Bagi Mereka Pertolongan Dan Kemenangan Dari Allah

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru
Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

brosur-smp-anyar

ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ كَذَٰلِكَ حَقًّا عَلَيۡنَا نُنجِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١٠٣

“Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban Kami menyelamatkan orang-orang beriman.” (QS. Yunus [10]: 103)

Allah ‘azza wa jalla telah mewajibkan atas diriNya untuk menolong dan menyelamatkan orang-orang beriman. Ini adalah bentuk keMahaMurahan Allah kepada para hambaNya. Ia bukan hanya menyelamatkan orang-orang beriman dalam kehidupan di dunia saja, namun Ia juga akan menolong dan menyelamatkan mereka pada kehidupan akhirat. Dan pertolongan kepada para hambaNya terjadi dalam bentuk dan jenis yang beragam banyak. Ia bukan hanya pertolongan dalam urusan dunia, namun juga urusan agama serta berkaitan dengan urusan yang lahir maupun batin.

Selama seorang mukmin berada dalam ketaatan kepada Allah maka ia senantiasa berada dalam jaminan pertolongan Allah. Maka sesungguhnya pertolongan Allah kepada hambaNya adalah balasan atas keimanan dan ketaatan hamba kepadaNya. Dan ketika Allah mencintai hambaNya maka Allah akan menguji hamba tersebut. Namun dibalik ujian tersebut ada hikmah dan kebaikan bagi si hamba.

Para Rasul Allah, para da’i, ulama dan mujahid adalah orang-orang yang mencurahkan tenaganya untuk menyiarkan dienullah. Mereka adalah di antara para hamba Allah yang mencintai Allah dan mencintai dienNya. Sehingga Allah pun mencintai mereka dan kemudian menguji mereka semuanya. Pada zaman yang penuh fitnah ini para ulama yang ikhlas, para da’i yang lurus dan para mujahid adalah kaum beriman yang terdepan di dalam berjuang menegakkan dienullah. Dan mereka juga adalah orang-orang yang paling berat ujiannya.

Agar menjadi mukmin yang mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah, maka seorang mukmin harus menjadi salahsatu dari orang dibawah ini dan atau memiliki sifat-sifat berikut ini:

  1. Istiqomah Dalam Keimanan

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠ نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَشۡتَهِيٓ أَنفُسُكُمۡ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ٣١  نُزُلٗا مِّنۡ غَفُورٖ رَّحِيمٖ ٣٢

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat -malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.” Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Didalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Allah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Fussilat [41]: 30-32)

Allah ‘azza wa jalla memberikan jaminan perlindungan dan pertolongan kepada para hambaNya yang istiqomah di dalam keimanan. Pertolongan ini baik dalam kehidupan dunia maupun dalam kehidupan akhirat. Jaminan perlindungan dan pertolongan dari Allah tersebut tidak berlaku jika seorang hamba tidak istiqomah dalam keimanan, dalam arti ia telah murtad dikarenakan melakukan perbuatan kekafiran. Sebab Allah berlepas diri dan menyatakan permusuhan terhadap orang-orang kafir.

Istiqomah artinya melazimi ketaatan kepada Allah. Maka seorang hamba yang istiqomah dalam keimanan adalah orang yang hidupnya senantiasa dalam ketaatan kepada Allah. Setiap saat aktifitas hidupnya adalah berpindah dari satu ketaatan ke ketaatan lainnya. Sehingga saat dia melakukan satu ketaatan kepada Allah, maka Allah membalasnya dengan menolongnya untuk melakukan jenis ketaatan yang lain kepadanya, begitu seterusnya. Atau dalam kata lain, ketika dia melakukan satu kebaikan (amal shalih) maka Allah membalasnya dengan menolongnya diberikan kemudahan untuk melakukan amal shalih yang lainnya. Inilah makna firman Allah:

هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ ٦٠

“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman [55]: 60)

