Terminal Kehidupan

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

brosur-smp-anyar

Seorang kaya raya mengalami tekanan psikis yang sangat menyakitkan. Masalah demi masalah selalu muncul. Belum selesai satu masalah, muncul masalah lain. Mulai dari kerugian demi kerugian omzet perusahaan, karyawan yang mengambil seenaknya pendapatan perusahaan, atau pencurian uang perusahaan. Di rumah, dia dipusingkan dengan ulah istri yang suka menghambur hamburkan uang, beli perhiasaan super mahal, belanja di luar negeri. Tidak sampai situ, anak gadisnya sudah berbadan dua sebelum menikah. Karena pergaulan anak gadisnya sangat bebas, selalu pulang larut malam. Belum lagi, hutang perusahaan terus mencekik bersama suku bunga yang naik setiap bulannya.
Akhirnya, dia pergi ke dokter jiwa dengan beaya sangat mahal. Bukan hanya itu, dia berkeliling dunia untuk menenangkan pikiran. Dia ikut senam yoga untuk meditasi dengan pelatihan intensif sangat mahal. Dia selalu menenangkan pikiran dengan beaya beaya yang semakin menguras asetnya. Pelatihnya khusus melatihnya untuk metidasi di puncak gunung. Dia pun membangun villa di sana dengan beaya super mahal. Dengan pelatihan khusus super mahal, tekanan demi tekanan terus berkurang. Akhirnya, dia bisa menenangkan diri sejenak. Lalu dia kembali beraktifitas seperti sedia kala.

Sahabat, sebenarnya selama ini kita melakukan pengobatan yang sebagian besar orang belum sadari. Dan semua orang cerdas tahu bahwa metode itu sangat ampuh untuk kebahagiaan seseorang. Apa itu ? Mari terus lanjutkan.

Terminal Harian dan Bulanan Yang Membawa Ketentrama Hati

Orang barat mencari cara menentramkan hati. Mereka menemukan caranya. Yaitu meditasi dengan gerakan. Intinya dia duduk mencari kesejukan jiwanya yang terpendam dalam lautan kesedihan nyata. Tapi tahukah sesungguh ajaran Islam sangat menyehatkan jiwa raga. Setiap hari, lima kali sehari, seorang muslim diwajibkan sholat lima waktu dengan waktu waktu yang sudah diatur. Metode pengobatan jiwa itu SHOLAT.

Dengan sholat, kita sejenak tinggalkan urusan dunia. Hutang, anak nakal, istri tidak patuh, sejenak disisihkan. Karena saat itulah waktunya Anda berhenti di terminal Harian. Terminal itu menjadi alat pembersih jiwa Anda, sebagaimana tubuh Anda dibersihkan dalam air bersih dan jernih, ketika Anda selesai, tubuh Anda pun segar, sehat, dan tidak satu pun noda menempel tubuh.

Hanya saja kita tidak menyadarinya. Apa alasannya ? Karena kita menjadikan sholat sebagai suatu kewajiban, bukan kebutuhan. Sangat beda antara orang yang menganggap sholat sebagai suatu kebutuhan dan kewajiban. Kewajiban, maka sebatas pelaksanaan saja. Beda dengan kebutuhan, dia akan melaksanakan penuh kenikmatan.

Bisa jadi juga orang menemukan mutiara dalam sholat karena dia mempraktekkan belum sepenuhnya perfect. Dia masih mikir hal lain selain focus pada sang pencipta, masih mikir hutang, istri, dan anak. Jika pikiran kita belum focus, maka sulit rasanya meraih kenikmatan itu. Tidak aja satu pun ajaran Islam yang menyengsarakan, semuanya penuh manfaat untuk diri.
Lalu apa itu terminal mingguan ? Yaitu sholat Jum’at.

“ Sungguh dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tentram.”

Lihat dengan seksama, itu solusi atau hanya sekadar kewajiban ? Baca sekali lagi .. hayati .. taruh dalam nurani Anda. Jika sudah, saya akan jelaskan untuk Anda.

Banyak dari kita tidak menyadari solusi dan solusi jiwa sekarat akibat menumpuk masalah sebenarnya ada di pelupuk mata. Lalu kita sering mencari cara dengan mengeluarkan banyak uang, padahal uangnya bisa digunakan untuk membantu sesama yang kekurangan. Ternyata DENGAN MENGINGAT ALLAH, HATI MENJADI TENTRAM. Nah, apa solusi jika hati gelisah, gundah, tidak bahagia ? Jelas MENGINGAT ALLAH. Nah, bagaimana cara mengingat Allah ?

