RIHLAH DALAM MENUNTUT ILMU

Selayaknya bagi seorang muslim senantiasa memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar ia diberikan pemahaman akan agamanya, dikarenakan Ilmu adalah suatu jalan yang akan menyampaikannya kepada keselamatan di dunia dan akhirat.
Ilmu tidak mungkin terpenuhi melainkan dengan berusaha menempuh segala sebab-sebab yang akan mengantarkannya untuk hal tersebut, yakni berusaha untuk mempelajarinya.

Dan yang perlu diperhatikan bahwa seorang penuntut ilmu hendaknya memiliki guru dan tidak membiarkan dirinya belajar sendiri tanpa bimbingan. Seseorang yang memiliki guru akan memperoleh berbagai manfaat.
Akan tetapi ketika mereka belajar sendiri, hal ini bisa membahayakan dirinya terhadap suatu pemahaman yg salah.

Nabi Musa ‘Alaihis salam setelah memperoleh kabar dari Allah Subhanahu Wa Ta’alaa’ala bahwasannya seorang hamba-Nya yang bernama khidir ‘Alaihis salam memiliki ilmu yang tidak diketahui olehnya. Maka ia pun memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar ditunjukkan jalan baginya untuk bisa berjumpa dengannya dan tidak merasa puas diri atau merasa cukup dari apa yang beliau peroleh dari ilmu. Untuk tujuan itu pula beliau mau bersusah payah, dan juga memikul lelah dalam menempuh jalan untuk bisa bertemunya dengan Nabi Khidir tersebut serta menimba ilmu darinya, sebagaimana yang Allah telah kisahkan di dalam Surah Al-Kahfi, dalam keadaan beliau seorang Nabi yang Mulia ‘alaihis salam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة. رواه مسلم

“Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan mudahkan jalannya masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim)

Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughiroh bin Bardizbah Al Bukhara Rahimahullah _(Imam Bukhori)_ beliau melakukan Rihlah _(Perjalanan Menuntut ilmu)_ selama 46 Tahun (210 H-256 H).
Beliau sampai tidak bisa menghitung berapa banyak memasuki kota Kufah dan Baghdad bersama ahli hadits Khurasan. Dan Imam Bukhori memiliki 1.080 Guru yang tersebar di Hijaz, Makkah, Madinah, Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam, dan Mesir
Ini menunjukkan bahwa Beliau dalam belajar selalu mengambil dari Guru, dan seluruh Guru Imam Bukhari (1.080) memiliki Aqidah yang sama , tidak ada perselisihan didalam prinsip-prinsip Aqidah.

Diantara Kriteria Seorang Guru yang boleh kita mengambil ilmu darinya :

1. Aqidahnya yg selamat, bersih dan tidak ada penyimpangan
2. Manhajnya lurus
3. Ilmu yang diajarkan dilandasi dengan ketulusan, kejujuran dan keikhlasan
4. Dia ( Guru ) menguasai ilmu yang diajarkan.

Menuntut ilmu agama adalah kewajiban bagi kita semua. Tak pandang usia, baik tua maupun muda, sudah seharusnya kita tak pernah letih untuk terus menggali ilmu. Selama jasad masih bersama ruhnya hendaknya seseorang senantiasa menyibukkan dirinya dg menuntut ilmu.

Diantara Faedah lainnya :
1. Dalam belajar agama harus belajar dari Guru. Sebagaimana Rasulullah yang belajar dari Jibril, Sahabat belajar dari Rasulullah, Tabi’in belajar dari Sahabat.

2. Diantara rusaknya pemikiran/ pemahaman seseorang dalam belajar adalah belajar tanpa guru.

3. Seorang Guru mampu meringakas ilmu guna disampaikan kepada penuntut ilmu sebagai modal utk membangun pondasi.

3. Tidak boleh seseorang belajar kepada guru yang aqidahnya menyimpang. Karena ia bisa memasukkan pemahaman-pemahaman yg sesat meskipun dalam pelajaran dasar.

4. Dalam menuntut ilmu perlu merendah diri, sebagaimana Nabi Musa yang sebagai Ulul Azmi tetap belajar kepada Nabi Khidir.

5. Rihlah menuntut ilmu mempunyai banyak keutamaan. Dan diperlukan bagi seorang penuntut ilmu untuk mengulang-ulang rihlahnya.

6. Sepanjang seseorang masih layak hidup hendaknya tetap belajar.

7. Seseorang yang memuliakan ilmu ia akan merasa nyaman dan ringan dalam berbuat baik .

Semoga kita selalu giat dalam menuntut ilmu sesuai dengan syariat supaya kedepanya ilmu yg kita miliki dapat menjadi penolong di akhirat kelak