Hal yang paling dibutuhkan oleh seorang hamba dari Allah adalah diberikan keistiqomahan dalam keimanan. Sebab di dalam keistiqomahan tercakup seluruh kebaikan yang dibutuhkan oleh seorang hamba. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

“Diriwayatkan dari Abu Amru -ada yang memanggilnya Abu Amrah- Sufyan bin Abdillah Radhiyallahu’anhu bahwa dia berkata,  “Aku pernah berkata, “Ya Rasulullah katakanlah kepadaku ungkapan tentang Islam, dimana aku tidak akan menanyakannya kepada seorang pun selain engkau.” Beliau kemudian bersabda, “katakan : “Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim)

Seluruh amal seorang hamba menjadi sia-sia jika dirinya tidak istiqomah dalam keimanan. Apalah artinya amal kebaikan seperti shadaqah, shaum sunnah, shalat sunnah bahkan jihad, jika kemudian pelakunya meninggalkan keimanan kepada Allah atau tidak istiqomah?

يوَمَن يَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتۡ وَهُوَ كَافِرٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٢١٧

“Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat dan mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal didalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 217)

Jika seorang hamba menginginkan dan berniat untuk istiqomah dengan melazimi ketaatan kepada Allah, maka Allah akan menolongnya dengan mengaruniakan keistiqomahan kepadanya. Ini adalah bentuk kemurahan Allah kepada para hambaNya. Sebaliknya, jika seorang hamba menginginkan kesesatan dengan menempuh jalan kesesatan, maka Allah akan menyesatkannya. Ini adalah bentuk keadilan Allah, dan ini juga hukuman bagi yang menginginkan untuk sesat. Hal tersebut sebagaimana firmanNya:

وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦ يَٰقَوۡمِ لِمَ تُؤۡذُونَنِي وَقَد تَّعۡلَمُونَ أَنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡۖ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ٥

“Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran) Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. Ash-Shaff [61] : 5)

  1. Mukmin Yang Loyal (Setia) Kepada Allah, Rasul dan Orang-orang Beriman

وَمَن يَتَوَلَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَإِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ

“Dan barangsiapa menjadikan Allah, RasulNya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh  (agama) Allah, itulah yang menang.” (QS. Al-Ma’idah [5] : 56)

Allah ‘azza wa jalla menjamin memberikan kemenangan kepada orang-orang yang berwala (memberikan loyalitas/kesetiaan) hanya kepada Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman. Pertolongan Allah dengan memberikan kemenangan kepada mereka adalah sebagai balasan atas kesetiaan mereka kepada Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman. Bentuk loyalitas seorang hamba kepada Allah adalah dengan beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun dalam ibadah tersebut. Ia juga mentaati setiap syariat dan hukum yang ditetapkan oleh Allah ‘azza wa jalla.

Bentuk loyalitas seorang hamba kepada Allah yang lainnya adalah mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan membenci apa yang dibenci oleh Allah, serta rela berkorban untuk membela dienullah dan menegakkannya. Ketika seorang hamba mencintai Allah, maka Allah akan membalas dengan mencintainya. Dan salahsatu bukti cinta Allah kepada hambaNya adalah dengan menolongnya dan mengaruniakan kemenangan di dunia dan di akhirat. Pertolongan itu bisa berupa penjagaan Allah kepada hamba dari ketergelinciran dan kesesatan. Adapun kemenangan hidup di dunia bisa berupa akhir hidup sebagai seorang mukmin yang istiqomah.

Adapun bentuk loyalitas kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan mencintainya melebihi kecintaan kepada seluruh manusia di muka bumi. Yang lainnya adalah dengan membenarkan setiap kabar yang dibawa oleh Rasulullah. Membenarkan dan mentaati ajaran yang dibawa oleh Rasulullah secara global dan terperinci. Kemudian siap berkorban untuk membela dan menegakkan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Sedangkan bentuk loyalitas kepada orang-orang beriman adalah mencintai mereka karena keimanannya dan memberikan hak-haknya berdasarkan ketentuan syariat. Membela mereka dari kezaliman pihak lain. Baik kezaliman dari sesama muslim maupun kezaliman dari kaum kafir. Senang hidup ditengah-tengah kaum mukminin dan benci untuk hidup ditengah kaum musyrikin adalah bentuk loyalitas lain kepada orang-orang  beriman. Dengan sebab loyalitasnya kepada para hambaNya yang beriman maka Allah pun berkenan memberikan pertolongan dan kemenangan kepada mereka.

