KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU

Sebab Meraih Kebaikan Dunia dan Akhirat

Sebuah ucapan yang masyhur:

ﻣﻦ ﺃﺭاﺩ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ، ﻭﻣﻦ ﺃﺭاﺩ اﻵﺧﺮﺓ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ، ﻭﻣﻦ ﺃﺭاﺩهما فعليه بالعلم.

Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa menginginkan akhirat maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa menginginkan keduanya maka hendaklah dengan ilmu.
(Al-Imam An-Nawawi menisbatkan ke Al-Imam Asy-Syafi’i tanpa kalimat terakhir. Lihat Al-Majmu:1/20).

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan baginya maka Allah pahamkan dia terhadap agama.
(HR.Al-Bukhari dan Muslim, dari Muawiyah radhiyallahu anhu).

Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah:

ﻓﻴﻪ ﻓﻀﻴﻠﺔ اﻟﻌﻠﻢ ﻭاﻟﺘﻔﻘﻪ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﻭاﻟﺤﺚ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﺒﺒﻪ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﺋﺪ ﺇﻟﻰ ﺗﻘﻮﻯ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ

Dalam hadits ini terkandung keutamaan ilmu dan memahami ilmu agama, serta memotivasinya. Sebabnya adalah: karena memahami ilmu agama menuntun (menuju) taqwa kepada Allah Ta’ala.
(Syarh Shahih Muslim:7/128).

Berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

ﻭﻛﻞ ﻣﻦ ﺃﺭاﺩ اﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﺧﻴﺮا ﻻ ﺑﺪ ﺃﻥ ﻳﻔﻘﻬﻪ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﻓﻤﻦ ﻟﻢ ﻳﻔﻘﻬﻪ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﻟﻢ ﻳﺮﺩ اﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﺧﻴﺮا.

Setiap orang yang Allah inginkan baginya kebaikan, pasti Allah akan pahamkan dia terhadap agama. Dan barang siapa yang Allah tidak pahamkan terhadap agama maka Allah tidak inginkan baginya kebaikan.
(Majmu Al-Fatãwa:28/80).

Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah:

ﻭﻣﻔﻬﻮﻡ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﻥ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺘﻔﻘﻪ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﺃﻱ ﻳﺘﻌﻠﻢ ﻗﻮاﻋﺪ اﻹﺳﻼﻡ ﻭﻣﺎ ﻳﺘﺼﻞ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ اﻟﻔﺮﻭﻉ ﻓﻘﺪ ﺣﺮﻡ اﻟﺨﻴﺮ.

Dipahami dari hadits ini bahwasanya orang yang tidak menuntut ilmu agama yaitu (tidak) mempelajari pokok-pokok islam dan yang berkaitan dengannya berupa cabang-cabang (agama), maka sungguh dia telah diharamkan kebaikan.
(Fathul-Bãri:1/165).

Berkata Al-Allamah ibnu Bãz rahimahullah:
Pemahaman terhadap agama adalah tanda kebahagiaan, yaitu ilmu yang memberi pengaruh kepada pemiliknya rasa takut kepada Allah, melahirkan penggagungan terhadap perkara-perkara yang dimuliakan Allah, dan (melahirkan) rasa diawasi (oleh Allah), serta mendorongnya untuk melaksanakn apa-apa yang diwajibkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diharamkanNya,dan (mendorongnya untuk) berdakwah kepada Allah serta menjelaskan syariatNya kepada hamba-hambaNya.
(Majmu Fatãwa Ibni Bãz:10/7).

Maka bersemangatlah untuk meraihnya dengan cara menuntut ilmu.

Berkata Al-Allamah Al-Utsaimin rahimahullah:
Ini menunjukkan bahwa seorang harus benar-benar semangat dalam memahami agama, karena Allah Ta’ala jika menginginkan sesuatu maka Dia menyiapkan sebab-sebab (yang mengantarkannya). Dan di antara sebab memahami agama adalah engkau menuntut ilmu dan berusaha meraih kedudukan yang agung ini, yaitu Allah menginginkan bagimu kebaikan.
(Syarh Riyãshis-Shãlihîn:5/422).