Sholat sejatinya kita berhadapan dengan Allah, maka selain itu dilupakan. Dzikir pun secara Bahasa artinya mengingat, pada aplikasinya pun mengingat. Inilah solusi yang selama ini yang jarang kita perhatikan.

Anda gundah, gelisah, sedih, karena alasan apa pun ? Maka laksanakan ibadah sebanyak mungkin. Lupakan sejenak masalah Anda. Ini bukan menghindari masalah. Praktek ini adalah mengobati psikis Anda, mengobati kegundahan hati, juga membuat menentramkan hati. Bisa jadi Allah anugerahkan solusi masalah Anda seberat apa pun itu ke dalam jiwa Anda.

Sekarang tinggal Anda pilih, pengobatan dengan ibadah nyata yang diakui khasiatnya oleh orang orang cerdas dan itu dilakukan tanpa beaya apa pun. Atau seperti orang kaya di atas yang membayar sangat mahal, yang mana uangnya tadi bisa digunakan untuk membantu sesama yang lebih membutuhkan pertolongan orang kaya tadi, seperti sedekah pada anak yatim di panti, membangun masjid yang belum dibangun, dan amal sholeh lainnya.

Bagikan

TARBIYAH YANG MELAHIRKAN PARA PEJUANG

 

brosur-smp-anyar

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa diantara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi mereka keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Alloh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Alloh yang diberikanNya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha luas (pemberianNya), Maha Mengetahui.”  (Qs. Al-Maidah: 54).

Diantara salah satu bentuk kasih sayang Alloh dan kemurahanNya kepada umat ini adalah akan selalu adanya generasi atau orang-orang yang menjaga, membela dan menegakkan dien ini pada setiap masa. Keberadaan dari generasi ini pada setiap masa tidak akan pernah kosong, meskipun dengan tokoh dan tempat yang mungkin saja berganti-ganti. Ketika di tengah-tengah umat Islam marak dengan kesyirikan dan bid’ah maka Alloh memunculkan para ulama yang berpegang teguh dengan tauhid dan sunnah yang menyeru umat untuk kembali kepada manhaj yang lurus. Dan tatkala umat ini mengalami kedzoliman dari kaum kafir maka Alloh menghadirkan para mujahid dan para komandannya yang menjadi pembela dan penjaga umat ini.

Kehadiran dari generasi pilihan yang dijanjikan oleh Alloh pada setiap masa menjadi pelita yang menerangi jalannya umat ini dan pemandu menapaki jalan kebenaran. Mereka adalah orang-orang yang terasing pada zamannya, namun dirindukan kehadirannya di tengah-tengah umat sebagai pelipur lara dan penyejuk mata. Adakalanya mereka berada di belahan dunia bagian timur, adakalanya ada di bagian barat, atau mereka berada di banyak tempat. Generasi ini laksana mutiara-mutiara yang tersimpan, ia lahir dari umat ini dan menjadi pembela dan penjaga umat ini. Mereka bukan manusia yang diturunkan secara khusus dari langit, tapi mereka adalah anak-anak dari umat ini.

Namun ketahuilah, bahwa generasi pilihan dari umat ini yang muncul setiap masa tidak lahir serta merta tanpa melalui proses panjang. Generasi tersebut meskipun berbeda tokoh dan tempat keberadaannya namun sesungguhnya mereka lahir melalui proses yang sama. Karenanya agar pada umat ini terus lahir generasi pejuang maka proses untuk melahirkan para pejuang harus tetap dihidupkan. Dan hendaknya agar anak-anak umat ini kelak muncul sebagai pejuang yang membela dan menjaga umat ini, maka mereka harus melalui proses yang sama.

Proses untuk lahirnya atau terbentuknya generasi pejuang yang menjaga dan membela umat ini adalah tarbiyah dalam berbagai jenisnya. Maka siapa yang ingin dirinya dan anak-anaknya menjadi mujahid, yang melalui tangannya Alloh menjaga dan mengokohkan dienNya, mereka harus melewati tarbiyah yang sama. Dan diantara tarbiyah yang harus dilalui untuk melahirkan atau membentuk generasi pejuang adalah:

Seorang hamba yang rela mengorbankan waktu, tenaga, harta, jiwa dan raganya untuk membela dienulloh sudah dipastikan karena ia mencintainya. Dan cinta terhadap dienulloh hanya bisa tumbuh kecuali disebabkan karena ia mengetahui dan meyakini bahwa ia dien yang benar dan dien yang akan membawa keselamatan bagi pengikutnya. Tidaklah pengetahuan dan keyakinan seperti itu muncul kecuali setelah seseorang mempelajari dengan tekun akan dienulloh. Inilah tarbiyah yang dialami setiap pejuang dari umat ini sejak generasi pertama Islam (para sahabat) sampai generasi terakhir umat ini.