Dan puncak loyalitas seorang hamba kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman adalah dengan berjihad untuk tegaknya syariat Allah dan RasulNya serta menolong kaum mukminin dari kezaliman kaum kafir. Dan yang sanggup untuk melakukan itu semua adalah para mujahid. Sedangkan mujahid yang berjihad di jalan Allah adalah salahsatu hamba yang mendapatkan jaminan pertolongan dan kemenangan dari Allah.

  1. Mukmin Yang Sabar Dalam Menghadapi Ujian

أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ

“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah? “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah [2] : 214)

Allah ‘azza wa jalla menetapkan bahwa Ia akan menguji setiap hamba yang menyatakan dirinya beriman. Ujian itu untuk  membuktikan akan dusta atau benarnya keimanan seorang hamba. Hal tersebut sebagaimana firmanNya :

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-’Ankabut [29] : 2-3)

Dan tidaklah Allah menguji iman seorang hamba kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya. Dibalik ujian yang Allah berikan kepada seorang hamba sesungguhnya ada pertolongan dan hikmah yang baik bagi si hamba. Semakin keras dan berat ujian (musibah) yang menimpa hamba menandakan semakin dekatnya pertolongan Allah jika hamba tersebut bersabar dan tidak menyerah. Bahkan besarnya pahala di akhirat yang didapat seorang hamba salahsatunya adalah berdasar beratnya ujian yang menimpa dan bersabar karenanya.

Jika saja seorang hamba bersabar tatkala musibah atau ujian pada puncaknya, maka itu pertanda sudah sangat dekatnya pertolongan Allah. Contoh dalam hal ini adalah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika hendak dibakar oleh Raja Namrudz. Ketika tangan dan kaki Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diikat kemudian dilemparkan ke dalam api, secara logika berakhirlah kisah Nabi Ibrahim.  Namun pertolongan Allah justru datang dari dalam api yang direncanakan oleh Raja Namrudz untuk membinasakan Nabi Ibrahim. Api tersebut menjadi dingin dan sejuk serta membakar tali-tali yang mengikat tubuh Nabi Ibrahim.

Kisah lain adalah tatkala Nabi Musa ‘alaihissalam dan bani Israil dikejar oleh pasukan tentara Raja Fir’aun dan sampai di tepi laut merah. Secara logika berakhirlah kisah Nabi Musa ‘alaihissalam dan bani Israil karena tidak ada lagi celah bagi mereka untuk menyelamatkan diri. Namun pertolongan Allah justru muncul dari tempat berpijak Nabi Musa ‘alaihissalam. Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam memukulkan tongkatnya ke laut merah maka terbentanglah jalan yang menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dan bani Israil sekaligus tempat dibinasakannya Fir’aun dan bala tentaranya.

Maka ditengah musibah yang menimpa Daulah Islam hari ini berupa pengeroyokan dengan gempuran yang sangat massif oleh koalisi kafir internasional, adalah pertanda semakin dekatnya pertolongan dan kemenangan dari Allah bagi Daulah Islam. Jika Daulah Islam mampu bersabar dan bertahan dalam masa-masa kritis ini, maka tidak lama lagi -biidznillah- kemenangan-kemenangan besar akan segera dicapai oleh Daulah Islam. Sebab pertolongan dan kemenangan dari Allah datang tatkala seolah tidak ada lagi jalan keluar bagi seorang hamba. Tetap bersabar, optimis dan berprasangka baik kepada Allah tatkala musibah datang akan menjadi wasilah datangnya pertolongan Allah