*Barangsiapa yang ikhlas dalam menuntut ilmu dan memahami agama ini dengan benar maka dengan izin Allah dia akan meraih kebaikan dunia dan akhirat.*

Berkata Al-Imam Ash-Shan’ãni rahimahullah:

فإن الفقه في الدين فيه خير الدارين

Sesungguhnya pemahaman terhadap agama terdapat di dalamnya kebaikan Ad-Dãrain (dunia dan akhirat).
(At-Tanwir:1/520).

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang meraih kebaikan dunia dan akhirat

RIHLAH DALAM MENUNTUT ILMU

Selayaknya bagi seorang muslim senantiasa memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar ia diberikan pemahaman akan agamanya, dikarenakan Ilmu adalah suatu jalan yang akan menyampaikannya kepada keselamatan di dunia dan akhirat.
Ilmu tidak mungkin terpenuhi melainkan dengan berusaha menempuh segala sebab-sebab yang akan mengantarkannya untuk hal tersebut, yakni berusaha untuk mempelajarinya.

Dan yang perlu diperhatikan bahwa seorang penuntut ilmu hendaknya memiliki guru dan tidak membiarkan dirinya belajar sendiri tanpa bimbingan. Seseorang yang memiliki guru akan memperoleh berbagai manfaat.
Akan tetapi ketika mereka belajar sendiri, hal ini bisa membahayakan dirinya terhadap suatu pemahaman yg salah.

Nabi Musa ‘Alaihis salam setelah memperoleh kabar dari Allah Subhanahu Wa Ta’alaa’ala bahwasannya seorang hamba-Nya yang bernama khidir ‘Alaihis salam memiliki ilmu yang tidak diketahui olehnya. Maka ia pun memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar ditunjukkan jalan baginya untuk bisa berjumpa dengannya dan tidak merasa puas diri atau merasa cukup dari apa yang beliau peroleh dari ilmu. Untuk tujuan itu pula beliau mau bersusah payah, dan juga memikul lelah dalam menempuh jalan untuk bisa bertemunya dengan Nabi Khidir tersebut serta menimba ilmu darinya, sebagaimana yang Allah telah kisahkan di dalam Surah Al-Kahfi, dalam keadaan beliau seorang Nabi yang Mulia ‘alaihis salam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة. رواه مسلم

“Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan mudahkan jalannya masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim)

Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughiroh bin Bardizbah Al Bukhara Rahimahullah _(Imam Bukhori)_ beliau melakukan Rihlah _(Perjalanan Menuntut ilmu)_ selama 46 Tahun (210 H-256 H).
Beliau sampai tidak bisa menghitung berapa banyak memasuki kota Kufah dan Baghdad bersama ahli hadits Khurasan. Dan Imam Bukhori memiliki 1.080 Guru yang tersebar di Hijaz, Makkah, Madinah, Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam, dan Mesir
Ini menunjukkan bahwa Beliau dalam belajar selalu mengambil dari Guru, dan seluruh Guru Imam Bukhari (1.080) memiliki Aqidah yang sama , tidak ada perselisihan didalam prinsip-prinsip Aqidah.

Diantara Kriteria Seorang Guru yang boleh kita mengambil ilmu darinya :

1. Aqidahnya yg selamat, bersih dan tidak ada penyimpangan
2. Manhajnya lurus
3. Ilmu yang diajarkan dilandasi dengan ketulusan, kejujuran dan keikhlasan
4. Dia ( Guru ) menguasai ilmu yang diajarkan.

Menuntut ilmu agama adalah kewajiban bagi kita semua. Tak pandang usia, baik tua maupun muda, sudah seharusnya kita tak pernah letih untuk terus menggali ilmu. Selama jasad masih bersama ruhnya hendaknya seseorang senantiasa menyibukkan dirinya dg menuntut ilmu.

