Seminar Ilmiah Ulul Abshor Berlangsung Sukses

Dengan mengucap syukur Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, acara seminar ilmiah LPPT Ulul Abshor dengan tema “Dengan Hijrah Kita Bangkitkan Revolusi Mental dengan Kekuatan dan Segenap Potensi untuk Membangun Pendidikan Berkarakter Tauhid” berlangsung dengan sukses. Sesuai rencana, seminar dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 september 2018. Acara dimulai pada pukul 08.30 WIB yang dipandu dan dibuka oleh Master Of Ceremonial atau pembawa acara yaitu Ananda Attaula, santri kelas IX SMP Pesantren Terpadu Ulul Abshor.
Penampilan Santri TK Sebelum penyampaian materi seminar oleh para pembicara, acara diisi dengan penampilan para santri LPPT Ulul Abshor. Penampilan pertama yaitu Tilawatil Qur’an Bil Ghoib oleh Ananda Safana Santri Kelas V SD Pesantren Terpadu Ulul Abshor. Penampilan kedua berupa pembacaan puisi berbahasa Inggris oleh Ananda Nabila Santri Kelas IX SMP Pesantren Terpadu Ulul Abshor. Dilanjutkan penampilan santriwan-santriwati Kelompok Belajar dan Taman Kanak-Kanak Ulul Abshor yang membawakan hafalan beberapa Hadist Arba’in Nawawiyyah. Penampilan para santri LPPT Ulul Abshor ini sempat membuat kagum peserta seminar yang begitu khidmat menyaksikan penampilan mereka.
Setelah itu acara memasuki agenda utama seminar yaitu penyampaian materi seminar. Pembicara pertama ialah Drs. Kastori, Ketua Yayasan Ponpes Terpadu Ulul Abshor yang membawakan judul “Islam dan Kewajiban Eksplorasi, Baik Darat Maupun Laut”. Menurut beliau, Umat Islam memiliki modal penting sebagai sebaik-baik umat sesuai isyarat Rosulullah SAW. Konsepsi sebaik-baik umat ini berangkat dari ajaran tauhid di mana umat Islam dapat mengerahkan segenap potensinya untuk menjalankan amanat sebagai khalifatullah di muka bumi dengan motivasi cuma satu yaitu penghambaan diri secara total hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan tidak memberikan pengakuan ketuhanan kepada selain-Nya dalam semua urusan.Dr. Sunarto menyampaikan materi
Sebagai pembicara kedua pada acara seminar ini ialah Dr. Sunarto, S.Pi., M.Si. Beliau adalah Ketua Jurusan sekaligus Dosen Pengajar pada Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Padjajaran Bandung. Secara istimewa menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan civitas akademika LPPT Ulul Abshor dan bersedia mengisi seminar tersebut. Secara umum beliau memaparkan betapa besarnya potensi sumber daya laut Indonesia. Secara geografis Indonesia berada pada lintasan jalur perdagangan antar benua. Produksi perikanan laut Indonesia juga sangat besar karena biodiversitas atau keanekaragaman hayati lautnya sangat kaya. Wilayah laut yang sangat luas juga memiliki potensi energy yang sangat besar berupa energy gelombang laut dan migas bawah lautnya.Peserta seminar
Setelah seluruh rangkaian acara seminar selesai, Ketua Yayasan Ponpes Terpadu Ulul Abshor memberikan kenang-kenangan dan ucapan terimakasih secara simbolik. Penghargaan yang tinggi dan terimakasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada Dr. Sunarto, S.Pi., M.Si.atas kesediaan beliau dari Bandung jauh-jauh ke Semarang menyempatkan diri bersilaturahmi dan berbagi ilmu dengan civitas akademika LPPT Ulul Abshor. Semoga amal baik beliau dicatat sebagai pengabdian yang besar oleh Allah Ta’ala dan para santri LPPT Ulul Abshor termotivasi untuk bercita-cita tinggi meraih ilmu setinggi-tingginya. Amiin.

