SYARAT AGAR AMAL IBADAH DITERIMA ALLAH

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

baru-3

Syarat-syarat diterimanya di sisi Allah ada tiga.

Pertama, beriman dan bertauhid kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلاً

“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shalih, untuk merekalah surga-surga Firdaus.” (QS. Al Kahfi: 107)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قُلْ أَمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

“Katakan, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqamah-lah.” [HR. Muslim]

Kedua, ikhlas. Yaitu, beramal untuk Allah tanpa riya’[1] dan sum’ah[2]. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ

“Maka, ibadahilah Allah dengan ikhlas untukNya dalam [menjalankan] agama.” (QS. Az Zumar: 2)

Ketiga, sesuai dengan apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Dan apa-apa yang datang kepada kalian dari Rasulullah, maka ambillah. Dan apa-apa yang beliau larang darinya untuk kalian, maka jauhilah.” (QS. Al Hasyr: 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَادٌّ

“Siapa saja yang mengerjakan amalan yang tidak kami contohkan, maka amalannya tertolak.” [HR. Muslim]

 

Oleh : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Bagikan

Doa yang Sering Dibaca Rosululloh

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

baru-3

Qatadah bin Da’amah As Sadusi pernah bertanya kepada Anas bin Malik rahimahullah, “Doa apa yang paling sering diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Anas menjawab, “Doa yang paling sering diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

للَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

YA, ALLAH, BERIKANLAH KEPADA KAMI KEBAIKAN DI DUNIA DAN KEBAIKAN DI AKHIRAT SERTA JAUHKANLAH KAMI DARI AZAB NERAKA’.”

Dan adalah Anas, jika diminta mendoakan, berdoa dengan doa itu. Jika hendak berdoa, di dalamnya berdoa dengan doa itu.”

RUJUKAN: Muslim bin Hajjaj Al Qusyairi An Naisaburi. Shahih Muslim al Musamma Al Musnad Ash Shahih Al Mukhtashar min As Sunan bi Naqli Al ‘Adl ‘an Al ‘Adl ila Ar Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riyadh: Dar Ath Thayyibah. 1426H/2006M, halaman 1239-1240.

Bagikan

Diantara Adab Mencari Ilmu

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

baru-3

[Di antara adab seorang penuntut ilmu agama] hendaknya ia mengetahui hak gurunya dan tidak melupakan kebaikan gurunya.

Syu’bah mengatakan, “Aku, jika mendengar satu hadits dari seseorang, maka aku adalah budaknya selama ia masih hidup.”

Beliau juga mengatakan, “Tidaklah kudengar dari seseorang sesuatu, kecuali aku lebih banyak mendatanginya daripada apa yang kudengar darinya.”

Dan termasuk adab-adab kepada guru adalah memuliakan kehormatan dirinya serta membantah orang-orang yang meng-ghibah-nya dan marah kepada orang-orang yang meng-ghibah-nya. Jika tidak mampu untuk itu, maka ia berdiri dan meninggalkan majelisnya.

Hendaknya juga seorang penuntut ilmu itu mendoakan gurunya sepanjang hidupnya, menanggung beban anak-anak dan kerabatnya serta orang-orang yang dicintainya setelah wafat gurunya itu, meluangkan waktu menziarahi kuburnya, memintakan ampunan untuknya, bersedekah atas namanya, meniti jalannya dan mengikuti petunjuknya, memerhatikan ilmunya dan agama yang yang ia jalani, mencontoh etika dan ibadah-ibadahnya, beradab dengan adab-adabnya, dan tidak abai dari mencontohnya.

Sumber: Muhammad bin Ibrahim Ibnu Jama’ah Al Kinani. Tadzkirah As Sami’ wal Mutakallimi fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim. Kairo: Darul Atsar. 1428H/2007M, halaman 121.

Bagikan

Keutamaan bulan Ramadhan

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

baru-4

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ, شَهْرٌ مُبَارَكٌ . افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ .  يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ. فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ.  مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

‘Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan shaum kepada kalian. Di bulan itu, pintu-pintu Surga dibuka dan pintu-pintu Neraka ditutup. Di bulan itu, dibelenggu pembesar-pembesar seta. Di bulan itu, terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Maka, siapa saja yang dijauhkan dari kebaikan-kebaikannya, sungguh, ia telah terhalangi.’ [HR. Ahmad dan An Nasa-i]

Di dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu juga, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

‘Siapa saja yang shaum Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Dari ‘Amr bin Murrah Al Juhani radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَأَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ ، وَصَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ ، وَأَدَّيْتُ الزَّكَاةَ ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ ، فمِمَّنْ أَنَا ؟ قَالَ : مِنَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku, seandainya aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, aku tegakkan shalat lima waktu, aku tunaikan zakat, dan aku shaum Ramadhan, termasuk golongan manakah aku?’. Rasulullah menjawab, ‘Termasuk golongan para shiddiq dan syuhada’’.” [HR. Al Bazzar, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban di dalam kedua kitab Ash Shahih mereka berdua dan lafaz milik Ibnu Hibban]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat-shalat lima waktu, shalat Jum’at ke shalat Jum’at, dan shaum Ramadhan ke shaum Ramadhan adalah penghapus-penghapus dosa di antara keduanya, jika menjauhi dosa-dosa besar.” [HR. Muslim]