Bagikan

Perubahan Tidak Pernah Berubah

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

brosur-smp-anyar-depan

Selama pergantian pemimpin, negeri ini mengalami perubahan demi perubahan. Dari sisi apa pun semua berubah, entah itu perubahan ke arah lebih maju atau perubahan ke arah lebih mundur. Kebijakan demi kebijakan diambil dan memberi perubahan itu sendiri. Aturan pemilihan pemimpin berubah. Yang mana dulu hanya kalangan tertentu saja, sekarang dipilih seluruh rakyat. Perubahan terus terjadi. Setiap pemimpin membuat perubahan, entah itu ke arah lebih positif atau sebaliknya.

Begitu juga pada masa sepeninggal Rasulullah, dari satu khalifah ke khalifah membuat perubahan tersendiri, yang mana untuk kemajuan umat. Mulai Abu Bakar yang mana menfokuskan menajamkan akidah seiring banyak terdengar orang mengaku nabi, tidak mau bayar zakat. Selain itu, beliau juga memperluas daerah kekuasaan. Sepeninggal beliau, khilafah beralih ke Umar. Ini titik perubahan menakjubkan, penyebaran Islam menyebar drastis, menguasai daerah luar Arab sangat luas. Bahkan Michael Hart menempatan Umar sebagai seorang berpengaruh di dunia di dalam bukunya seratus tokoh paling berpengaruh di dunia. Umar dianggap sebagai dalang perluasan kekuasaan umat Islam yang sangat berpengaruh untuk kemajuan umat.

Sepeninggal Umar, Utsman mengambil tahta. Perubahan pun terjadi. Banyak hafidz Qur’an yang syahid membuat khalifah resah. Maka beliau merijtihad untuk menuliskan Al Quran ke dalam lembaran lembaran untuk kemaslahatan umat. Titik balik masa yang mana Al Quran dibukukan. Sepeninggal Utsman, Ali menjadi khalifah. Perluasan daerah pun semakin gencar. Intinya, dari khalifah satu ke lain pun berubah dan memberi perubahan pada masa itu, dan tidak mungkin sama.
Bangsa ini telah tau pemimpin untuk lima tahun ke depan. Dan jika ada orang berharap bisa sama seperti pemimpin sebelumnya, maka dia hanya bermimpi karena itu tidak mungkin. Perubahan itu akan terjadi. Hanya saja kita tahu, apakah perubahan ke arah lebih baik atau sebaliknya. Kita lihat saja nanti. Tanda tanda mulai ada.

Mengapa begitu ?

Karena semua orang itu berbeda. Seluruh garis garis telapan manusia di dunia tidak ada yang sama, walau satu orang pun. Begitu pula karakter. Anda mengharapkan sesuatu yang sama dengan orang, sementara Anda menggantinya dengan orang lain. Maka mustahil terjadi. Karena mereka berbeda. Kalau tidak ke arah lebih baik, maka ke arah lebih buruk. Kalau tidak lebih maju, berarti akan lebih mundur.

Setiap saya menemui orang yang beberapa waktu tidak saya temui, cenderung mereka berubah secara fisik. Ada yang lebih gemuk, lebih kurus, lebih indah di pandang, bahkan ada yang lebih muda dari umur sebenarnya atau terakhir kali saya bertemu. Begitu juga alam, pohon kelapa depan rumah saya tiada lagi yang dulu sering saya panjat. Seiring berjalan waktu, tanaman tanaman mulai ditebang diganti bangunan bangunan megah. Semuanya berubah, tidak perlu waktu lama, sejenak saja pun kita sudah berubah. Bulan pun mengalami fase fase perubahan, begitu juga matahari yang mana strukturnya dari waktu ke waktu tidak sama.

Lalu adakah yang tidak berubah ?

Yang tidak berubah hanya Tuhan dan perubahan itu sendiri. Perubahan tidak pernah berubah. Perubahan selalu mengitari seluruh dunia dan alam semesta. Karena dia menjadi hakekat yang tidak pernah berubah.