Penyerahan Penghargaan

Bagikan

Seminar Ilmiah Ponpes Terpadu Ulul Abshor

Seminar Ilmiah

Lembaga Pendidikan Pesantren Terpadu (LPPT) Ulul Abshor Semarang akan menyelenggarakan Seminar Ilmiah pada hari Sabtu, 29 September 2018 mulai pukul 08.00 WIB s.d. selesai. Seminar ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1440 H sehingga mengambil tema “Dengan Hijrah Kita Bangkitkan Revolusi Mental Berbasis Kekuatan dan Segenap Potensi Bangsa untuk Membangun Pendidikan Berkarakter Tauhid”. Insya allah seminar akan diisi oleh dua orang pembicara yang sudah ahli di bidangnya masing-masing. Pembicara pertama ialah Drs. Kastori seorang praktisi pendidikan yang sekaligus Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Terpadu Ulul Abshor. Sedangkan pembicara kedua ialah Dr. Sunarto, S.Pi., M.Si., seorang pakar kelautan dari Universitas Padjadjaran Bandung.

Yang membuat seminar ini insya Allah istimewa ialah kedua pakar akan mengetengahkan materi yang mengkorelasikan antara pandangan Islam dengan pentingnya eksplorasi sumber daya kelautan. Oleh karena itu, peserta seminar nantinya akan mendapatkan wawasan ilmiah yang insya Allah bermanfaat. Peserta seminar sendiri terdiri atas para santri Ulul Abshor dari kelas 6 SD hingga kelas 12 MAK, para walisantri, para guru dan karyawan LPPT Ulul Abshor, para tamu undangan serta masyarakat umum.

Seminar ini terbuka untuk umum dan tidak dikenakan kontribusi. Bagi peserta yang menghendaki sertifikat seminar nanti juga disediakan oleh panitia. Mari bagi saudara-saudari muslimin-muslimat yang berkenan hadir dalam acara tersebut dipersilakan dengan niat tholabil ilmi karena Allah Ta’ala.

Bagikan

Mencetak Generasi Ilmiah dan Agamis

mik(Ilustrasi : Santriwati sedang mengamati mikroba menggunakan mikroskop)

Menyadur literatur yang ditulis oleh Hagie Wana, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung dari Situs NU Online, Lembaga Pendidikan Pesantren Terpadu Ulul Abshor sepakat bahwa umat Islam harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) agar memiliki daya saing secara global. Demikian juga yang menjadi misi LPPT Ulul Abshor dalam menyelenggarakan  layanan pendidikan bagi para santri. Berikut ini kami ketengahkan opini beliau dalam judul “Mencetak Generasi Ilmiah dan Agamis” untuk kita ambil manfaatnya.

Islam adalah agama yang berkemajuan, agama yang menghendaki umatnya untuk senantiasa mengembangkan potensi akal yang telah dianugerahkan kepada segenap manusia. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW pun diutus menjadi rasul mengemban tugas mulia yaitu membimbing dan menggiring umat dari kegelapan menuju cahaya. Dalam konteks yang lebih luas, bisa kita interpretasikan kegelapan di sini bukan hanya dalam ruang lingkup ritual kegamaan saja. Namun lebih dari itu, konsep minadh-dhulumat ilan-nuur adalah membawa manusia dari gelapnya kebodohan menuju terangnya cahaya ilmu pengetahuan.

Hasilnya, dalam jangka waktu yang tidak begitu lama pasca wafatnya Nabi, Islam terbukti turut andil dalam mengembangkan peradaban. Dari mulai Afrika, Spanyol, Turki dan wilayah lainnya yang sempat mengalami masa kejayaan, semua pernah mendapat sentuhan Islam. Banyak bukti-bukti peradaban yang menjadi saksi sejarah maju dan pesatnya perkembangan Islam.

Namun jika kita cermati wajah umat Islam dewasa ini, terutama di Indonesia, fenomena kemiskinan, kebodohan, kejahatan, bahkan perpecahan, menjadi potret sebagian besar umat Islam di Indonesia. Tanpa mengabaikan semangat persatuan dan kesatuan, kita sebagai pribadi Muslim tidak bisa menutup mata menyikapi keadaan bahwa meskipun menempati posisi mayoritas, namun umat Muslim di Indonesia belum bisa berbicara banyak mengenai hal menciptakan peradaban. Peradaban di sini tidak hanya berwujud dalam bangunan fisik/material saja tapi juga dalam hal ilmu pengetahuan atau sosial budaya.