Alloh ‘Azza Wa Jalla berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ  .وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata, dan juga kepada kaum yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah yang Maha perkasa, Maha bijaksana”. (Qs. Al-Jumu’ah: 2-3).

Hal itulah yang dilakukan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallamuntuk membina umat generasi pertama sehingga menjadi kesatria yang berjuang untuk menegakkan dienulloh. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan para sahabat tentang dien dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan mereka memahami ayat-ayat Al-Qur’an maka terkikislah keyakinan syirik dan paham-paham jahiliyah yang bersemayam di dada-dada mereka. Kemudian tumbuh suburlah keyakinan tauhid dalam diri mereka yang menjadikan mereka pribadi-pribadi baru yang suci dan kembali kepada fitrahnya. Dan jadilah mereka generasi yang berjalan dimuka bumi laksana Al-Qur’an dan Sunnah yang berjalan dikarenakan kedekatan mereka dengan keduanya.

Proses tarbiyah dieniyah yang demikian terus diwariskan dari generasi sahabat hingga generasi-generasi selanjutnya. Sehingga jika kita membaca biografi seorang tokoh pejuang Islam maka akan disebutkan bahwa ia belajar Al-Qur’an dari ulama fulan, belajar fiqih dari ulama fulan, belajar hadits dari ulama fulan dan begitu seterusnya.

Rekam jejak para ulama dan para pemimpin umat ini selalu disebutkan tentang proses tarbiyah dieniyah mereka. Sebab dengan itu akan diketahui kualitas keilmuan dan kelurusan manhajnya.

Bacalah biografi Imam Ahmad, Imam Syafi’i, Imam Bukhori, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan yang lainnya, pasti akan kalian temukan riwayat mereka menuntut ilmu. Dan akan kalian dapatkan nama-nama guru yang berjasa mendidik dan membentuk karakternya. Maka setiap muslim dan anak-anaknya yang hendak mengambil bagian sebagai pejuang Islam harus menempuh jalan pendahulunya. Maka harus mendatangi orang-orang ‘alim yang menempuh manhaj Istiqomah untuk mengambil manfaat ilmu dari mereka. Bukan hanya ilmu yang di ambil dari sang guru, namun juga keteladanan dan sifat baik yang ada padanya.

 

Bagikan

JANGAN BERDEBAT DENGAN ORANG-ORANG BODOH

♻  Imam  Syafi’i  Berkata  :

 

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا قَطُّ عَلَى الْغَلَبَةِ

“  Aku  Tidak  Pernah  Berdebat  Untuk  Mencari  Kemenangan ” { Tawali  Ta’sis  Halaman. 113  Oleh  Ibnu  Hajar }.

 

Namun  Jika  Yang  Kita  Hadapi  Ternyata  Adalah  Orang – Orang  Jahil,  Maka  Lain  Perkaranya.

 

Bahkan  Imam  Syafi’i  Rahimahullah  Berkata  :

” Aku  Mampu  Berhujah  Dengan  10  Orang  Yang  Berilmu, Tetapi  Aku  Pasti  Kalah  Dengan  Seorang  Yang Jahil,  Karena Orang  Yang  Jahil   Itu  Tidak   Pernah  Faham  Landasan Ilmu.”

 

Maka  Dari  Itu,  Kita  Mending  Mengalah  Saja  Dengan  Orang Yang  Jahil.  Jika  Tidak,  Maka  Kita  Akan  Sama –  Sama  Turut  Jahil.  Maka  Diam  Saja  Itu Penyelamat,  Daripada Diteruskan  Saling  Berbantahan  Yang  Tiada  Kesudahan.

 

Lengkapnya  Dari  Imam  Syafi’i  Rahimahullah  Dalam  Sikap Menghadapi  Orang – Orang  Jahil   :

ﺍِﺫَﺍ ﻧَﻄَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻔِﻴْﻪُ ﻭَﺗُﺠِﻴْﺒُﻬُﻔَﺦٌﺮْﻳَ ﻣِﻦْ ﺍِﺟَﺎﺑَﺘِﻪِ ﺍﻟﺴُّﻜُﻮْﺕُ

” Apabila  Orang  Bodoh  Mengajak  Berdebat  Denganmu, Maka  Sikap  Yang  Terbaik  Adalah  Diam,  Tidak  Menanggapi

 

