Arsip Kategori: Aqidah

KERANGKA FILOSOFIS ‘MEMBANGUN SDM GURU TERPADU’

psb1

psb2

Islam sebagi sistem hidup yang universal merupakan agama yang paling memperhatikan  masalah sumber daya manusia. Salah satu bukti  yang menunjukkan hal tersebut  adalah terdapatnya kaidah pembentukan sumber daya manusia standar sebagaimana telah difirmankan Allah SWT :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu…”

(QS. Al Ahzab : 21)

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim…”

(QS. Al Mumtahanah : 4)

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati  dari Rosul-Rosul  (ulul azmi) yang telah bersabar

(QS. Al Ahqaaf : 35)

Demikian bunyi petikan firman Allah dalam Surat Al Ahqaf : 35. Kalau kita menelusuri kisah-kisah  ulul azmi maka ada isyarat dan ibrah yang kita dapatkan tentang kehe-batan pribadi mereka. Sehingga kalau kita cermati, stan-darisasi SDM ini merupakan sesuatu yang sejak awal diajar-kan Allah kepada kaum muslimin. Kita mengenal siapakah kelompok “Kholilurrahman” yang hanya dimiliki oleh dua orang yaitu Ibrohim As dan Muhammad Saw sebagai standar pertama. Ulul Azmi menurut sebagian besar Ulama dan Ahli Tafsir terdiri dari lima orang yatiu Nuh As, Ibrohim As, Musa As, Isa As, dan Muhammad SAW sebagai standar kedua, para Rasul sebagai standar ketiga dan para Nabi  sebagai standar keempat. Standart berikutnya adalah para shahabat yang diridhoi Allah SWT dan seterusnya. Kelompok-kelompok ini adalah gambaran dari hierarkisitas kualitas sumber daya manusia.

 

SDM unggul sebagai barang langka memang telah menjadi isyu paling populer dalam memasuki milenium III. Apalagi dalam dekade ini masyarakat akan memasuki tatanan ideal yang sering disebut “masyarakat madani”. Tren masya-rakat ini menuntut kaum muslimin untuk segera menyiapkan segenap potensi dan kekuatan terutama di bidang SDM, sebab tipologi masyarakat ini ditandai dengan munculnya kran kebebasan dan keberanian berekspresi, globalisasi, serta berbaurnya arus ideologi masyarakat dunia dengan Kon-sekuensi-konsekuensinya antara lain :

  1. Kompetisi dan persaingan antar kelompok semakin me-nguat tajam dengan esensi akar ideologisnya.
  2. Tuntutan dan dinamika masyarakat akan eksisnya supre-masi hukum.
  3. Profesionalisme akan menjadi “baju resmi” dalam setiap arena kompetisi di berbagai bidang kehidupan.

Pendidikan sebagai jantung dan dapur umat, sudah barang tentu merupakan institusi yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan SDM-SDM standar. Sedangkan unsur yang paling signifikan dalam melahirkan SDM andal adalah faktor SDM pendidik.

 

  1. GURU ISLAM TERPADU

Siapakah guru Islam terpadu itu? Suatu rangkaian kata yang barangkali cukup asing bagi telinga kita. Sebelum kita memahami hakikat guru terpadu, tentunya kita harus mengawali basis konseptual ini dari nilai historis istilah tersebut.

Secara bahasa guru bermakna pengajar / pendidik. Secara istilah guru adalah orang yang pekerjaannya / profesi-nya sebagai pendidik. Sedangkan Islam adalah istilah yang secara bahasa dan terminologi sudah kita kenal sehari-hari. Istilah terpadu / integral kita munculkan karena dewasa ini hampir sebagian besar kita dilahirkan dan dibesarkan dengan bimbingan dari sistem hidup yang sekuler sehingga hampir setiap perilaku kita diukur dan dinilai dengan cara dikotomis. Oleh karena itu, dibutuhkan istilah terpadu sebagai antitesis gaya hidup sekuler. Perhatikan bagan berikut :

Keterangan :

Penyakit sangat kronis yang terjadi dalam dunia pendi-dikan kita dewasa ini adalah terjadinya disorientasi (salah kiblat) dalam dunia pendidikan, baik yang bersifat kelembagaan maupun personal. Akar penyakit ini berasal dari dogma sekularisme dan pragmatisme yang sudah mendarah daging di sebagian besar kalangan pelaku pendidikan. Akar penyakit ini muncul awal abad pertengahan (476-1453 M) dimana waktu itu perkembangan ilmu pengetahuan terhenti. Pada masa itu agama kristen berkembang dengan pesatnya. Kaum agama tidak memberikan kebebasan berfikir dan mencipta. Segala sesuatu ditentukan oleh doktrin-doktrin gereja. Akibatnya orang-orang pada waktu itu diliputi oleh “Mental inactivity” (kelesuan berfikir dan mencipta). Hal itulah yang menyebabkan berhentinya perkembangan ilmu pengetahuan. Bagi mereka yang berfikir kritis dan berseberangan dengan doktrin gereja akan mendapatkan perlakuan keji dari kaum agamawan kristen.

Pada akhir abad pertengahan (sekitar abad ke-15 M) di Eropa timbul gerakan yang bertujuan mengembangkan kebu-dayaan dan ilmu pengetahuan kembali yang berangkat dari perseteruan sengit antara dua kubu. Gerakan inilah yang dikenal dengan nama ”Renaissanse”. Gerakan ini pula yang memberikan ruh ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cikal bakal falsafah sekuler, dikotomis, pragmatis terlepas dengan ikatan moral wahyu hingga sekarang ini.

