Hewan-hewan di Lautan

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

psb1

A. Chlorophyta

Filum chlorophyta lebih sering dikenal dengan istilah “alga BIru”. Dinamakan seperti itu karena mengandung zat pigmen berupa klorofil a dan b, karoten a dan b dan xantofi. Alga ini ada yang ber sel satu dan ada yang banyak. Yang ber sel banyak biasanya membentuk koloni dan berbentuk benang atau helaian daun. Dapat hidp di kingkungan air tawar, air laut dan air payau. Spesies dari chloropyta ini yang hidup sebagai fitoplankton yang terapung dan mengambang di air.

B. Rhodophyta ( Alga Merah )

Susunan alga ini ber sel banyak dan menyerupai benang atau lembaran.  SElain mempunyai klorofil, alga nerah mempunyai pigmen merah (fikoeritin ). Alga ini biasanya hidup di laut. Tetapi ada beberapa yang hidup di air tawar. Contohnya batrachospemum sp dan Lemane sp. Berkembang biak dengan cara vgetatif dan fragmentasi dan pembentukan spora.

Dinding sel terdiri dari dua lapisan. Yang sebelah dalam mengandung selulosa atau peltin dan bagian luar berlendir mengandung poli sakarida, galaktosa serta kalsium karbonat. Adapun alga yang termasuk dalam Rhodophyta antara lain Gracillaria dan Gelidium Cartilagineum yang merupakan bahan makanan, karena dapat dibuat agar-agar.

Contoh alga merah yang lain adalah Chondrus Crispus, Lomentari Polysiphonia sp, Gigertina mamilosa, Euchoma Spinosium, Gelidium Cartilagineum, Gracilaria lichenoides dan Rhodymenia palmate.

C. Phaeophyta

Warna coklat pada alga in disebabkan adanya figmen fikosantin. Hampir semua alga coklat merupakan tumbuhan laut. Susunan tubuhnya ada yang berbentuk filamen dan ada pula yang berbentuk lembaran atau pita. Alga ini mempunyai struktur seperti tumbuhan tingkta tinggi. Mempunyai batang atau tangkai dan daun. Lapisan luar berupa epidermis di bagian tengahnya ada jaringan yang mempunyai floem. Pembiakan secara vegetatif dan fragmentasi, sedangnakan pembiakan generatifnya denagn isogami. Contoh Phaeophyta adalah laminarus focus, sargasum dan macrocytys.

D. Copepoda

adalah krustasea dengan jumlah terbesar diantara semua hewan. Setiap copepoda memiliki sebuah pelindung tubuh seperti perisai dan kaki yang berselaput yang digunakan untuk berenang dan berkembang biak di air yang bening di dekat permukaan. Kawanan coepoda memakan tanaman-tanaman dan hewan-hewan mikroskopis selain krill, copepoda adalah makanan utama bagi ikan dan hewan laut lainnya.

E. Ekinodermata

Arti ekinodermata adalah ‘kulit berduri’. Sebagian besar bulu babi dan beberapa bintang lautbmempunyai duri tajam. Beberapa diantaranya beracun. Jenis ekinodermata lain adalah timun laut.

Oleh. Aida Huroiya (Ringkasan)

Bagikan

JENIS – JENIS MANUSIA

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

brosur-smp-anyar

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dari Abu Musa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang ALLAH mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut ALLAH memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama ALLAH, bermanfaat baginya ajaran yang ALLAH mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran ALLAH dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang ALLAH mengutusku untuk membawanya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

*Ilmu dan Petunjuk Dimisalkan Dengan Ghoits (Hujan)

Ilmu yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Ilmu tersebut dimisalkan dengan ghoits yaitu hujan yang bermanfaat, tidak rintik dan tidak pula terlalu deras. Ghoits dalam Al Qur’an dan As Sunnah sering digunakan untuk hujan yang bermanfaat berbeda dengan al maa’ dan al mathr yang sama-sama bermakna hujan. Adapun al mathr, kebanyakan digunakan untuk hujan yang turun dari langit, namun untuk hujan yang mendatangkan bahaya. Sebagaimana dalam firman ALLAH:

“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.” (Asy Syuraa 42: 173)

Sedangkan mengenai ghoits, ALLAH berfirman, “Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur.”

(Yusuf 12: 49)

*Manusia Bertingkat-Tingkat Dalam Mengambil Faedah Ilmu

An Nawawi –rahimahullaah- mengatakan,

“Adapun makna hadits dan maksudnya, di dalamnya terdapat permisalan bagi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan al ghoits (hujan yang bermanfaat). Juga terdapat kandungan dalam hadits ini bahwa tanah itu ada tiga macam, begitu pula manusia.

