Arsip Kategori: Artikel

RIHLAH DALAM MENUNTUT ILMU

Selayaknya bagi seorang muslim senantiasa memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar ia diberikan pemahaman akan agamanya, dikarenakan Ilmu adalah suatu jalan yang akan menyampaikannya kepada keselamatan di dunia dan akhirat.
Ilmu tidak mungkin terpenuhi melainkan dengan berusaha menempuh segala sebab-sebab yang akan mengantarkannya untuk hal tersebut, yakni berusaha untuk mempelajarinya.

Dan yang perlu diperhatikan bahwa seorang penuntut ilmu hendaknya memiliki guru dan tidak membiarkan dirinya belajar sendiri tanpa bimbingan. Seseorang yang memiliki guru akan memperoleh berbagai manfaat.
Akan tetapi ketika mereka belajar sendiri, hal ini bisa membahayakan dirinya terhadap suatu pemahaman yg salah.

Nabi Musa ‘Alaihis salam setelah memperoleh kabar dari Allah Subhanahu Wa Ta’alaa’ala bahwasannya seorang hamba-Nya yang bernama khidir ‘Alaihis salam memiliki ilmu yang tidak diketahui olehnya. Maka ia pun memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar ditunjukkan jalan baginya untuk bisa berjumpa dengannya dan tidak merasa puas diri atau merasa cukup dari apa yang beliau peroleh dari ilmu. Untuk tujuan itu pula beliau mau bersusah payah, dan juga memikul lelah dalam menempuh jalan untuk bisa bertemunya dengan Nabi Khidir tersebut serta menimba ilmu darinya, sebagaimana yang Allah telah kisahkan di dalam Surah Al-Kahfi, dalam keadaan beliau seorang Nabi yang Mulia ‘alaihis salam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة. رواه مسلم

“Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan mudahkan jalannya masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim)

Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughiroh bin Bardizbah Al Bukhara Rahimahullah _(Imam Bukhori)_ beliau melakukan Rihlah _(Perjalanan Menuntut ilmu)_ selama 46 Tahun (210 H-256 H).
Beliau sampai tidak bisa menghitung berapa banyak memasuki kota Kufah dan Baghdad bersama ahli hadits Khurasan. Dan Imam Bukhori memiliki 1.080 Guru yang tersebar di Hijaz, Makkah, Madinah, Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam, dan Mesir
Ini menunjukkan bahwa Beliau dalam belajar selalu mengambil dari Guru, dan seluruh Guru Imam Bukhari (1.080) memiliki Aqidah yang sama , tidak ada perselisihan didalam prinsip-prinsip Aqidah.

Diantara Kriteria Seorang Guru yang boleh kita mengambil ilmu darinya :

1. Aqidahnya yg selamat, bersih dan tidak ada penyimpangan
2. Manhajnya lurus
3. Ilmu yang diajarkan dilandasi dengan ketulusan, kejujuran dan keikhlasan
4. Dia ( Guru ) menguasai ilmu yang diajarkan.

Menuntut ilmu agama adalah kewajiban bagi kita semua. Tak pandang usia, baik tua maupun muda, sudah seharusnya kita tak pernah letih untuk terus menggali ilmu. Selama jasad masih bersama ruhnya hendaknya seseorang senantiasa menyibukkan dirinya dg menuntut ilmu.

Diantara Faedah lainnya :
1. Dalam belajar agama harus belajar dari Guru. Sebagaimana Rasulullah yang belajar dari Jibril, Sahabat belajar dari Rasulullah, Tabi’in belajar dari Sahabat.

2. Diantara rusaknya pemikiran/ pemahaman seseorang dalam belajar adalah belajar tanpa guru.

3. Seorang Guru mampu meringakas ilmu guna disampaikan kepada penuntut ilmu sebagai modal utk membangun pondasi.

3. Tidak boleh seseorang belajar kepada guru yang aqidahnya menyimpang. Karena ia bisa memasukkan pemahaman-pemahaman yg sesat meskipun dalam pelajaran dasar.

4. Dalam menuntut ilmu perlu merendah diri, sebagaimana Nabi Musa yang sebagai Ulul Azmi tetap belajar kepada Nabi Khidir.