Kini penyakit sekuleris telah menyebar begitu dasyat dalam tubuh pendidikan kita. Pada dataran makro konsep-sional indikasinya terlihat dengan  populernya jargon “Link and Match”, sedang pada dataran mezo operasional (lembaga penyelenggara pendidikan), terlihat dengan menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan yang hanya berorientasi pada bisnis ansich. Sementara di tingkat mikro, disorientasi terlihat sangat jelas pada fenomena krisis motivasi di kalangan para pendidik, orang tua, dan murid. Akibat fatal dari penyakit ini secara umum adalah lemah dan hancurnya dunia pendidikan dalam pencapaian target. Sehingga tujuan pendidikan sebaik apapun yang kita canangkan akan menjadi utopia belaka. Secara khusus dalam praktiknya potret pendidikan gaya ini membawa implikasi mengerikan terhadap peserta didik, di-antaranya:

  1. Munculnya sosok pribadi ekstrem dan eksklusif.
  2. Lahirnya sumber daya manusia mekanik (manusia robot).
  3. Munculnya kepribadian yang terpecah.
  4. Salah kaprah terhadap ujian dan ijazah.

Guru Islam terpadu adalah sosok guru yang pola dan sepak terjangnya dalam kegiatan profesinya berlandaskan pada nilai keyakinan, akar idiologi, serta kerangka filosofi Islam secara kaffah. Dalam teks Islam guru disebut dengan istilah murabbi, yang secara etimologi berasal dari bahasa arab, rabba ( رب ), yarubbu ( يرب ), tarbiyyah ( تربية ), almurabbi ( المربي ).

Jadi murabbi adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam melakukan proses tarbiyyah di suatu institusi. Tentunya yang dimaksud tarbiyyah di sini adalah term pendidikan Islam terpadu.

Pendidikan Islam Terpadu adalah pendidikan Islam murni yaitu :

“Suatu usaha sadar untuk menumbuhkembangkan, memper-baiki, mengawasi seluruh potensi fitrah manusia secara sistematik menurut titik tolak, tujuan, metodologi, dan sasaran yang selaras dengan kehendak Allah sebagaimana telah tertuang dalam hukum-hukum-Nya.”

Perhatikan bagan sebagai berikut!

  1. RUANG LINGKUP GURU TERPADU

Seorang murabbi adalah mereka yang memiliki kapa-sitas-kapasitas antara lain sebagai berikut :

  1. Mu’alim

Seorang guru adalah pribadi yang memiliki basis ilmiah yang memadai yang akan diajarkan kepada anak didiknya. Bagi pengajar matematika maka ia adalah orang yang memi-liki kapabilitas di bidang matematikanya, demikian juga jika ia pengajar IPA, tafsir, dsb. Namun demikian ia juga harus memiliki standar minimal ilmu-ilmu syar’i. Rasulullah bersabda : “Jadilah kamu para pendidik yang penyantun, ahli fikih, dan berilmu pengetahuan. Dan dikatakan predikat rabbani apabila seseorang telah mendidik manusia dengan ilmu pengetahuan, dari sekecil-kecilnya sampai menuju pada yang tinggi.”

(HR. Bukhari dan Ibnu Abbas).

Seseorang yang mengajarkan ilmu tertentu tetapi tidak menguasai basis konseptualnya akan menyebabkan terjadinya  distorsi ilmiah, yang berakibat antara lain:

  1. Penyimpangan visi dan misi ilmu yang bersangkutan.
  2. Terjadinya kekaburan konsep pada diri anak sehingga ter-jadi shock down psikologi pada diri anak.
  3. Mursyid

Mendidik adalah seni membangun manusia yang esen-sinya terletak pada pemunculan nilai kesadaran. Hakikat pendidikan merupakan salah satu dasar dari risalah Islam. Orang yang paling berhasil melakukan proses pendidikan adalah Rasulullah SAW secara khusus dan para rasul pada umumnya. Karena mendidik merupakan salah satu hakikat fungsi kerasulan, maka orang yang ingin berhasil mendidik ia harus paham manhaj kerasulan pada dimensi ini. Syauki bersyair :

“Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang rasul.”

Guru sebagai mursyid adalah syeikh bagi murid-muridnya. Ia dijadikan oleh Allah sebagai sarana pembuka hati dan pembawa hidayah bagi anak didiknya. Ia orang yang paling tahu dari pintu hati mana kesadaran mutarabbi (murid) akan dibuka sehingga masuklah hidayah Allah ke dalam kalbunya. Bila hidayah telah bersemayam dalam lubuk hati anak didik maka ia telah memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, sehingga pada gilirannya muncullah sosok diri yang mempunyai nilai kesadaran.

  1. Muajih

Guru dalam proses pendidikan Islam tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah materi yang akan diberi-kan kepada anak didiknya. Ia juga harus menguasai berbagai strategi, metode, dan teknik guna kelangsungan transrformasi dan internalisasi materi pelajaran. Penguasaan terhadap metode menjadikan proses dan hasil KBM lebih berhasil dan berdaya guna. Dengan metode yang canggih, anak mampu terlibat baik secara emosional dan intelektual dalam setiap aktivitas belajar sehingga apapun kegiatan yang dilakukan akan memiliki nuansa kebermaknaan yang tinggi. Metode yang tepat dan menarik, menjadikan hubungan guru dan anak didik laksana sahabat, sebagaimana Rasulullah SAW  ber-sama para shahabatnya dahulu.

Allah berfirman yang artinya :

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ

“Dan carilah jalan (metode) yang mendekatkan diri kepada-Nya dan bersungguh-sungguhlah pada jalanNya.”

(QS. Al Maidah : 35)

Dalam kaidah usuliyah dikatakan :

“Perintah-perintah terhadap sesuatu merupakan perintah juga mencari mediumnya (metodenya), dan bagi medium hukumnya sama dengan apa yang dituju.”

Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam prosedur pembuatan metode pendidikan antara lain:

  1. Tujuan Pendidikan
  2. Anak Didik
  3. Situasi dan Kondisi
  4. Fasilitas
  5. Pribadi Pendidik

Adapun asas-asas pelaksanaan metode pendidikan yang perlu diperhatikan antara lain : asas motivasi, aktivitas, aper-sepsi, ulangan, korelasi, konsentrasi, individualisasi, sosiali-sasi, evaluasi, kebebasan, lingkungan, globalisasi dan pem-biasaan.

  1. Walid

Guru merupakan orang tua bagi anak didiknya. Dia adalah tempat mengadu segala problematika dirinya, sehingga antara guru dan anak didiknya tidak ada sekat-sekat psikolo-gis yang mengganggu / menghalangi ungkapan-ungkapan hati yang paling pribadi sekalipun. Guru yang menjadi orang tualah yang mampu melakukan kaidah, nglurug tanpa bala, sugih tanpa banda, menang tanpa ngasorake (maju ke pertempuran tanpa pasukan, kaya tanpa harta, menang tanpa merendahkan), terhadap anak-anaknya.


  1. Muaddib

Guru adalah manusia yang digugu dan ditiru, ajakannya mengikuti kaidah alqudwah qabla dakwah, serta ia adalah orang yang ucapannya adalah perbuatannya.

Agar bisa menjadi teladan yang baik, seorang murobbi harus mengarahkan dirinya untuk ber-uswah  kepada Rosulullah Saw, karena keteladanan beliau adalah keteladan-an yang paripurna sebagaimana firman Allah SWT :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rosulullah suri tauladan yang baik”

(QS. Al Ahzab : 21)

Hal yang  harus diperhatikan oleh para guru adalah upaya untuk senantiasa menjalankan ibda’ binafsik (memulai dari diri sendiri)  ketika mengajarkan kebaikan kepada  orang lain (peserta didik) agar tidak mendapatkan murka Allah SWT  karena mengajarkan hal-hal yang dia sendiri tidak melakukan-nya.

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ(3)

“Amat besar kebencian disisi Allah  bahwa kamu mengatakan  apa-apa yang  tiada kamu kerjakan”

(QS. Ash Shaff : 3)

C. PESAN KHUSUS UNTUK PARA PENDIDIK

  1. a) Hendaknya kita sebagai pendidik menyeting diri menjadi sosok yang pantas mewarisi nilai kenabian. Jadikanlah lapangan kerja kita dalam dunia pendidikan sebagai sarana dakwah untuk menyampaikan visi kerosulan sekaligus menjadikan dakwah sebagai panglimanya serta tempat untuk menumbuhkan profesionalisme diri serta tempat yang mampu menghasilkan produktivitas ekonomi. Untuk itu kita mesti memiliki sekurang-kurangnya lima ciri di atas.
  2. b) Hendaklah kita menjadi pendidik yang memiliki power, izzah dan wibawa karena pendidik yang tidak memiliki kemuliaan tidak akan mampu menghasilkan murid yang mulia. Sadari bahwa guru adalah profesi yang paling mulia ! Hendaklah kita memiliki ikatan profesi yang kokoh, yang mampu memberikan, menumbuhkembang-kan, mengarahkan, dan melindungi kewibawaan kita, serta alat advokasi kita. Perubahan dalam sistem pendidikan tidak akan dapat terjadi dari luar profesi guru. Gurulah yang harus mengawali perubahan dalam dunia pendi-dikan ! Kemuliaan guru tidak akan dapat diperoleh dari pengusaha, dokter ataupun profesi lain namun berasal dari dalam guru itu sendiri. Allah SWT telah berpesan melalui firman-Nya

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum kecuali dari dirinya sendiri” (QS. Ar Ra’d : 11)

 

Oleh : Ust. Kastori, S.Pd. (Pengasuh Ponpes. Terpadu Ulul Abshor)

Alamat : Jl. Karangrejo II, No.25 A, Banyumanik, Semarang.

cropped-psb2.jpg

Perjuangan Menuju Masyarakat Tauhid

Kaum muslimin A’azzakumullah Apabila kita mencermati kondisi lingkungan sekitar kita, pasti akan kita akan prihatin. Kalau nurani kita masih bersih, pasti kita akan mengelus dada menyaksikan babak demi babak kehidupan yang kini berkembang betapa tidak saudara-saudaraku … saat ini nyaris dalam seluruh sektor kaum muslimin terpuruk. Dalam segi aqidah banyak sekali umat Islam yang menganut keyakinan-keyakinan syirik, menyekutukan Allah dalam hal ibadah. Perdukunan merajalela, penyembahan terhadap ahli kubur masih dilakukan, pengagungan yang berlebihan terhadap seorang tokoh masih banyak kita jumpai. Perilaku ini menurut syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, termasuk kategori syirik (kitab tauhid).

Kemudian dalam aspek politik, yang tampil hanyalah permainan yang keruh penuh rekayasa, dan retorika semu. Dalam bidang ekonomi sistem keuangan riba’ yang diharamkan Allah masih mendominasi kehidupan. Akibatnya adalah makin lebarnya jurang antara si kaya dan si miskin. Sementara itu, dalam lapangan sosial budaya kita disuguhi kebobrokan moral generasi muda masa kini. Setiap hari kita menyaksikan beragam kemaksiatan seperti: perzinaan, pemerkosaan, pembunuhan, kasus narkoba dan sebagainya.

Menyimak keadaan yang kita sebutkan tadi, kita jadi ingat firman Allah surat Ar- Ruum ayat 41:
Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan karena ulah perbuatan tangan nafsu manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Rasa-rasanya, firman Allah ini benar-benar cocok dengan yang kita alami sekarang ini.