Jenis Pertama adalah dia mendapatkan petunjuk dan ilmu. Dia pun menjaganya (menghafalkannya), kemudian hatinya menjadi hidup. Dia pun mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang dia miliki pada orang lain. Akhirnya, ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya dan juga bermanfaat bagi yang lainnya.

Jenis Kedua adalah dia memiliki ingatan yang bagus. Akan tetapi, dia tidak memiliki pemahaman yang cerdas. Dia juga kurang bagus dalam menggali faedah dan hukum. Dia pun kurang dalam berijtihad dalam ketaatan dan mengamalkannya. Manusia jenis ini memiliki banyak hafalan. Ketika orang lain yang membutuhkan yang sangat haus terhadap ilmu, juga yang sangat ingin memberi manfaat dan mengambil manfaat bagi dirinya; dia datang menghampiri manusia jenis ini, maka dia pun mengambil ilmu dari manusia yang punya banyak hafalan tersebut. Orang lain mendapatkan manfaat darinya,sehingga dia tetap dapat memberi manfaat pada yang lainnya.

Jenis Ketiga adalah dia tidak memiliki banyak hafalan, juga tidak memiliki pemahaman yang bagus. Apabila dia mendengar, ilmu tersebut tidak bermanfaat baginya. Dia juga tidak bisa menghafal ilmu tersebut agar bermanfaat bagi orang lain.”

(Syarh Muslim, 15/47-48)

Siapakah Manusia yang Disebutkan dalam Hadits Ini?

Manusia jenis pertama adalah penerus para Rasul ‘alaihimush sholaatu wa salaam. Mereka inilah yang menegakkan agama ini dengan ilmu, ‘amal dan dakwah (mengajak kepada ajaran ALLAH dan Rasul-Nya). Merekalah pengikut para nabi yang sebenarnya. Mereka inilah yang diibaratkan dengan tanah yang baik, hatinya senantiasa bersih. Tanah seperti ini dapat menumbuhkan tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dia dapat memperoleh manfaat, begitu juga manusia dapat memperoleh manfaat darinya.

Orang-orang seperti inilah yang menggabungkan ilmu dalam agama dan kekuatan dalam berdakwah. Merekalah yang disebut pewaris para Nabi sebagaimana yang disebutkan dalam firman ALLAH:

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan al basho-ir.” 

(Shaad 38: 45).

Yang dimaksud al basho-ir adalah mengetahui kebenaran. Dan dengan kekuatan, ilmu tersebut dapat disampaikan dan didakwahkan pada yang lainnya.

Manusia jenis pertama ini memiliki kekuatan hafalan, pemahaman yang bagus dalam masalah agama, dan memiliki kemampuan dalam tafsir. Kemampuan inilah yang membuat tumbuh banyak rerumputan di tanah tersebut. Sehingga hal ini yang membuat mereka lebih utama dari manusia jenis kedua.

Manusia jenis kedua adalah hufaazh (para penghafal hadits) dan dia menyampaikan apa yang didengar. Kemudian orang lain mendatangi manusia jenis ini dan mereka mengambil faedah darinya. Mereka termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Semoga ALLAH memberi nikmat kepada orang yang mendengar sabdaku, kemudian dia menghafalkannya dan menyampaikannya pada yang lain. Betapa banyak orang yang menyampaikan hadits, namun dia tidak memahaminya. Terkadang pula orang yang menyampaikan hadits menyampaikan kepada orang yang lebih paham darinya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ath Thabrani)

Siapakah contoh dari kedua jenis manusia di atas?

Cobalah kita bandingkan berapa banyak hafalan Abu Hurairah dengan Ibnu Abbas? Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menyampaikan hadits-hadits tersebut sebagaimana yang dia dengar. Beliau terus belajar siang dan malam. Jika dibandingkan dengan Ibnu ‘Abbas, hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas tidaklah lebih dari 20 hadits. Namun lihatlah keluasan ilmu yang Ibnu ‘Abbas miliki dalam masalah tafsir dan menggali faedah-faedah ilmu, sungguh sangat luas dan mendalam sekali.

Setelah Abu Hurairah dan Ibnu Abbas, para ulama juga terbagi menjadi dua. Kelompok pertama adalah hufaazh (yang banyak meriwayatkan hadits). Kelompok kedua adalah yang banyak menggali faedah, hukum dan memiliki pemahaman mendalam terhadap hadits. Yang termasuk kelompok pertama adalah Abu Zur’ah, Abu Hatim, Bundar, Muhammad bin Basyar, ‘Amr An Naqid, ‘Abdur Rozaq, Muhammad bin Ja’far, Sa’id bin Abi ‘Arubah. Mereka inilah yang banyak meriwayatkan hadits, namun sedikit dalam menggali faedah dan hukum dari hadits yang mereka bawa.