5. Rihlah menuntut ilmu mempunyai banyak keutamaan. Dan diperlukan bagi seorang penuntut ilmu untuk mengulang-ulang rihlahnya.

6. Sepanjang seseorang masih layak hidup hendaknya tetap belajar.

7. Seseorang yang memuliakan ilmu ia akan merasa nyaman dan ringan dalam berbuat baik .

Semoga kita selalu giat dalam menuntut ilmu sesuai dengan syariat supaya kedepanya ilmu yg kita miliki dapat menjadi penolong di akhirat kelak

BERSABAR DALAM MENUNTUT ILMU DAN MENDAKWAHKANNYA

Segala sesuatu yang mulia tidaklah bisa diraih kecuali dengan kesabaran. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran,  karena bersabar serta menguatkan kesabaran adalah dua hal yang diperintahkan kepada manusia.

Dengannya seseorang akan dapat menggapai pokok keimanan. Dan dengan kesabaran pula seseorang dapat menggapai kesempurnaan iman.

Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu”  (QS. Ali Imran : 200)

Allah Ta’ala juga berfirman :

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya” (QS. Al Kahfi : 28)

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah di dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan, “ Yang dimaksud oleh ayat ini adalah majelis ilmu”.

Seseorang tidak akan berhasil mendapatkan ilmu kecuaii dengan bersabar.

Beliau rahimahullah juga mengatakan , “Ilmu tidak akan bisa digapai dengan badan yang bersantai-santai .”

Maka, dengan kesabaran, hilanglah noda kejahilan ( kebodohan) dan kelezatan ilmu akan dirasakan.

Ada Dua jenis kesabaran, Kesabaran ( dalam ilmu) ada dua macam:
1. Kesabaran dalam mempelajari dan mengambil ilmu. Seseorang ketika menghafalkan ilmu membutuhkan kesabaran, ketika memahami ilmu membutuhkan kesabaran, ketika menghadiri majelis ilmu membutuhkan kesabaran, ketika memperhatikan hak-hak gurunya juga membutuhkan kesabaran.

2.Kesabaran dalam menyampaikan dan menyebarkan ilmu kepada orang lain. Seseorang dalam duduknya untuk mengajarkan ilmu membutuhkan kesabaran, ketika memahamkan orang lain juga membutuhkan kesabaran, dan untuk memaafkan kesalahan  muridnya membutuhkan kesabaran.

Dan kesabaran yang lebih tinggi dari dua macam kesabaran  di atas adalah bersabar untuk bersikap sabar dalam menjalani dua hal di atas (karena dalam bersikap sabar membutuhkan kesabaran pula di atasnya –pen ) dan untuk istiqomah di atasnya.
Untuk setiap tujuan yang mulia terdapat kesabaran di dalamnya

Dan yang paling sulit adalah bentuk kesabaran di atas kesabaran.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersabar dalam menuntut ilmu,  mengamalkannya, dan mendakwahkannya.Aamiin.

(Diterjemahkan dari kitab Khulashoh Ta’zhimil ‘Ilmi karya Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Hammad Al ‘Ushaimi hafizhahullah, hal. 28-29)

KEBAHAGIAAN YANG HAKIKI

Berjuta jiwa melalang buana…
Mencari kebahagiaan di pucuk-pucuk dunia…
Membuang harta, merebut tahta, berburu wanita…
Namun kiranya mereka terlupa, bahwa kebahagiaan itu berada di dalam dada…

Pusat kebahagiaan itu terletak di hati…
Apabila hati telah dipenuhi dengan cahaya keimanan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan bahagia di dunia dan di akhirat.

Kenapa…?

