejak remaja; Zakariyya Ar – Razi, dokter penemu penyakit cacar dan darah tinggi.

Sumber : Buku “Surat Sakti” karya : Drs. Kastori (Pengasuh Ponpes. Terpadu Ulul Abshor)

14708198_1115010081868123_6250392558277609063_n

Bagikan