Bagikan

Bagaimana cara memutus siklus Anak Nakal ?

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

albusyro
Saat ngopi bareng mas Dodik Mariyanto di teras belakang rumah, iseng-iseng saya buka obrolan dengan satu kalimat tanya
“Mengapa anak baik biasanya semakin baik, dan anak nakal biasanya semakin nakal ya mas?”
Mas Dodik Mariyanto mengambil kertas dan spidol, kemudian membuat beberapa lingkaran-lingkaran.
“Wah suka banget, bakalan jadi obrolan berbobot nih”, pikir saya ketika melihat kertas dan spidol di tangan mas Dodik.
Mas Dodik mulai menuliskan satu hadist:
*رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِد*ِ
_*“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua”*_
Artinya setiap anak yang baik, pasti membuat ridho orangtuanya, hal ini akan membuat Allah Ridho juga.
Tapi setiap anak nakal, pasti membuat orangtuanya murka, dan itu akan membuat Allah murka juga.
“Kamu pikirkan implikasi berikutnya dan cari literatur yang ada untuk membuat sebuah pola”, tantang mas Dodik ke saya.
Waaah pak Dosen mulai menantang anak baik ya, suka saya.
Setelah membolak balik berbagai literatur yang ada, akhirnya saya menemukan satu tulisan menarik yang ditulis oleh kakak kelas mas Dodik, yaitu mas Dr. Agus Purwanto DSc
. disana beliau menuliskan bahwa anak nakal dan anak baik itu bergantung pada ridho dan murka orangtuanya.
Akhirnya kami berdua mengolahnya kembali, membuatnya menjadi siklus anak baik (lihat gambar siklus 1) dan siklus anak nakal ( lihat siklus 2)
Siklus Anak Baik ( siklus 1)
_*Anak Baik -> orangtua Ridho -> Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak makin baik*_
Siklus Anak nakal ( siklus 2)
_*Anak Nakal -> orangtua murka -> Allah Murka -> keluarga tidak berkah -> tidak bahagia -> anak makin nakal*_
Kalau tidak ada yang memutus siklus tersebut, maka akan terjadi pola anak baik akan semakin baik, anak nakal akan semakin nakal.
*Bagaimana cara memutus siklus Anak Nakal ?* ternyata kuncinya bukan pada anak melainkan pada ORANGTUANYA.
Anak Nakal -> *ORANGTUA RIDHO* ->Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak jadi baik.
Berat? iya, maka nilai kemuliaannya sangat tinggi. *Bagaimana caranya kita sebagai orangtua/guru bisa ridho ketika anak kita nakal?*
ini kuncinya:
*َإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“*
*Bila kalian memaafkannya…menemuinya dan melupakan kesalahannya…maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 64:14).*
*Caranya* orangtua ridho adalah menerima anak tersebut, memaafkan dan mengajaknya dialog, rangkul dengan sepenuh hati, terakhir lupakan kesalahannya.
Kemudian sebagai pengingat selanjutnya, kami menguncinya dengan pesan dari Umar bin Khattab:
_*Jika kalian melihat anakmu/anak didik mu berbuat baik, maka puji dan catatlah, apabila anakmu/anak didikmu berbuat buruk, tegur dan jangan pernah engkau mencatatnya.*_
*Umar Bin Khattab*
[8:29 13/02/2017: saya dapat do’a seperti ini, artinya:
_*”Ya Allah, aku bersaksi bahwa aku ridho kepada anakku (dg menyebutkan nama anak) dg ridho yang paripurna, ridho yg sempurna dan ridho yg paling komplit. Maka turunkanlah ya Allah keridhoan-Mu kepadanya demi ridhoku kepadanya.”*_
[8:31 13/02/2017. ? ? ? ? ? ? ? ? ?
_*Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah anak belum tau.*_
_*Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah orang tua yang tak sabar.*_
_*Tak ada anak nakal, yang ada hanyalah pendidik yang terburu-buru melihat hasil.*_
? ? ? ? ? ? ? ? ?
Semoga bermanfa’at
Barakallahu fiikum…

Bagikan

Buku “Teknik, Pedoman & Seni Berpidato”

pidato1

pidato

Buku ini merupakan petunjuk praktis tentang tehnik, pedoman dan seni berpidato. Menguraikan berbagai masalah mulai dari persiapan sampai pada cara berpidato di hadapan publik.