Perlu kita akui bahwa Muslim di Indonesia hanya baru mampu mengimplementasikan ibadah ritual, belum mecapai ruang-ruang ibadah sosial. Tampaknya, diskusi (baca:debat) kajian/materi keagamaan yang cenderung bersifat sektarian atau fanatisme golongan sehingga berdampak pada terjadinya disintegrasi antar umat dan semakin memperuncing perbedaan, lebih disenangi khususnya oleh para kawula muda ketimbang merambah pengetahuan ilmu-ilmu populer dan mutakhir lainnya. Waktu kita terkadang habis hanya meributkan masalah-masalah yang sepele. Bulan Ramadhan kemarin contohnya, hampir 2 pekan lebih umat Islam saling beradu argumen mengenai rumah makan yang buka di siang hari.

Maka pantas apabila umat Islam di Indonesia akan tertinggal secara wawasan dan ilmu pengetahuan secara global. Sudah seharusnya generasi muslim mengedepankan argumen rasional untuk menjembatani pelbagai perbedaan paham, serta bersatu padu menyeselsaikan problem yang dihadapi umat Islam pada umumnya seperti misalnya keterbelakangan dalam hal pendidikan atau ekonomi, yang mana jika dikaji dalam perspektif agama, akan menambah khazanah keilmuan Islam itu sendiri. Sehingga Islam menjadi role mode dalam pemecahan masalah global.

Untuk mewujudkan generasi dan mencetak ilmuwan/cendekiawan muslim yang ilmiah dan agamis perlu dilakukan berbagai upaya. Hemat penulis, sekurang-kurangnya perlu dilakukan uapaya-upaya sebagai berikut:

1. Menguasai ilmu pengetahuan

Generasi Muslim hendaknya membuka cakrawala pengetahuan seluas-luasnya. Jangan habiskan waktu dan energi untuk hal-hal yang tidak berfaedah. Kedepan generasi muda –terutama kaum santri yang menjadi tulang punggung generasi Muslim bangsa ini- harus lebih responsif terhadap kemajuan zaman tanpa mengubah idelisme dan orientasinya sebagai seorang santri. Mau tidak mau kita harus menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan guna mencetak ilmuwan/cendekiawan muslim yang ilmiah dan agamis.

Dalam Al-Quran pun kita sering menjumpai ayat inna fii dzalika laayati liqaumi ya’qilun, atau yatafakkarun, atau yadzakkarun yang mengindikasikan bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah (wahyu) itu akan terbuka oleh orang-orang yang berpikir, berakal dan merenenungi. Oleh sebab itu sudah menjadi tanggung jawab kita untuk terus berusaha membaca dan membuka rahasia wahyu Allah untuk mengembangkan peradaban Islam

2. Matikan mitos, hidupkan nalar

Indonesia, negara dengan keberagaman budayanya tentu memiliki serangkaian hal-hal yang dimitoskan oleh sekelompok masyarakat di daerahnya masing-masing. Mitos pada dasarnya adalah sebuah cerita rekaan yang tak dapat diterima oleh akal. Namun terus menerus tersosialisasikan secara turun temurun. Banyak hal-hal yang potensial untuk digali dan banyak manfaatnya namun tidak berani mengungkapnya karena terikat oleh kebudayaan setempat. Inilah salah satu penyebab mandeknya para ilmuwan/cendekia dari kalangan Islam. Sedikit demi sedikit hal-hal yang berbau mistis haruslah dikikis dan dibarukan dengan kebiasaan ilmiah tanpa merusak tatanan kebudayaan yang ada. Karena membangun sebuah peradaban yang ilmiah, harus dimulai dari kebiasaan masyarakatnya yang ilmiah pula. Caranya, perlu ada upaya reseleksi, redefinisi, reorientasi, dan reimplementasi terhadap tata nilai, norma, sosial budaya yang sudah menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Nusantara.