Memang, jama’ah sekalian.. Ummat dan bangsa ini sedang berada dalam bahaya besar. Kerusakan telah menyebar dalam berbagai tempat dan waktu. Yang menjadi pertanyaan adalah: Kanapa semua ini bisa terjadi? Dan bagaimana cara mengobatinya berdasarkan ajaran Allah Subhannahu wa Ta’ala ?

Pertanyaan pertama, yakni, kenapa kerusakan-kerusakan itu bisa terjadi, jawabnya adalah karena ummat ini terputus dari tuntunan agamanya. Ya, sudah sekian lama, ummat Islam ini jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Ada jarak antara ummat di satu sisi dengan ajaran Islam di sisi lain, sehingga kehidupan sehari-hari kaum muslimin sama sekali tidak mencerminkan ajaran agamanya. Bahkan, adakalanya ummat Islam merasa asing terhadap nilai-nilai dien-nya sendiri. Satu contoh kasus, misalnya masalah hijab bagi kaum wanita. Kaum wanita yang menutup aurat malah dikatakan sebagai orang yang nyeleneh. Padahal sebenarnya merekalah yang justru melaksanakan perintah Allah. Kondisi ini telah jauh-jauh hari diperingatkan oleh: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

: بَدَأَ اْلإِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ.

“Islam itu pada mulanya asing, dan nanti akan kembali menjadi asing seperti semula. Maka beruntunglah orang yang asing.” Saudara-saudara sekalian, jamaah jum’ah yang berbahagia.

Sekarang ini pun tengah menggejala dikalangan kaum muslimin sebuah paham yang biasa disebut sebagai sekulerisme (‘ilmaniyah). Paham ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia harus dipisahkan dari masalah agama. Menurut mereka, dunia ya dunia, jangan bawa masalah agama. Soal agama adalah soal pribadi. Oleh karena itu, menurut paham ini, dalam masalah hubungan sesama manusia, seperti cara bergaul, cara berpakaian maupun cara berekonomi cukup diserahkan pada rasio atau akal manusia saja. Sehingga, merekapun menyombongkan diri dengan meninggalkan ajaran Allah Subhannahu wa Ta’ala terutama yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Ajaran sekulerisme inilah yang menjadi tantangan kita dewasa ini. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Abdul Hadi Al-Misri dalam kitabnya “Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Minal ‘ilmaniyah” (Sikap Ahlus Sunnah terhadap Sekulerisme). Menurut beliau, cara hidup sekuler jelas sekali bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid. Sekulerisme (‘ilmaniyah) berusaha menegakkan kehidupan di dunia tanpa campur tangan agama, atau yang lazim disebut La diniyyah . Sehingga tata kehidupan yang mereka bangun bukanlah tata kehidupan yang bersumber dari wahyu Allah Subhannahu wa Ta’ala . Dengan kata lain, sekulerisme berhukum dengan aturan-aturan selain Allah. Padahal Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: Artinya: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50).

Dalam tafsir Ibnu Katsir di sebutkan (tentang ayat ini): “Allah Subhannahu wa Ta’ala mengingkari setiap orang yang keluar dari hukumNya yang jelas, yang meliputi segala kebaikan dan melarang segala kejelekan, lalu berpaling kepada pendapat-pendapat, hawa nafsu dan istilah-istilah yang diletakkan oleh manusia tanpa bersandar kepada syari’at Allah. Seperti sikap kaum jahiliyah dahulu yang berhukum dengan hukum yang menampakkan kesesatan dan kebodohan yang mereka buat sendiri berdasarkan hawa nafsu mereka “. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 2: 67)

Padahal, tauhid yang merupakan fondasi agama Islam, merupakan sebuah keyakinan yang menyandarkan seluruh aspek kehidupan hanya kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala. Menurut Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitabnya “ Al-Firqotun Naajiyah” (Golongan Yang Selamat) menyatakan bahwa yang dimaksud tauhid adalah mengesakan Allah dengan beribadah. Di mana Allah Subhannahu wa Ta’ala menciptakan alam semesta ini tidak lain hanyalah agar beribadah. Firman Allah: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembahKu.” (QS.Ad-Dzariyat:56). Di dalam kitabnya yang lain, yakni yang berjudul “Hudz Aqidataka Minal Kitab was Sunnah” Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menegaskan bahwa tauhid merupakan salah satu syarat diterimanya amal seseorang. Artinya, tanpa keberadaan tauhid, amal seberapa pun banyaknya tidak akan diterima Allah .

Demikianlah saudara sekalian, jama’ah rahimakumullah Jelas sekali, bahwa kehidupan sekulerisme yang kini meng-gejala dengan kebebasannya, amat bersebrangan dengan tauhid, fondasi ajaran agama kita. Oleh karena itu kita semua harus waspada terhadap konsep hidup sekuler itu. Kemudian, bagaimanakah solusinya, bagaimanakah menye-lesaikan serangkaian problem-problem yang kita bicarakan tadi? Bagaimana agar kita bisa keluar dari fitnah yang begitu banyak tersebut?

Resepnya tidak ada lain kecuali kembali kepada Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam dengan pemahaman salafus shalih. Sebab, mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Nabi adalah jalan satu-satunya menuju keselamatan. Melalui langkah ini ada jaminan yang kuat bagi kita untuk menyelesaikan berbagai kemelut yang menimpa kita. Ketika Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan sahabatnya di Mekkah, yakni di awal-awal beliau menyampaikan wahyu, situasinya hampir sama dengan keadaan yang kita hadapi saat ini. Yaa, hampir sama. Hanya bentuknya saja yang berbeda, namun inti dan subtansinya tidak berbeda. Kalau dulu ada perzinaan, misalnya, sekarangpun banyak perzinaan dengan berbagai model.

