Alam Semesta Disediakan Untuk Manusia

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

brosur-smp-anyar-depan

Allah menciptakan manusia untuk beribadah pada Nya. Oleh karena itu, Allah menyediakan segala fasilitas untuk manusia. Allah menciptakan bumi dan seisinya untuk manusia, untuk dijaga kelestarian, untuk dikonsumsi, untuk mempermudah proses hidup yang butuh konsumsi.

Bumi ini harus dijaga kelestarian dan sumber daya di dalamnya. Maka jikalau rusak, semua akan kacau. Bukan hanya kehabisan sumber, bahkan terjadi pertikaian disebabkan kekurangan sumber pangan, bahkan pembunuhan. Banyak kasus terjadi disebabkan factor ekonomi, merampok demi membeli sesuap nasi untuk melepas dahaga perut.

Begitu pula alam semesta. Jikalau tidak seimbang, maka akan kacau lingkungan. Ibaratnya, bumi satu detik saja berhenti, maka apa yang terjadi ? Gempa, sungguh gempa terjadi. Dan kita bisa melihat dampak dari dahsyat gempa itu sendiri, mulai dari jutaan bangunan rusak, bahkan nyawa nyawa berjatuhan. Begitu pula alam semesta berupa bumi dan seisinya.

Tidak sedikit orang masih menggunakan logika yang terasa sempit. Pada musim idul adha, mereka seolah sedih bahkan tidak tega melihat hewan hewan disembelih mati, lalu dibagikan kepada seluruh orang yang membutuhkan.

Dalam batin mereka,
“ Kasihan, itu hewan punya anak punya istri. Biarkan saja hidup. Kok dibunuh kan sama sama makhluk hidup.”

Saudara, sejatinya semua yang kita makan merupakan makhluk hidup. Tumbuhan pun makhluk hidup. Lantas kalau Anda tidak makan daging yang tentu dari hewan tidak masalah. Tapi kalau Anda beralasan tidak makan daging karena makhluk hidup, maka tumbuhan juga makhluk hidup.

Pada dasarnya, semua bumi dan isinya untuk manusia. Maka sudah menjadi jatah kita untuk mengambil dan menkonsumsinya. Bahkan jikalau tidak, maka akan timbul bencana.

Kok bisa ?

Itulah yang menarik. Mari terus berlanjut.

Hikmah Dibolehkan Makan Daging

Ini hanya pendapat pribadi.
Ketika suatu ekosistem membludak, maka sudah pasti akan terjadi kekacauan dan kerusakan alam. Contoh, andai semua ikan di laut tidak ada yang mengambilnya, maka laut akan rusak. Karena membludaknya ikan ikan di situ membuat karang rusak, hancur, maka laut akan rusak. Ikan ikan akan saling berperang memperbutkan plankton. Dan jikalau habis, maka ikan ikan itu akan mati. Mati membusuk di pinggir pantai. Dan jutaan ikan membusuk tentu mengganggu ekosistem.

Jika Anda beralasan, “ Kan ada yang memakan ikan ikan itu seperti hiu.”
Betul, tapi berapa sih jumlah hiu yang masih tersisa. Hiu hiu tidak akan cukup menyeimbangkan ekosistem laut karena sangat sedikit jumlahnya. Apalagi banyak perburuan hiu, sudah pasti semakin terpuruk.

Maka ambillah ikan ikan itu. Konsumsilah. Itu menjadi anugerah langit yang sangat bernilai. Di samping itu, akal manusia cerdas mengolah menjadi ramuan rasa yang luar biasa. Karena kita memakan ikan, kita melestarikan lingkungan laut.

Sekarang masuk wilayah daratan.

Di India, jelas dilarang untuk menkonsumsi daging sapi. Akibatnya, sapi sapi membludak di sana. Nah, kalau masih hidup tidak boleh dimakan. Lantas bagaimanakah jika sapi sapi itu mati ?

Ya termasuk problem di sana adalah ketika hewan itu mati, maka pencemaran lingkungan dahsyat terjadi. Dan sangat mencemarkan lingkungan. Karena bangkai terlalu besar dan banyak, dibuang kemana pun akan membekas dan menjadi masalah lingkungan tersendiri di sana.

Sapi itu adalah hewan yang sudah pasti tidak mengurus diri ketika sapi lain mati. Maka menjadi problem tersendiri di sana. Maka alangkah indah, kita menkonsumsinya untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Mengambil Bukan Berarti Berlebihan

Ingat, kita mengambil bukan untuk merusak, tapi untuk menyelamatkan lingkungan. Kalau berlebihan, bisa muncul problem baru. Misalnya, karena dikuasai pihak tertentu, sapi sapi di negeri ini menjadi langka. Maka untuk mencukupi kebutuhan daging sapi, maka Negara memilih impor daging sapi. Hal ini menimbulkan pemborosan yang tidak perlu terjadi.

Pesan saya, konsumsilah daging. Nabi juga makan daging. Tapi tentu dengan syarat daging yang dihalalkan.

Mengapa begitu ?

Sekali lagi, mengambil bukan berarti berlebihan. Boleh memakan daging bukan berarti bebas memilih daging. Karena tidak semua daging hewan itu aman, bahkan ada yang sangat berbahaya mengandung cacing pita yaitu daging babi.