3. Kembangkan institusi pendidikan Islam

Dewasa ini perguruan tinggi Islam (PTI) yang dibangun oleh pemerintah ataupun dikelola secara mandiri oleh ormas semakin berkembang. Hal ini harus kita sikapi dan apresiasi secara positif sebagai langkah untuk mencetak generasi yang ilmiah dan agamis. Banyak PTI yang di dalamnya membuka prodi-prodi di luar ilmu keagamaan namun tetap dikemas secara Islami. Hal ini tiada lain bertujuan untuk menunjang dan menjawab kebutuhan umat yang membutuhkan ilmuwan/cendekiawan Muslim yang ilmiah dan agamis.

Itulah yang harus kita upayakan bersama guna mencetak pemikir-pemikir Muslim yang mampu membangun peradaban ilmiah dan agamis, dalam rangka mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamiin.

Bagikan

Perpustakaan Keliling dan LTPS Perpusda Jateng

Terima kasih dan apresiasi tinggi kami sampaikan kepada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah yang setia memberikan yang pelayanan  yang tulus bagi santri-santri Sekolah Dasar Pesantren Terpadu Ulul Abshor berupa Perpustakaan Keliling. Setiap hari Selasa, petugas selalu menyempatkan diri untuk mampir di Sekolah kami. Meskipun akses masuk ke komplek sekolah kami yang berada ditengah-tengah pemukiman warga tidak mudah, akan tetapi petugas selalu bersemangat untuk menghantarkan fasilitas bacaannya sampai di halaman sekolah kami.

pus1pus 2Alhamdulillah pula, semangat para petugas insya Allah tidak sia-sia karena para santri Ulul Abshor juga memiliki antusiasme membaca yang membanggakan juga. Di sela-sela istirahatnya, para santri dengan tekun memilih dan membaca buku sesuai dengan minat masing-masing. Para santri mengaku senang dengan kehadiran mobil perpustakaan keliling karena koleksi bukunya banyak sehingga dapat menemukan hal baru yang belum mereka ketahui.whatsapp-image-2018-09-14-at-07-49-17whatsapp-image-2018-09-14-at-07-49-16

Semoga layanan perpustakaan keliling ini tetap terus berjalan, memberikan manfaat yang besar buat para santri serta petugasnya selalu diberikan kesehatan dan keistiqomahan dalam menjalankan tugasnya.

Bagikan

Resensi Buku Ala Santri

eks3Kegiatan Eksplorasi Pustaka Santri kali ini mengangkat tema keislaman. Hasil eksplorasi pustaka mereka dituangkan dalam bentuk resensi buku. Karya tulis terbaik berhasil ditulis oleh santriwati kelas V Sekolah Dasar Pesantren Terpadu Ulul Abshor bernama Nada Syifa Fatina. Resensi bukunya sebagai berikut.

eks1Judul Buku : Perkenalan Singkat tentang Agama Islam

Pengarang : Ali Al Tantawi

Penerbit : Dar Al Manara

Isi Buku : Manusia adalah makhluk yang istimewa karena mengandung tiga unsur lengkap dari unsur kemalaikatan, kesyaitanan dan kebinatangan. Bila ia penuh dengan kegiatan ibadah kepada Allah dan hatinya bersih ketika bermunajat kepada-Nya serta ia mampu merasakan manisnya iman, maka dalam hal ini yang menang ialah sifat kemalaikatannya. Ia menyerupai malaikat yang tidak pernah durhaka kepada Allah SWT serta selalu mengerjakan perintah-perintah-Nya. Akan tetapi, jika ia ingkar kepada penciptanya, senang memperturutkan hawa nafsunya, tidak takut terhadap ancaman Allah sehingga gemar melakukan kemaksiatan dan tidak tertarik dengan janji Allah berupa surga dan isi-isinya maka dalam hal ini yang menang adalah sifat kebinatangan dan kesyaitanannya.

eks2

Bagikan