ﻓَﺎِﻥْ ﻛَﻠِﻤَﺘَﻪُ ﻓَﺮَّﺟْﺖَ ﻋَﻨْﻬُﻮَﺍِﻥْ ﺧَﻠَّﻴْﺘُﻪُ ﻛَﻤَﺪًﺍ ﻳَﻤُﻮْﺕُ

” Apabila  Kamu  Melayani,  Maka  Kamu  Akan  Susah  Sendiri. Dan  Bila  Kamu  Berteman  Dengannya,  Maka  Ia  Akan  Selalu Menyakiti  Hati ”

ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﺳَﻜَﺖَّ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﻮْﺻِﻤَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻬُﻤْﺎِﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏَ ﻟِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮِ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ

” Apabila  Ada  Orang  Bertanya  Kepadaku,  : “  Jika  Ditantang  Oleh  Musuh,  Apakah  Engkau  Diam ?? ”

 

Jawabku  Kepadanya :  “   Sesungguhnya  Untuk  Menangkal Pintu – Pintu  Kejahatan  Itu  Ada  Kuncinya. ”

ﻭَﺍﻟﺼُّﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟِﺼَﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ

” Sikap  Diam  Terhadap  Orang  Yang  Bodoh  Adalah  Suatu Kemuliaan.  Begitu  Pula  Diam  Untuk  Menjaga  Kehormatan Adalah  Suatu  Kebaikan ”

 

Lalu  Imam  Syafi’i  Berkata  :

ﻭَﺍﻟﻜَﻠﺐُ ﻳُﺨْﺴَﻰ ﻟَﻌَﻤْﺮِﻯْ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺒَّﺎﺡُ

” Apakah  Kamu  Tidak  Melihat  Bahwa  Seekor  Singa  Itu Ditakuti  Lantaran  Ia  Pendiam ??  Sedangkan  Seekor  Anjing Dibuat  Permainan  Karena  Ia  Suka  Menggonggong  ?? ”

{ “  Diwan  As  –  Syafi’i ”  Karya  Yusuf  Asy – Syekh  Muhammad Al – Baqa’i }

 

♻  Beliau  Rahimahullah  Menambahkan  :

” Orang  Pandir  Mencercaku  Dengan  Kata – Kata  Jelek

Maka  Aku  Tidak  Ingin  Untuk  Menjawabnya.  Dia  Bertambah Pandir  Dan  Aku  Bertambah  Lembut,  Seperti  Kayu  Wangi Yang  Dibakar  Malah  Menambah  Wangi ”

{ Diwan  Asy – Syafi’i  Hal. 156 }.

 

♻  Maka :  Tidak  Perlu  Kita  Berdebat  Dengan  Orang –  Orang  Yang  Nantinya  Hanya  Akan  Menghinakan  Diri  Kita  Sendiri, Bahkan  Bisa  Jadi  Juga  Menghinakan  Para  Ulama.

 

♻  Untuk  Itu  Imam  Syafi’i  Berkata  Kepada  Orang  Jahil  Yang Menantangnya  Berdebat  :

” Berkatalah  Sekehendakmu  Untuk  Menghina  Kehormatanku, Toh  Diamku  Dari  Orang  Hina  Adalah  Suatu  Jawaban. Bukanlah  Artinya  Aku  Tidak  Mempunyai  Jawaban,  Tetapi Tidak  Pantas  Bagi  Singa  Meladeni  Anjing ”

 

♻  Dan  Nabi  Muhammad  Shållallåhu  ‘Alaihi  Wa  Sallam  Juga Telah  Bersabda :

“  Aku  Akan  Menjamin  Sebuah  Rumah  Di  Dasar  Surga  Bagi Orang  Yang  Meninggalkan  Debat  Meskipun  Dia  Berada Dalam  Pihak  Yang  Benar.  Dan  Aku  Menjamin  Sebuah Rumah  Di  Tengah  Surga  Bagi  Orang  Yang  Meninggalkan Dusta  Meskipun  Dalam  Keadaan  Bercanda.  Dan  Aku  Akan Menjamin  Sebuah  Rumah  Di  Bagian  Teratas  Surga  Bagi Orang  Yang  Membaguskan  Akhlaknya. ”

{ Hadits  Riwayat.  Abu  Dawud  Dalam  Kitab  Al – Adab,  Hadits No.  4167.  Dihasankan  Oleh  Al – Albani  Dalam  As – Shahihah 273  As – Syamilah }.

 

♻  Sudaraku  ….  Berdebat  Tidaklah  Terlarang  Secara  Mutlak, Karena  Terkadang  Untuk  Meluruskan  Sebuah  Syubhat Memang  Harus  Dilalui  Dengan  Berdebat.  Dan  Debat  Itu Terkadang  Terpuji,  Terkadang  Tercela,  Terkadang  Membawa Mafsadat  { Kerusakan }  Dan  Terkadang  Membawa Mashlahat.