Oleh karena itu, untuk mengobati kondisi ummat yang seperti sekarang ini, tidak bisa tidak, kita harus memulai sebagaimana Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam membina ummat. Masalah tauhid, harus dibenahi terlebih dahulu, sebelum urusan-urusan lainnya. Sebab, seperti itulah yang juga dilakukan para salafus shalih. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.

“Sebaik-baiknya manusia adalah pada generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka”. (HR. Mutafaq ‘alaih).

Sebagaimana saya sebutkan diatas, bahwa tauhid adalah fondasi agama Islam. Maka kalau fondasi ini roboh, roboh pula bangunan Islam yang lain. Sebaliknya, kalau tauhid ummat ini kuat berarti fondasi yang menopang seluruh bangunan Islam itu pun kuat juga. Dengan demikian mengembangkan tauhid merupakan masalah yang sangat strategis bagi upaya membangkitkan kembali ummat ini. Upaya-upaya untuk membangun kembali umat Islam, yang tidak memulai langkahnya dari pembinaan tauhid sama artinya dengan membangun rumah tanpa fondasi. Sia-sia belaka. Oleh karena itu, pembinaan tauhid harus menjadi program yang harus diprioritaskan oleh seluruh kalangan kaum muslimin ini. Pembinaan tauhid sebagaimana yang difahami salafus shalih harus disosialisasikan kepada seluruh ummat. Sehingga mereka memahami jalan kehidupan yang benar, meninggalkan pola hidup yang bengkok.

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا، كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ.

“Telah aku tinggalkan bagimu dua perkara yang tak akan tersesat darimu setelah berpegang pada keduanya: Kitabullah dan Sunnahku.” (Dishahihkan Al-Albani dalam kitab Al-Jami’, diambil dari kitab Al-Firqatun Naajiyah)
Dalam hadits yang disebutkan, Ibnu Mas’ud berkata:

خَطَّ رَسُوْلُ اللهِ n خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيْلُ اللهِ مُسْتَقِيْمًا. وَخَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ السُّبُلُ لَيْسَ مِنْهَا سَبِيْلٌ إِلاَّ عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ. ثُمَّ قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَى: وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membuat garis dengan tangannya, seraya bersabda kepada kami: “Ini jalan Allah yang lurus.” Dan beliau membuat garis-garis banyak sekali dikanan kirinya, seraya bersabda: “Ini jalan-jalan yang tak satu pun terlepas dari intaian syetan untuk menyesatkan”. Kemudian beliau membaca ayat 153 surat Al-An’am: “Dan bahwa yang Kami perintahkan ini adalah jalanKu yang lurus. Maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain. Karena jalan-jalan lain itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (HR.Ahmad dan Nasa’i, Shahih)

Saudara sekalian, sidang jama’ah jum’ah rahimakumullah
Kalau kita meneladani Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam maka yang pertama kali beliau serukan adalah masalah tauhid. Sebelum membicarakan hal-hal lain, beliau selama kurang lebih 13 tahun di Mekkah menda’wahkan konsep pengesaan Allah Subhannahu wa Ta’ala ini kepada sahabat-sahabat beliau. Dengan tauhid beliau membangun ummat.

mabit

Kunci Pembuka Pintu surga

Jalan menuju surga memang dipenuhi onak dan duri. Akan tetapi sesungguhnya ada banyak amalan-amalan yang mudah dilakukan namun Allah membalasnya dengan ganjaran yang sangat besar. Berikut ini disajikan beberapa amalan yang insya Allah ringan diamalkan namun bisa membawa pelakunya ke surga.

1. Berdzikir Kepada Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Ada dua kalimat yang ringan bagi lisan, berat dalam mizan (timbangan amal) dan dicintai ar-Rahmaan: ‘Subhanallahu wa bihamdih’ (Maha Suci Allah dan dengan pujian-Nya kami memuji) ‘Subhanallah al-Azhiim’ (Maha Suci Allah Dzat Yang Maha Agung).” (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

لَأَنْ أَقُوْلَ: (سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر) أَحَبُّ إِلَيَّ مِمّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ

“Saya membaca: ‘Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar’, sungguh aku lebih cintai daripada dunia dan seisinya.” (HR Muslim no 2695 dan at-Tirmidzi)

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

“Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang dapat menyelamatkannya dari adzab Allah melainkan dzikir kepada Allah.” (HR ath-Thabrani dengan sanad yang hasan dan al-Allamah Ibnu Baz menjadikannya hujjah dalam kitab Tuhfah al-Akhyaar)

2. Meridhai Allah, Islam dan Rasulullah

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي ثَلَاثَ مَرَّاتٍ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seorang hamba muslim mengucapkan pada saat dia memasuki waktu pagi dan memasuki waktu petang: ‘radhiitu billahi rabba, wa bil islaami diina wa bi muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam nabiya (aku ridha Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi-ku)’ sebanyak tiga kali, melainkan merupakan hak bagi Allah untuk meridhainya pada hari kiamat kelak.” (HR Ahmad dan dihasankan oleh al-Allamah Ibnu Baz dalam kitab Tuhfah al-Akhyaar)

3. Menuntut Ilmu Syar’i

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim no 2699)

4. Menahan Marah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَسْتَطِيعُ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي اَيِّ الْحُورِ شَاءَ

“Barangsiapa yang menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskannya, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan para makhluk sampai Allah memilihkan untuknya bidadari-bidadari yang dia suka.” (Dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi dan disepakati oleh Syaikh al-Albani)

5. Membaca Ayat Kursi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِي دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ لَمْ يَمْنَعُهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةَ إِلاَّ أَنْ يَمُوْتَ

“Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat, maka tidak ada yang dapat menghalanginya untuk masuk surga kecuali jika dia mati.”(HR an-Nasaa’i dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Maksudnya adalah jika dia mati, dia akan masuk surga dengan rahmat dan karunia Allah ‘Azza wa Jalla.