Diantara Faedah lainnya :
1. Dalam belajar agama harus belajar dari Guru. Sebagaimana Rasulullah yang belajar dari Jibril, Sahabat belajar dari Rasulullah, Tabi’in belajar dari Sahabat.

2. Diantara rusaknya pemikiran/ pemahaman seseorang dalam belajar adalah belajar tanpa guru.

3. Seorang Guru mampu meringakas ilmu guna disampaikan kepada penuntut ilmu sebagai modal utk membangun pondasi.

3. Tidak boleh seseorang belajar kepada guru yang aqidahnya menyimpang. Karena ia bisa memasukkan pemahaman-pemahaman yg sesat meskipun dalam pelajaran dasar.

4. Dalam menuntut ilmu perlu merendah diri, sebagaimana Nabi Musa yang sebagai Ulul Azmi tetap belajar kepada Nabi Khidir.

5. Rihlah menuntut ilmu mempunyai banyak keutamaan. Dan diperlukan bagi seorang penuntut ilmu untuk mengulang-ulang rihlahnya.

6. Sepanjang seseorang masih layak hidup hendaknya tetap belajar.

7. Seseorang yang memuliakan ilmu ia akan merasa nyaman dan ringan dalam berbuat baik .

Semoga kita selalu giat dalam menuntut ilmu sesuai dengan syariat supaya kedepanya ilmu yg kita miliki dapat menjadi penolong di akhirat kelak

BERSABAR DALAM MENUNTUT ILMU DAN MENDAKWAHKANNYA

Segala sesuatu yang mulia tidaklah bisa diraih kecuali dengan kesabaran. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran,  karena bersabar serta menguatkan kesabaran adalah dua hal yang diperintahkan kepada manusia.

Dengannya seseorang akan dapat menggapai pokok keimanan. Dan dengan kesabaran pula seseorang dapat menggapai kesempurnaan iman.

Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu”  (QS. Ali Imran : 200)

Allah Ta’ala juga berfirman :

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya” (QS. Al Kahfi : 28)

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah di dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan, “ Yang dimaksud oleh ayat ini adalah majelis ilmu”.

Seseorang tidak akan berhasil mendapatkan ilmu kecuaii dengan bersabar.

Beliau rahimahullah juga mengatakan , “Ilmu tidak akan bisa digapai dengan badan yang bersantai-santai .”

Maka, dengan kesabaran, hilanglah noda kejahilan ( kebodohan) dan kelezatan ilmu akan dirasakan.

Ada Dua jenis kesabaran, Kesabaran ( dalam ilmu) ada dua macam:
1. Kesabaran dalam mempelajari dan mengambil ilmu. Seseorang ketika menghafalkan ilmu membutuhkan kesabaran, ketika memahami ilmu membutuhkan kesabaran, ketika menghadiri majelis ilmu membutuhkan kesabaran, ketika memperhatikan hak-hak gurunya juga membutuhkan kesabaran.

2.Kesabaran dalam menyampaikan dan menyebarkan ilmu kepada orang lain. Seseorang dalam duduknya untuk mengajarkan ilmu membutuhkan kesabaran, ketika memahamkan orang lain juga membutuhkan kesabaran, dan untuk memaafkan kesalahan  muridnya membutuhkan kesabaran.

Dan kesabaran yang lebih tinggi dari dua macam kesabaran  di atas adalah bersabar untuk bersikap sabar dalam menjalani dua hal di atas (karena dalam bersikap sabar membutuhkan kesabaran pula di atasnya –pen ) dan untuk istiqomah di atasnya.
Untuk setiap tujuan yang mulia terdapat kesabaran di dalamnya

Dan yang paling sulit adalah bentuk kesabaran di atas kesabaran.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersabar dalam menuntut ilmu,  mengamalkannya, dan mendakwahkannya.Aamiin.

(Diterjemahkan dari kitab Khulashoh Ta’zhimil ‘Ilmi karya Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Hammad Al ‘Ushaimi hafizhahullah, hal. 28-29)

Membangun Generasi Akhirat yang Sukses di Dunia