Karena hati manusia berada di tangan Allah…
Dan hanya Allah yang bisa memberikan ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki…

Ketahuilah…

Hati yang telah mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan, akan menjadikannya mencintai Allah melebihi segalanya, dan memiliki rasa takut kepada siksa-Nya, serta selalu mengharap rahmat-Nya…

Ketika itu ia akan selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan, hatinya akan lembut, dan air matanya pun akan bercucuran, karena dirinya selalu disibukkan oleh dosa-dosanya…

Perilakunya…
jauh dari hawa nafsu dan pengaruh syaitan…
jauh dari fitnah syahwat dan syubhat…
jauh dari kesyirikan dan kebid’ahan…
jauh dari dosa-dosa besar maupun kecil…
jauh dari menjual agamanya untuk mencari keuntungan dunia yang sedikit…

Bagi orang yang beriman, kebahagiaan yang amat mereka dambakan adalah kehidupan di akhirat yang lebih baik dan abadi…

Karena mereka tahu dunia tempat yang penuh bencana dan fitnah, kehidupan sementara, sedikit, menipu, dan tidak ada kebahagiaan yang hakiki…

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

“…Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui” (QS. Al-Ankabut [29]: 64)

Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata :

Tiadalah urusan manusia di dunia ini, meskipun berumur panjang, kecuali seperti satu nafas dalam lambung kehidupan Surga. Siapa yang menyia-nyiakan satu nafas yang dengannya ia bisa hidup selamanya, sungguh ia termasuk orang yang rugi…

Syumaith bin ‘Ajlaan rahimahullah berkata :

“Barangsiapa menjadikan kematian dihadapan kedua matanya, dia tidak akan peduli dengan kesempitan dunia dan kelapangannya” (Shifatush Shofwah III/342)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata :

Hasrat seorang mukmin hendaknya selalu menyatu dan lengket dengan kehidupan akhirat pada seluruh hidupnya, hingga seperti sedang hidup di dalamnya.

Dan hasrat kepadanya itu begitu menguasai mereka, sehingga segala yang ada di dunia ini akan menggerakkannya untuk selalu ingat kepada akhirat.

Jika melihat kegelapan, ia akan teringat bagaimana gelapnya alam kubur. Jika melihat orang yang disakiti, ia lalu membayangkan bagaimana siksa di akhirat.

Jika mendengar suara mengerikan, ia terbayang tiupan sangkakala pada hari Kiamat. Jika melihat orang yang tidur, ia pun akan terbayang akan kematian.

Baginya tiada berarti rasa sakit, ujian, hilangnya kekasih, ancaman maut, serta perjuangan menepis segala penghalang yang menghadang di jalannya.

Bukankah bagi orang yang menginginkan kesembuhan dari suatu penyakit, maka ia tidak akan memperdulikan betapa pun pahitnya obat yang harus ia minum…?

Lalu ia juga mengandaikan dirinya masuk Neraka dan mendapatkan siksa, maka hidupnya akan terasa berat, dan kerisauan hatinya selalu membayangi setiap langkahnya.

Inilah hasrat seorang mukmin yang selalu terkait dengan itu semua, dan itulah yang selalu menyibukkannya.

Marilah kita bina diri kita agar senantiasa ingat betapa pentingnya hidup tidak hanya untuk mencari bekal di dunia, tetapi mencari bekal untuk di akhirat dengan cara selalu taat dan patuh atas perintah Allah dan menjauhi segala apa yg dilarangNya. Agar kita benar-benar mendapatkan kebahagiaan yg hakiki.

KUNCI SURGA DAN GERIGI-NYA (SYARAT-SYARAT LAA ILAAHA ILLALLAAH)

Wahb bin Munabbih rahimahullah pernah ditanya: Bukankah kunci surga adalah Laa Ilaaha Illallaah? Beliau menjawab: Ya. Tapi setiap kunci pasti memiliki gerigi-nya. Jika engkau memiliki kunci dengan gerigi yang tepat maka pintu itu akan terbuka, namun jika gerigi kunci itu tidak tepat, maka pintu itu tidak akan terbuka (Hilyatul Awliyaa’ (4/66), (at Taarikhul Kabiir [1/95]).

Wahb bin Munabbih adalah salah seorang tabi’i. Beliau murid beberapa orang Sahabat Nabi seperti Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudriy, anNu’man bin Basyir, Jabir bin Abdillah, dan Ibnu Umar. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits yang melalui jalur Wahb bin Munabbih tidak kurang dalam 2 riwayat, sedangkan al-Imam Muslim meriwayatkan tidak kurang 4 hadits.