6. Menyingkirkan Gangguan di Jalan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِي الجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهاَ مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ

“Sungguh aku telah melihat seorang lelaki mondar-mandir di dalam surga dikarenakan sebuah pohon yang dia tebang dari tengah jalan yang selalu mengganggu manusia” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَي ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ وَاللهِ لأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنْ المُسْلِمِينَ لَا يُؤذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الجَنَّةَ

“Ada seorang lelaki berjalan melewati ranting pohon yang ada di tengah jalan, lalu dia berkata, ‘Demi Allah, sungguh aku akan singkirkan ranting ini dari kaum muslimin agar tidak menganggu mereka.’ Maka dia pun dimasukkan ke dalam surga.” (HR Muslim)

7. Membela Kehormatan Saudaranya di Saat Ketidakhadirannya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَنْ رَدَّ عَن عِرْضِ أَخِيهِ رَدَّ اللهُ عَن وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Barangsiapa membela harga diri saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan memalingkan wajahnya dari api neraka.” (Dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَنْ وَقَاهُ اللهُ شَرَّ مَا بَيْنَ لَحيَيْهِ وَ شَرَّ مَا بَيْنَ رِجْلَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barangsiapa yang Allah lindungi dari keburukan apa yang ada di antara kedua rahangnya (yaitu mulut) dan keburukan yang ada di antara dua pahanya (yaitu kemaluannya), niscaya dia akan masuk surga.”(Dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi dan disepakati oleh Syaikh al-Albani)

8. Menjauhi Debat Kusir Walaupun Benar

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam,

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” (HR Abu Dawud dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

9. Berwudhu’ Lalu Shalat Dua Raka’at

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,”Tidaklah seorang muslim berwudhu’ lalu dia baguskan wudhu’nya, kemudian dia berdiri shalat dua raka’at dengan menghadapkan hatinya dan wajahnya pada kedua raka’at itu, melainkan surga wajib baginya.” (HR Muslim)

10. Pergi Shalat ke Masjid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan untuk menuju masjid, mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam juga bersabda, “Barangsiapa yang pergi ke masjid atau pulang dari masjid, niscaya Allah akan persiapkan baginya nuzul di dalam surga setiap kali dia pergi dan pulang.”(HR Bukhari dan Muslim)

Imam an-Nawawi berkata, “Nuzul adalah makanan pokok, rizki dan makanan yang dipersiapkan untuk tamu.”

11. (Bonus tambahan) Shalat Sunnah 2 Raka’at Setelah Wudhu

Amalan inilah yang dirutinkan oleh sahabat Bilal yang telah menjadikannya sebagai penghuni surga dengan kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.

يَا بِلاََلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دُفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطَّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّي

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal radhiyallahu anhu setelah shalat fajar, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalanmu dalam Islam yang paling engkau harapkan. Karena sesungguhnya aku mendengar suara terompahmu di hadapanku dalam surga.” Bilal berkata, ”Tidaklah aku mengamalkan suatu amalan yang lebih aku harapkan melainkan setiap kali aku bersuci pada malam atau siang hari aku selalu mengerjakan shalat yang bisa aku lakukan.” (HR Al-Bukhari no 1149 dan Muslim no 2458)

حكم المظاهرة (Hukum Demontrasi)

ان الله قد وصف شريعته كمافي قوله:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]

قال اهل العلم في هذه الاية

 ان الاسلا نظام شامل يتناول مظاهر الحياة جميعا  Islam merupakan sistem hidup yang menyeluruh yang meliputi seluruh aspek kehidupan semuanya

14906908_1124482124254252_7997142568461571182_n

وقال تعالى ايضا :

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فُضِّلْتُ عَلَى اْلأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيْتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَجُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ طَهُوْرًا وَمَسْجِدًا وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّوْنَ

Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

Aku diberi keutamaan atas para nabi dengan enam perkara: pertama, aku diberi Jawami’ al-Kalim. Kedua, aku ditolong dengan rasa takut (yang dihunjamkan di dada-dada musuhku). Ketiga, ghanimah dihalalkan untukku. Keempat, bumi dijadikan suci untukku dan juga sebagai masjid. Kelima, aku diutus kepada seluruh makhluk. Keenam, para nabi ditutup dengan kerasulanku.”

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

[رواه مسلم]

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam  bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.”

(Riwayat Muslim)

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». …

kajian
Kajian Senin

 

ENAM PILAR PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM

Kerja pendidikan dalam pandangan Islam dipandang sebagai profesi kenabian, sehingga memiliki ikatan yang kokoh dengan hakekat Islam itu sendiri. Ada 6 (enam) pilar paradigma pendidikan Islam yang dapat dijadikan pijakan inti dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam.