Kelompok kedua adalah seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Al Awza’iy, Ishaq, Imam Ahmad bin Hambal, Al Bukhari, Abu Daud, dan Muhammad bin Nashr Al Maruzi.Mereka inilah orang-orang yang banyak mengambil faedah dan memiliki pemahaman mendalam terhadap sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua kelompok ini adalah manusia yang paling berbahagia dengan wahyu ALLAH dan sabda Rasul-Nya. Mereka adalah orang menerima dan menoleh pada kedua hal tersebut. Namun di antara keduanya memiliki perbedaan yaitu yang satu memiliki pemahaman lebih mendalam dari yang lainnya. Akan tetapi, keduanya sama-sama memberikan manfaat pada orang lain.

 

Manusia jenis ketiga adalah bukan termasuk yang pertama dan kedua yaitu mereka yang tidak mau menerima petunjuk ALLAH dan tidak mau menoleh pada wahyu. Mereka inilah yang disebutkan dalam firman ALLAH,

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).”(Al Furqaan 25: 44) 

Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi orang lain.”

(Al Jaami’ Ash Shogir)

 

 

Bagikan

Peranan Aqidah yang Shohih dalam Menjaga Hubungan Pribadi Muslim

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

psb1

Dalam Shohih Bukhori, dari Ibnu Musyyyab dari bapaknya

أَنَّهُ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ المُغِيرَةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَالِبٍ: ” يَا عَمِّ، قُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ ” فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ؟ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ المَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ» فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ: {مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ} [التوبة: 113] الآيَةَ

Ketika Abu Thalib hendak meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. Di dekat Abu Thalib, beliau melihat ada Abu Jahal bin Hisyam, dan Abdullah bin Abi Umayah bin Mughirah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada pamannya, ”Wahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallah, kalimat yang aku jadikan saksi utk membela paman di hadapan Allah.” Namun Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah menimpali, ’Hai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengajak pamannya untuk mengucapkan kalimat tauhid, namun dua orang itu selalu mengulang-ulang ucapannya. Hingga Abu Thalib memilih ucapan terakhir, dia mengikuti agama Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illallah.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad, ”Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang.”

Lalu Allah menurunkan firman-Nya di surat at-Taubah: 113. dan al-Qashsas: 56. (HR. Bukhari 1360 dan Muslim 24)

Firman Allah di surat at-Taubah:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).

Firman Allah di surat al-Qashsas:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashsas: 56)

  1. Tafsir ayat

    إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

    Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashsas: 56)

  2. Tafsir ayat

    مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ

    ”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik,

  3. Tafsir hadis   لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ . Berbeda dengan atas apa-apa orang yang merasa memiliki Ilmu
  4. bahwa Abu Jahal dan oarang yang bersamanya tahu maksud nabi ketika mengatakan kepada seseorang لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ . Semoga Allah menjelekkan Abu Jahal yang tahu Usul Islam.
  5. Kakeknya Nabi Muhammad dan Dominasinya dalam Islamnya Paman Nabi.
  6. Menolak atas rang yang menganggap bahwa Abdul Muthalib dan Pendahulunya adalah orang-orang Islam.
  7. Keberadaan Rosulullah yang ingin meminta ampun untuk Abu Tholib, tetapi tidak jadi, bahkan dilarang untuk melakukan itu.

Oleh. Ust. Kastori pada Kajian Rutin Senin Pagi, 27 Maret 2017 atau 28 Jumadil Akhir 1438 H.

Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

Bagikan

7 Golongan Yang Mendapat Naungan Di Padang Mahsyar

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

Ponpes. Terpadu Ulul Abshor
psb

Padang mahsyar adalah tempat dimana seluruh manusia dikumpulkan tanpa sehelai benang pun, mengantre, menemui nasibnya yang mana mengacu pada amal baik buruknya selama hidup di dunia. Luar biasa panas tempat itu. Bahkan digambarkan matahari hanya berjarak sejengkal dari kepala.

Allah memberi naungan dari dahsyat kesengsaraan di sana. Hamba hamba ini merupakan pilihan yang mana menjadi golongan yang akan dinaungi kelak. Siapa saja mereka, dan bertanyalah pada diri, apakah diri kita termasuk di dalamnya :

1. Pemimpin yang adil

Pemimpin yang adil termasuk salah satu golongan yang dinaungi di padang mahsyar.
Menimbang pemimpin yang adil dimasukkan ke dalam tujuh golongan. Menurut urgensi saya sendiri, begini penjelasannya.

Pemimpin perannya sangat vital. Bahkan orang bilang, jika pemimpin rusak, semua elemen akan rusak. Itu dari sisi pengaruh diri. Belum lagi kontribusinya penting. Sekali dia memikirkan dirinya tanpa mengindahkan rakyat, maka sejuta rakyat akan menjerit.
Maka mengingat kontribusinya tinggi dan tugasnya tidak ringan, balasan pun tidak ringan.

