Cinta Adalah Anugerah dari Allah

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

brosur

brosur-1

Rasa cinta adalah fitrah yang telah Allah anugerahkan kepada setiap hamba. Fitrah yang dimaksud adalah kecintaan terhadap apa yang diinginkan oleh jiwa dan tergeraknya hati untuk memiliki atau mendapatkannya.

Dan ketahuilah bahwa semua perbuatan yang kita lakukan, maka mesti diawali dengan keinginan dan kecintaan. Sampai-sampai, menolak dan menghindar dari hal-hal yang dibenci, maka ia menghindarinya karena memiliki keinginan dan kecintaan untuk mendapatkan lawan dari apa yang ia benci. Karena itulah, ini menjadikan cinta memiliki kedudukan yang tinggi di dalam syariat.

Secara garis besar, dalam Islam, cinta itu terbagi menjadi dua: cinta yang khusus dan cinta yang umum. Cinta yang khusus terbagi lagi menjadi dua: cinta yang disyariatkan dan cinta yang diharamkan.

Cinta yang disyariatkan banyak bentuknya. Di antaranya adalah cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan syariat Allah. Cinta seperti ini adalah bentuk kewajiban yang paling besar landasan di dalam Islam. Allah menceritakan keadaan kaum mukminin dalam kecintaan mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ

“Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan. Mereka mencintainya, sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cinta mereka kepada Allah.“ (QS. Al Baqarah: 165)

Kecintaan yang dengannya seorang mukmin mendahulukan segala apa yang Allah cintai dan ridhai di atas keinginan dan keridhaan dirinya. Kecintaan yang mendorong untuk senantiasa taat beribadah kepada Allah, cinta yang mendorong karena berbagai macam kebaikan dan kebahagiaan.

Dengan mengedepankan cinta kepada Allah, akan dapat menikmati kelezatan iman, sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada tiga perkara, yang apabila ketiganya ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman. [1] Apabila Allah dan rasulNya lebih ia cintai daripada yang selain keduanya. [2] Apabila ia mencintai seseorang, namun ia tidak mencintai, kecuali karena Allah. Dan [3] apabila ia tidak suka untuk kembali ke dalam kekafiran sesudah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, seperti halnya ia tidak suka jika ia dilemparkan ke dalam api Neraka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Cinta kepada Allah adalah salah satu sebab tersebut. Allah golongkan kita termasuk orang-orang yang diberikan kenikmatan dunia dan akhirat. Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seseorang datang kepada beliau, lalu bertanya,

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Kapan terjadi kiamat, wahai Rasulullah?” Kemudian Nabi balik bertanya, “Apa yang telah engkau siapkan untuk menghadapinya?” Sahabat tadi pun menjawab, “Tidaklah aku mempersiapkan dengan banyaknya shalat, shaum, sedekah, tetapi aku mencintai Allah dan RasulNya.” Maka Nabi bersabda, “Seseorang itu bersama siapa yang ia cintai.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Di antara cinta yang disyariatkan adalah cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadikan beliau orang yang paling dicintai di atas segalanya dari kalangan makhluk. Rasulullah bersabda dalam hadits yang shahih,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

“Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai aku adalah orang yang dia paling cintai dibandingkan anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan  Muslim)

Dalam hadits ini, disebutkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah adalah bukti kesempurnaan iman. Bentuk kecintaan terhadap Rasul dibuktikan dengan kita mengedepankan apa yang Rasulullah cintai, dari itu melaksanakan perintah-perintah beliau dan menjauhi larangan-larangan beliau, membenarkan kabar-kabar yang datang dari beliau dan beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang beliau contohkan.

Termasuk cinta yang disyariatkan adalah cinta kepada para nabi, para rasul, dan orang-orang shalih. Cinta kepada mereka dikarenakan mereka adalah orang-orang pilihan Allah dan senantiasa melaksanakan ketaatan kepada Allah, sehingga Allah pun mencintai mereka. Juga mencintai kesabaran yang ada pada mereka, ketakwaan dan amalan-amalan baik yang mereka kerjakan. Mencintai orang-orang shalih akan mendorong kita mengikuti jejak mereka serta mencontoh akhlak dan adab mereka yang mulia.

Akhirnya, muncul harapan agar Allah golongkan bersama mereka  (para nabi dan orang-orang shalih). Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa dengan kecintaan seseorang dapat disatukan bersama siapa yang dia cintai,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang itu bersama dengan siapa yang dicintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, cinta yang diharamkan adalah cinta yang mengandung kesyirikan. Maksudnya, seseorang menjadikan sesuatu  yang ia cintai itu seperti cintanya kepada Allah atau bahkan lebih besar daripada kepada Allah.

Demikian juga dengan mencintai harta, anak atau kerabat hingga ia berani melakukan apa yang Allah haramkan demi yang dicintainya itu. Cinta yang menjadikan seseorang tunduk dan patuh pada apa yang ia cintai dari selain Allah diharamkan. Hal ini telah Allah ingatkan dalam firmanNya,

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakan [wahai Muhammad], ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai daripada Allah dan rasulNya serta berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik’.” (QS. At Taubah: 24)

Adapun cinta yang umum, itu adalah cinta yang sifatnya tabiat seperti cinta harta, cinta anak, cinta kepada istri, cinta kepada orangtua. Meski demikian, cinta jenis ini tidak boleh sampai membuatnya tunduk kepadanya. Cinta jenis ini dibolehkan selama tidak mendorong seseorang itu melakukan apa yang Allah larang. Setiap hamba diberikan fitrah untuk mencintai dan menyayangi sesamanya. Allah tegaskan itu di dalam firmanNya,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan terhadap apa yang diinginkan, baik itu berupa kaum wanita anak-anak dan harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah-ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14)

Dan yang seperti itu mengingatkan kita kepada apa yang banyak dikerjaan oleh banyak orang pada hari ini (bahkan sebagian kaum muslimin) ketika mereka merayakan Valentine Day. Perayaan seperti ini tidaklah ada dalam Islam. Terlebih lagi, perayaan seperti ini mengungkapkan kecintaan kepada perkara yang Allah haramkan.

Oleh karena itu, selayaknya kaum muslimin meninggalkan perkara-perkara yang akan membahayakan agamanya dan melemahkan imannya. Dan hanya kepada Allah-lah kita mengadu, bersandar, dan memohon pertolongan.

Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: Buletin Jum’at Dakwah Islam, No. 69, Ponpes Al Islam Cileunyi, Kab. Bandung, Jawa Barat.

Bagikan