Di dalam Ash Shahihain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

كُلُ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ ، الحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إلى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلا الصَوم ، فَإِنهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي .  لِلصَائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِهِ، وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan anak Adam adalah untuk mereka. Satu kebaikan berlipat ganda jadi sepuluh sampai 700 kali lipat. Allah ta’ala berfirman, ‘Kecuali shaum, karena shaum hanya untukKu dan Aku yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena Aku’. Bagi orang yang shaum, ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Dan berubahnya bau mulut orang yang shaum di sisi Allah lebih wangi daripada wangi minyak kesturi.”

Ketahuilah, tidak akan sempurna usaha mendekatkan diri kepada Allah tersebut dengan sebenar-benarnya meninggalkan syahwat-syahwat yang mubah dalam keadaan shaum, kecuali setelah mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan apa-apa yang Allah haramkan di setiap keadaan dari itu kedustaan, kezaliman, pemusuhan di tengah manusia terkait darah-darah mereka, harta-harta mereka, dan kehormatan-kehormatan mereka. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ اَلزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ , فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan amalan dusta, maka Allah tidak akan membalas usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.” [HR. Al Bukhari]

Dan rahasianya, mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan yang mubah-mubah tidak akan sempurna, kecuali setelah mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan yang haram-haram.

Karena itu, siapa saja yang mengerjakan keharaman-keharaman lalu mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan yang mubah-mubah, itu seperti orang yang meninggalkan kewajiban-kewajiban dan mendekatkan diri kepada Allah dengan hal-hal yang sunnah, meskipun ia niatkan makan dan minumnya sebagai penguat badannya untuk shalat malam dan shaum—ia diberi pahala untuk itu, sebagaimana ia meniatkan tidur malam dan siangnya untuk menguatkan badannya agar beramal sehingga tidurnya adalah ibadah.

Karena itu, seorang muslim dalam keadaan beribadah siang dan malam. Doanya dikabulkan ketika ia shaum dan ketika ia berbuka. Di siang harinya, ia shaum dan ia bersabar. Di malam harinya, ia makan dan ia bersyukur.

Di antara syarat hal itu, hendaklah orang yang shaum itu berbuka dengan yang halal. Jika ia berbuka dengan yang haram, maka ia termasuk orang yang shaum dari apa yang Allah halalkan dan berbuka dengan apa yang Allah haramkan. Allah tidak akan mengabulkan doanya.

Ketahuilah, seorang mukmin itu mengumpulkan dua jihad di bulan Ramadhan: jihad melawan hawa nafsu di siang hari dengan shaum dan jihad di malam hari dengan qiyamul lail. Karena itu, siapa saja yang mengumpulkan dua jihad ini dan memenuhi hak-hak kedua jihad serta bersabar menjalankannya, Allah akan memenuhi ganjaran untuk orang tersebut tanpa perhitungan.

Sumber: Syaikh Abdullah bin Jarillah Alu Jarullah. Silsilah Ushul Al Islam: Ash Shiyam. TTp: Mu-assasah Al Amirah Al ‘Unud binti Abdil Aziz Al Khairiyyah. TTh, halaman 8-15.

Bagikan

Kelembutan Allah Berbeda dari Kelembutan Makhluk

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

baru-3

baru-1

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“Sesungguhnya, Allah maha pengampun lagi maha lembut.” (QS. Ali Imran: 155)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَاللّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ

“Dan Allah maha mengetahui lagi maha lembut.” (QS. An Nisa’: 12)

Maha lembut, artinya, lembut terhadap siapa saja yang memaksiatiNya. Jika Allah ingin menghukumnya di waktu itu, Allah bisa melakukannya. Namun Allah lembut terhadapnya dan mengakhirkannya sampai batas waktunya.

Nama “lembut”, meskipun makhluk juga disifati dengan sifat ini, tidak muncul pada makhluk ketika mereka masih kecil. Sifat ini baru muncul ketika mereka dewasa.

Dan kadang-kadang berubah ketika sakit, marah, dan ketika muncul sebab-sebab tertentu. Sifat lembut makhluk akan hilang dengan kematian makhluk, sedangkan sifat lembut Allah terus ada dan tidak akan hilang.

Makhluk akan lembut pada sesuatu dan tidak berlaku lembut pada sebagian yang lain serta berlaku lembut pada siapa pun yang ia tidak berani kepadanya. Adapun Allah ta’ala, Dia maha lembut dengan segala kekuatanNya.

Bagikan