Bagikan

Kelembutan Hati Umar

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

brosur-smp-anyar-depan

Suatu hari, sekelompok anak bermain penuh kegirangan. Mereka sangat menikmati permainan mereka. Tapi seketika mereka tersentak kaget. Tubuh mereka merinding ketakutan. Mereka melihat sosok lelaki gagah di dekat mereka. Rasa takut mereka semakin kencang ketika lelaki itu berjalan mendekati mereka.
Anak anak itu tahu lelaki itu ditakuti oleh banyak orang karena wataknya yang keras. Lelaki itu penuh wibawa tinggi dan gagah. Jangankan manusia, jin pun berlari menjauh ketika melihat sosok lelaki itu di pelupuk mata mereka. Dialah Umar Bin Khattab, seorang pemimpin tegas dan berkarakter keras dan juga kaya raya.

Tapi dari sekian banyaki anak yang bermain itu, ada seorang anak yang berdiri di tempat. Dia tidak mengikuti seluruh temannya yang lari ketakutan. Bahkan anak itu terus memandangi Umar dengan pandangan lunak. Sehingga Umar berada tepat di depannya. Tapi anak itu tidak juga menjauh.

Umar berkata,
“ Kok kamu tidak menghindar seperti teman teman mu ?”
Anak itu menjawab dengan tegas,” Apa salah saya sehingga saya lari. Kenapa saya lari melihat Anda, saya sama sekali tidak membuat suatu keburukan dengan Anda.”
Umar tersenyum. Seketika itu, dia merogok sakunya untuk mengambil uang, lalu diberikan uang itu pada anak itu.

***
Malam itu, Umar berjalan berkeliling sendiri untuk memantau keadaan. Umar mendengar suara tangis seorang bocah. Seketika itu dia mendekat. Di relung kegelapan, dia melihat seorang bocah dipangku ibunya yang lesu lemah tiada daya. Kelaparan dahsyat menjadi penyebab.

“ Ada apa denganmu ?” Tanya khalifah Umar.
“ Anakku kelaparan, dia butuh makan,” kata ibu sang anak.
Umar pun mengiba. Seketika itu juga, dia berlari menuju gudang untuk mengambil satu karung gandum. Dia mengangkat seorang diri di tengah kegelapan malam. Keringat bercucuran. Dia tidak peduli jabatannya sebagai pemimpin yang notabene berada dalam kemewahan dan kemudahan hidup. Sesampai di saana, Umar masih mendengar jeritan rasa lapar berbentuk tangis.

Umar berlinang air mata. Dia pun memasang api, lalu memasak gandum seorang diri. Setelah matang, dia menghidangkan makanan untuk ibu dan anak yang kelaparan itu. Umar tersenyum melihat mereka bisa menghapus rasa lapar.

***

Dia memang berwatak keras. Tapi hatinya begitu lembut, bahkan lebih lembut dari orang bertutur kata paling lembut. Watak memang karakter yang ada pada diri orang. Dan itu harmonisasi kehidupan. Ada sahabat berwatak sangat lembut sekali seperti Abu Bakar. Ada juga yang keras seperti Umar.

Tapi kelembutan hati mutlak dimiliki setiap insane beriman. Dan Umar membuktikannya dengan tindakan nyata. Di zaman sekarang, tidak mudah rasanya punya pemimpin yang sangat berempati pada rakyatnya. Bicara sangat mudah, tapi aplikasi itulah yang harus dipenuhi. Karena bila ucapan itu, tindakannya ya harus itu.

Banyak orang main logika, jikalau hati mudah memaafkan ibarat piring yang jatuh dipecahkan, dan tidak mungkin disatukan. Sahabat, berkaca dari tema di atas, jangan mengibaratkan hati dengan piring. Semua tahu piring benda keras. Dan benda keras mudah pecah. Kalau hati itu benda keras, niscaya cahaya hidayah akan memantul. Ketika disakiti secuil saja, kekerasannya akan muncul karena materialnya keras. Hati bukan seperti itu hakekatnya.

Hati ibarat gabus. Yang empuk dan lembut. Jikalau disentuh terasa lembut. Begitu pula jatuh, dia akan tetap lembut dan utuh. Walaupun pernah disakiti, dia akan tetap tegar dan memafkan . Karena dia tahu esok akan menjadi kebaikan baginya jikalau dia mau berdamai dengan masa lalunya.

Bagikan