14947524_1121822471186884_594767761445743288_n

Pertama, Pendidikan Islam lahir dalam rangka memberikan gambaran yang utuh dan tuntas tentang hakikat kehi-dupan fisis maupun metafisis, menyangkut hakikat ke-Tuhanan, hakikat dunia, serta hakikat manusia baik secara duniawi maupun ukhrowi. Semua terangkum dalam paket Syariat Islam yang paripurna. Dalam konsep pendidikan Islam pemahaman akan keutuhan ajaran Islam dapat terbingkai dengan baik jika dan hanya jika basis konsep ini disandarkan pada dhowabit / kaidah dan alur yang benar. Alur ini dimulai dengan menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pijakan inti sebagaimana isyarat untuk mengaproksimasi objek ayat kauniyah (alam semesta / universum). Keluasan konsep ini akan melahirkan wacana berfikir ummat yang berlevel rahmatan lil’alamin. Islam tidak hanya dijadikan sebagai simbol ritual dengan hingar-bingar di wilayahnya, namun sangat sunyi-senyap di wilayah lain. Konsep ini juga akan memastikan bahwa kemusliman seseorang sangat tidak berarti jika ia hanya mampu menegakkan Islam pada dataran individu an sich. Islam hanya digambarkan dengan protokoler akti-vitas masjid dan mengharamkan diri memasuki wilayah politik, sosial, ekonomi, budaya, dan hankam. Tuhan digambarkan seakan-akan hanya sebagai penguasa masjid, penguasa individu, bukan sebagai penguasa alam semesta, petala langit dan bumi serta seluruh aspek kehidupan kita. Konsep dasar ini tertera dalam firman Allah SWT :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الاِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan telah Aku cukupkan nikmatKu padamu dan Aku telah ridho Islam menjadi agama kalian..”

(QS. Al Maidah : 3)

Pada ayat yang lain Allah SWT juga berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (totalitas)…”

(QS. Al Baqarah : 208).

Kedua, Keseimbangan merupakan salah satu kata kunci dalam praktik pendidikan. Artinya penguasaan dan pemahaman suatu konsep Islam sangat tidak berarti jika tidak diikuti oleh interaksi diri secara intens terhadap ajaran Islam. Muslim yang telah mendapatkan pendi-dikan Islam yang benar laksana sepotong kapur yang dimasukkan ke dalam tinta Islam. Ia akan memiliki warna sesuai warna Islam, baik aspek internal maupun tampilan eksternal. Tidak keluar ucapan dari mulutnya kecuali lafal-lafal Islam, pemikirannya tidak menghasil-kan konsep kecuali konsep yang Qur’ani, perasaannya tidak tersentuh kecuali sentuhan nilai nabawi dan jasad-nya tidak melakukan gerakan kecuali gerakan yang sis-tematis dan alami. Merekalah yang oleh Al Qur’an sering disebut muslim kaffah.

Ketiga, Kesemangatan, kecerahan, keseriusan, dan kebermak-naan hidup merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan Islam. Unsur ini muncul karena sistem pendidikan Islam adalah sistem yang elastis dan adaptif yang mampu melahirkan kader yang dinamis. Elastisitas pendidikan Islam sesuai dengan hakikat Islam itu sendiri yang meletakkan sistem ijtihad sebagai salah satu piranti hukum. Dalam Islam sendiri sangat masyhur kaidah yang berbunyi “Senantiasa menjaga yang lama yang baik (berkualitas ) dan mengambil sesuatu yang baru yang jauh lebih baik”. Imam As Syafi’i berkataKulihat air yang diam  membusuk dan air yang bergerak senantiasa jernih“. Esensi dinamis dalam pendidikan Islam menyangkut dua hal penting, yaitu dinamis secara kualitatif dan dinamis secara kuan-titatif. Membangun generasi dinamis secara kualitatif dapat dilakukan dengan mengukur perkembangan ke-kuatan hafalan, kekuatan pemahaman, kekuatan analisis, sintesis maupun kemampuan menilai. Tentu hal ini dilakukan secara holistik baik terhadap ayat-ayat kauliyah maupun ayat-ayat kauniyah. Apabila kekuatan dinamisasi bidang ini dimiliki oleh setiap kader anak didik kita, maka akan mampu meningkatkan kemuliaan kedudukan mereka dalam masyarakat, sekaligus men-jadi magnet besar masyarakat kepadanya. Hal ini didukung kekuatan hujjah yang sangat argumentatif. Mereka adalah sosok unik yang mampu mengekspresi-kan diri lain daripada yang lain. Berbeda dengan Kenyataan yang kita lihat sekarang ini. Islam dalam produk pendidikan kita diartikulasikan dalam bahasa yang sangat kaku, tradisional, mengekor dan sebangsa-nya. Kalaupun action mereka berbeda justru pada sisi dan nilai westernisasinya, bukan pada substansi modernisasinya.

Keempat, Islam mengajarkan bahwa hidup adalah ujian. Hidup adalah permainan. Siapa yang selalu memper-siapkan diri dan selalu belajar dialah yang akan menang. Mereka yang berani menjemput bola dan pro-aktiflah yang akan sukses. Oleh karena itu pendidikan Islam sebagai wahana aktualisasi syariat Islam sangat menekankan pentingnya praktik lapangan dalam setiap aspek pembelajaran. Muslim yang baik adalah yang memiliki idealita setinggi langit namun kaki tetap berpijak pada bumi. Kita boleh dan bahkan harus memiliki konsep yang ideal dalam hidup ini. Kita juga harus menjadi orang yang pertama kali berani melaku-kan praktik dan menekuni pekerjaan sesederhana apapun selama pekerjaan itu memiliki basis konseptual yang kokoh. Dengan praktik langsung di lapangan, seseorang akan dapat merasakan hakikat dunia yang sesungguhnya, yang tidak mungkin diperoleh lewat alam pemikiran. Allah SWT banyak sekali memerintah-kan kepada kita untuk melakukan praktik lapangan sebagaimana firman-Nya :

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (105)

Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu maka Allah dan Rosul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan pada (Allah ) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan

(QS. At Taubah : 105).

Dalam pepatah kita sangat populer istilah :

”Pengalaman adalah guru yang terbaik, dan setiap orang yang ingin menjadi guru yang baik mesti harus berpengalaman”.