Makna ucapan dari Wahb bin Munabbih di atas adalah: tidak cukup bagi seseorang sekedar mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah. Ia harus menjalankan konsekuensi/ syarat dari ucapan itu. Konsekuensi/ syarat dari ucapan Laa Ilaaha Illallah adalah ibarat gerigi bagi sebuah kunci. Benar bahwa Laa Ilaaha Illallah adalah kunci surga, namun konsekuensi yang dijalankan setelah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah adalah gerigi yang menentukan apakah pintu (surga) itu terbuka atau tidak.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah bertanya kepada seseorang: Apa yang engkau persiapkan untuk kematian? Orang itu mengatakan: persaksian (syahadat) Laa Ilaaha Illallah. Al-Hasan al-Bashri menyatakan: Sesungguhnya bersama persaksian itu ada syarat-syarat (yang harus dipenuhi)(Siyaar A’laamin Nubalaa’ [4/584]).

Al-Hasan al-Bashri adalah seorang tabi’i. Beliau murid dari beberapa orang Sahabat Nabi seperti Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Imron bin Hushain, al-Mughiroh bin Syu’bah, Jabir.

Para Ulama’ setelahnya kemudian mengumpulkan dalil-dalil dan merangkumnya dalam penjelasan tentang apa saja syarat-syarat yang terkandung dalam Laa Ilaaha Illallah. Syarat-syarat tersebut harus terpenuhi sebagaimana diibaratkan sebagai gerigi dalam kunci untuk membuka pintu surga.

Syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah ada 7, yaitu:

  1. Mengetahui maknanya (al-‘Ilmu).
  2. Yakin dan tidak ragu akan kandungan maknanya (al-Yaqiin).
  3. Menerima konsekuensi dari ucapan Laa Ilaaha Ilallaah dengan lisan dan hatinya serta tidak menolaknya (al-Qobuul).
  4. Tunduk terhadap perintah dan larangan yang terkandung dalam Laa Ilaaha Illallah dan berserah diri kepada Allah (al-Inqiyaad).
  5. Jujur dalam mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah (as-Shidq). Sesuai antara apa yang diucapkan dengan yang diyakini dalam hati serta menjalankan konsekuensinya.
  6. Ikhlas dalam mengucapkannya karena Allah (al-Ikhlash).
  7. Cinta terhadap kandungan yang terdapat dalam Laa Ilaaha Illallah (al-Mahabbah).

Berikut ini akan disebutkan dalil-dalil dan penjelasan terhadap ke-7 syarat tersebut :

1. Al-Ilmu, mengetahui kandungan makna Laa Ilaaha Illallah.

Seseorang muslim harus mengetahui makna Laa Ilaaha Illallaah. Allah memerintahkan dalam al-Quran untuk mengetahui makna Laa Ilaaha Illallah tersebut:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Ketahuilah, bahwasanya tidak ada Ilaah (sesembahan yang haq) kecuali Allah…”(Q.S Muhammad: 19)

Sangat disayangkan ketika sebagian besar saudara kita muslim masih belum mengerti dan memahami makna Laa Ilaaha Illallah. Makna Laa Ilaaha Illallah sebenarnya juga terkandung dalam bacaan dzikir yang disunnahkan untuk dibaca setiap selesai sholat fardlu:

… لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ…

…Laa Ilaaha Illallaah, dan kami tidak menyembah (beribadah)) kecuali hanya kepadaNya…(H.R Muslim dari Abdullah bin az-Zubair).

Itu menunjukkan bahwa ucapan Laa Ilaaha Illallah maknanya adalah tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah. Segala macam bentuk ibadah hanya boleh dipersembahkan untuk Allah semata, tidak boleh diberikan kepada selain-Nya.

2. Al-yaqiin, yakin dan tidak ragu terhadap kandungan makna yang terdapat di dalamnya.

إنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

“Hanyalah orang-orang yang beriman itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian tidak ragu…”(Q.S al-Hujuraat:15)

3. Al-Qobuul, menerima dengan sepenuh hati tidak bersikap sombong dengan menolaknya. Bersedia menjalankan konsekuensinya.