Tidak semua pemimpin adil. Maka hanya pemimpin adillah yang menjadi golongan yang akan dinaungi di padang mahsyar kelak.

2. Pemuda yang tumbuh pada kebiasaan beribadah pada RabbNya

Di sinilah peran orang tua. Semenjak kecil, anak harus didik beribadah. Berikan hukuman ketika sang anak tidak berangkat beribadah. Dampaknya mengakar sampai dewasa. Yang mana dewasa adalah lanjutan dari masa kecil yang terus berjalan seiring perkembangan zaman. Lihatlah, betapa banyak anak muda sekarang hobi bermaksiat, berani bersentuhan dengan lawan jenis, bahkan memakai obatan terlarang. Hal itu bisa disebabkan masa hidup yang dilalui oleh sang anak tersebut kurang bersahabat dengan kebaikan.

3. Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid

Masjid merupakan rumah Allah. Selayaknya orang yang selalu mengagungkan rumah Nya mendapat balasan melimpah disbanding orang biasa yang jarang ke situ. Setiap waktu menjelang sholat, dia sudah berada di sana untuk mengikuti sholat berjamaah. Dia pun melakukan sholat sunah yang membuat malaikat malaikat di sisinya mendoakannya agar si hamba tersebut selamat di akhirat.

4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga tidak bertemu dan tidak berpisah kecuali karena Allah

Saya melihat termasuk esensi di dalamnya adalah ukhuwah cinta. Betapa sesame muslim harus saling bersaudara, bahkan diumpamakan seperti anggota tubuh, bila satu merasa sakit maka semuanya akan terasa.

5. Lelaki yang diajak berzina dengan wanita berkedudukan dan dia menolak lalu bilang,” Aku takut pada Allah “

Biasanya normalnya adalah lelaki yang mengajak wanita untuk berzina. Tapi ini wanita cantik dan terhormat yang menawarkan diri untuk dizinai dengan suka rela karena dia ingin bersetubuh dengan lelaki itu disebabkan lelaki itu terlalu tampan.
Maka lelaki yang menolak dan bilang bahwa dia takut adzab Rabbnya, dia mendapat balasan agung kelak.

6. Orang yang bersedekah sembunyi sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.

Dari miliaran manusia di dunia, berapa persen yang dermawan ? Tentu tidak banyak. Padahal peran dermawan sangat penting untuk kesejahteraan bangsa dan Negara. Ketika Negara pusing mikiran hutang. Wakil rakyat ngurusi gaji sendiri, bahkan protes kalau gajinya telat apalagi tidak digaji, maka siapakah yang membangun infrastruktur, apa lagi yang tidak dijangkau oleh mata Negara, seperti daerah pedesaan. Dan mohon maaf, jikalau dananya disedot, maka sudah tidak ada harapan lagi.

Dermawan mulia penting di dunia. Dan kalau terang terangan, mungkin orang orang terkagum. Nah, bagaimana jikalau sembunyi sembunyi, inilah yang dahsyat. Maka orang seperti ini sungguh mulia. Alam semesta berhutang budi padanya. Karena dia, banyak manusia bergembira. Banyak orang terbantu dan tertolong. Maka dia layak mendapat pertolongan dari Allah kelak.

7. Orang yang berdzikir pada Allah dengan sendiri hingga air matanya meleleh takut akan adzab Allah

Ketika tengah malam, semua orang terlelap tidur, dia pergi ke masjid mengambil air wudhu lalu sholat. Dinginnya malam tiada dihiraukan. Dia sangat mencintai Tuhannya melebihi apa pun dan takut akan adzab Nya yang pedih.

Bagikan

Aurat Bagian dari Kehormatan Diri

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

psb1Barangsiapa yang menjaga auratnya
Maka kehormatan dirinya akan tetap terjaga
[Ali Husaini Al-Barqiy].
Terkadang kita (kaum wanita) selalu menganggap bahwa Islam terlalu mengekang kita dengan perintah menutup aurat yang menurut kita sangatlah ribet.
Islam tidak bermaksud memenjarakan kaum wanita,
Kewajiban untuk menutup aurat yang telah dijelaskan dalam Islam bagi kaum wanita jangan diartikan sebagai bentuk pengekangan terhadap dirinya.
Justru dengan perintah menutup aurat tersebut seorang wanita Muslim merupakan manusia yang paling bebas dalam masyarakat
Dengan jilbab seorang wanita menjadi merdeka, bebas dari gangguan nafsu liar kaum laki-laki.
Jadi ketika seorang wanita Muslim menutup auratnya dengan batasan-batasan yang telah ditetapkan dalam Islam, maka seorang wanita tersebut akan sangat terhormat
Hal itu bisa meninggikan martabat kewanitaannya

 

Bagikan