Jika ingin menjadi guru yang baik bagi dirinya, maka ia harus mempunyai pengalaman terhadap dirinya. Jika ingin menjadi guru yang baik dalam keluarga maka ia harus mempunyai pengalaman terhadap keluarganya dan sebagainya. Muara dari akumulasi pengalaman akan menjadi life skill bagi dirinya. Dengan kata lain, tidak ada sebuah profesionalisme diri kecuali melalui praktik lapangan.

Kelima, Hakikat pendidikan Islam adalah seni membangun manusia. Esensi dari seni membangun manusia adalah membangun dan memunculkan rasa kesadaran pada diri anak didik. Bangunan kesadaran diri inilah yang melahirkan pribadi bertanggung jawab. Pada dasarnya semua aktivitas di dunia ini tidak akan memberikan makna apa-apa kalau pelakunya adalah para peng-khianat. Sistem dan manajemen sebaik apapun akan hancur bila tidak ada rasa tanggung jawab para pelaku-nya. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berbasis hakikat fitrah kehidupan yang berupa kejujuran, amanah, dan keadilan. Tanggung jawab seorang muslim tentunya tanggung jawab vertikal kepada Allah SWT. Sebuah tanggung jawab yang akan melahirkan jiwa jujur, amanah serta perasaan selalu diawasi oleh Sang Khaliq (pencipta ) dalam setiap amalnya. Allah SWT berfirman :

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الاَرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (59)

Disisi Allahlah kunci-kunci yang ghaib, tidak ada yang tahu dalam masalah yang ghaib kecuali Allah. Allah maha mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan di lautan. dan tidak jatuh sehelai daun kecuali dalam pengawasan Allah. Dan tidak ada sebutir bijipun yang gugur dalam kegelapan bumi, dan tidak ada sesuatu yang basah dan yang kering kecuali semua tercatat dalam kitab Allah yang nyata”.

(QS. Al An’aam : 59 ).

Rakitan emosional inilah yang dalam istilah Islam disebut dengan sikap ikhsan, yaitu mereka yang ber-ibadah seolah-olah melihat Allah dan kalaupun mereka tidak melihat Allah maka pastilah Allah melihat mere-ka. Jiwa inilah yang menjadi landasan paling esensi profesionalisme. Tanggung jawab yang kedua adalah tanggung jawab horisontal sesama mahluk Allah, khu-susnya manusia. Tanggung jawab inilah yang tersim-pulkan dalam diri Rosulullah dengan sifat asasi beliau yang disebut Tabligh. Dengan sikap ini beliau mem-punyai public relationship yang luar biasa. Beliau adalah orang yang ketika berkumpul dengan pengemis seakan pengemis yang paling pengemis dengan segala perangkat kerendahan hati, kelembutan budi dan kesederhanaan sikap. Semua itu karena kemampuan adaptif jiwa dan perasaannya yang sangat luar biasa dengan lingkungan. Sebaliknya jika beliau berkumpul dengan para raja beliau adalah rajanya para raja, dengan kehebatan, kewibawaan, kecerdasan dan kecerdikan, ketangkasan, ketangguhan sikap, dan segudang integri-tas diri lainnya. Sehingga beliau adalah satu-satunya orang yang paling berhasil dan sukses setiap menyam-paikan visi dan misi kepada orang lain. Berbeda dengan kebanyakan kita, jika kita tinggi kedudukannya maka merasa risih dan mudah merendahkan martabat masyarakat kalangan bawah. Sedangkan jika kita ber-kumpul dengan kelompok di atas level kita, kita merasa kehilangan kepercayaan diri.Para generasi kita gagal membangun komunikasi dialogis dengan berbagai kelompok dengan menghilangkan atau meminimalisir sekat-sekat psikologis ketika sedang berinteraksi. Kiranya sudah seharusnyalah kita merenungkan kem-bali ajaran kita yang berbunyi

Hendaknya kalian menempatkan manusia sesuai dengan habitatnya, berbicara kepada kaumnya sesuai dengan bahasa kaumnya serta sesuai dengan kapasitas intelektualnya”.

Keenam, Muara dari sistem pendidikan Islam adalah mem-bangun profesionaliame pada individu. Profesionalisme dalam pandangan Islam mempunyai perbedaan visi dengan profesionalisme menurut istilah umum (sekuler). Profesionalisme harus mempunyai dua fondasi inti yaitu ikhsan dan itqan. Ikhsan telah dijelas-kan pada poin kelima, sedangkan itqan adalah sikap kokoh yang digambarkan oleh Allah seperti alam ciptaan-Nya berupa gunung. Pribadi itqan adalah pribadi yang memenuhi lima syarat yaitu ”Penampilan yang Meyakinkan, Konsep yang Argumentatif, Sikap yang Familier, Jiwa yang Dinamis, serta Sosok Pribadi yang Militan”.

Sikap itqan digambarkan oleh Allah sebagaimana alam semesta yang memiliki sifat :

  1. Disiplin yang tinggi (Syahsiah Inthibatiyah)
  2. Semangat baja (Jiddiyah)
  3. Beramal dengan kontinyu (Istimroriyyah)
  4. Produktivitas (Intajiyah)
  5. Penghargaan yang tinggi terhadap waktu (Harishon ‘ala Waqtih)

Allah berfirman :  

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ  (88)

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalan-nya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS. An Naml : 88)

Dari keenam pilar di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam pada dasarnya adalah sistem pendidikan yang ingin melahirkan ”Pribadi Standar” yang mampu melahirkan ”Keluarga Standar, Masyarakat Standar, Negara Standar, dan Dunia yang Standar” di bawah naungan syariat Islam.

Oleh : Ustad Kastori, S.Pd. (Pengasuh Ponpes. Terpadu Ulul Abshor, Semarang)

Jl. Karangrejo II/25 A, Banyumanik, Semarang.