Sikap orang yang beriman berbeda dengan orang-orang kafir yang ketika disampaikan kepadanya Laa Ilaaha Illallah, mereka bersikap sombong (takabbur).

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya mereka (orang-orang musyrikin) jika dikatakan kepada mereka Laa Ilaaha Illallaah, mereka menyombongkan diri”. (Q.S as-Shaffaat: 35)

Orang-orang musyrikin Arab sangat paham dengan makna Laa Ilaaha Illallah. Mereka tahu bahwa jika mereka mengucapkannya, mereka harus meninggalkan seluruh sesembahan selain Allah yang sebelumnya mereka sembah. Mereka tidak mau melakukan konsekuensi itu sebagai bentuk kesombongan.

Orang-orang musyrikin Arab tersebut menganggap dakwah Nabi itu sebagai sesuatu yang aneh. Mereka mengatakan:

أَجَعَلَ الْآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Apakah dia (Muhammad) menjadikan sesembahan-sesembahan itu hanya satu saja? Sungguh itu adalah suatu hal yang mengherankan!” (Q.S Shood:5)

Hal ini menunjukkan bahwa konsekuensi dari ucapan Laa Ilaaha Illallah adalah meninggalkan sesembahan-sesembahan lain selain Allah.

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah dan mengkufuri segala yang disembah selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, serta perhitungannya diserahkan kepada Allah” (H.R Muslim)

4. Al-Inqiyaad, tunduk patuh dan berserah diri kepada Allah.

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى…

“dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedangkan ia berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang dengan buhul tali yang kokoh” (Q.S Luqman: 22)

Buhul tali yang kokoh itu ditafsirkan oleh Sahabat Nabi Ibnu Abbas sebagai Laa Ilaaha Illallah (Tafsir atThobary)

5. As-Shidqu, Jujur, tidak mengandung kedustaan

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Tidaklah ada seseorang yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah (sesembahan yang haq) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, jujur dari hatinya, kecuali Allah akan haramkan ia dari anNaar (neraka)”. (H.R al-Bukhari dari Anas bin Malik)

Sebaliknya, orang munafik hanya mengucapkan secara lisan namun tidak jujur dalam hatinya. Hatinya mengingkarinya.

…يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ…

“…mereka (kaum munafikin) mengucapkan dengan mulut mereka apa yang tidak terdapat dalam hati mereka, dan Allah Paling Mengetahui apa yang mereka sembunyikan”. (Q.S Ali Imran: 167).

6. Ikhlas dalam mengucapkannya, hanya karena Allah

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan dari neraka orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, (hanya) mengharapkan Wajah Allah (ikhlas)”. (H.R al-Bukhari dan Muslim dari ‘Itban bin Malik)

Orang beriman mengucapkan dan menjalankan konsekuensi Laa Ilaaha Illallah dengan ikhlas karena Allah semata, sedangkan orang munafik mengucapkannya hanya untuk kepentingan duniawi.

7. Al-Mahabbah (Mencintai Laa Ilaaha Illallah, dan mencintai orang-orang yang menjalankan syarat-syaratnya). Konsekuensi dari mengucapkan Laa Ilaaha Illallah adalah mencintai Ahlul Iman/ Ahlut Tauhid dan membenci kesyirikan, kekufuran dan orang-orangnya. Mencintai Allah di atas segala-galanya. Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ…

“Dan di antara manusia, ada yang menjadikan tandingan-tandingan dari selain Allah yang mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Sedangkan orang yang beriman lebih tinggi kecintaannya kepada Allah…”. (Q.S al-Baqoroh:165)

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Tidaklah engkau dapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan RasulNya walaupun orang itu adalah ayah, anak, saudara laki-laki, atau karib kerabat mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tetapkan iman dalam hatinya dan Allah kuatkan mereka dengan pertolongan yang datang dariNya. Dan Allah memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Mereka adalah golongan Allah. Ketahuilah sesungghnya golongan Allah adalah orang-orang yang beruntung”. (Q.S al-Mujaadilah:22)