Buku ini dilengkapi pula contoh naskah pidato yang diuraikan secara praktis dan sederhama sehingga mudah diterima dan dipraktekkan dengan baik.

Buku ini sangat bermanfaat guna menambah pengetahuan yang lainnya disertakan pula daftar istiah dan singkatan bahasa asing maupun Bahasa Indonesia.

Oleh : Faris Muhammad Abiyu

Bagikan

Berbagai Ujian Yang Dihadapi Nabi Yusuf

brosur-smp-anyar

1. Menjadi sasaran kedengkian saudara-saudaranya

Ujian pertama adalah kebencian dan kedengkian saudara Yusuf padanya. Dapatkah Anda bayangkan jika di usia belia itu, Anda dihasud ( Di dengki ) dan dibenci saudara-saudara Anda sendiri.

2. Berpisah dengan keluarga

Pada usia dua belas tahun Yusuf harus berpisah dengan keluarganya. Ia meninggalkan orang. Ia meninggalkan orang tua dan keluarganya selama empat belas tahun, sesuatu yang sangat sulit untuk kita lalui. Kita melihat akhir kisah tersebut, Yusuf belum bertemu dengan ayahnya hingga dia sendiri yang meminta agar saudara-saudaranya membawa sang ayah ke hadapannya. Mengapa demikian ? Karena Yusuf sudah lupa dan tidak mengenali wajah ayahnya lagi. Bayangkan, empat belas tahun Yusuf tidak berjumpa dengan ayahnya dan famili. Ia tidak mengetahui kondisi famili dan keadaannya. Betapa ia sangat menderita. Ini sulit dibayangkan.

3. Dibuang ke sumur

Setujukan Anda jika seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun dibuang ke sumur selama tiga hari dengan ditemani kawanan ular dan kalajengking, yang mana semua itu dapat tulangnya dan menyebabkannya mati ? Saya kira Anda sependapat dengan saya. Tapi bagaimana kalau yang dibuang itu anak yang baru berusia dua belas tahun ?

4. Menjadi hamba sahaya

Nabi Yusuf adalah orang yang sangat mulia. Rasulullah bersabda,” Dia adalah orang yang mulia, anak dari orang yang mulia ( Nabi Yaqub ) dan keturunan orang yang mulia ( Nabi Ibrahim ).” Namun tiba-tiba ia menjadi seorang hamba sahaya. Betapa merana dan menderita ia. Siapa yang sanggup menanggung ini semua ?

5. Digoda dan dirayu wanita

Yusuf digoda dan dirayu oleh wanita terhormat. Ketika itu, apakah hanya istri Al Aziz saja yang merayu dan menggoda ? Ternyata tidak. Semua istri menteri dan pembesar istana serta dayang-dayangnya turut menggoda. Dapat dibayangkan, betapa cantik para istri pembesar istana itu. Siapa lelaki yang sanggup menghadapi rayuan dan godaan mereka ? Jika ada yang mengatakan,” Tidak lelaki yang seperti itu.” Jawabannya ada. Dialah Yusuf, seorang pemuda ganteng yang sedang berada dalam puncak kematangannya. Dia dirayu wanita cantik dan mulia, tapi dengan mantap dia menolak dan berkata,” Sungguh, aku takut pada Allah.”

6. Dituduh memperkosa

7. Dipenjara

Adalah hal biasa jika Yusuf hanya dipenjara. Akan tetapi, yang ia alami lebih dari itu. Selain dipenjara, ia juga dihadapkan pada tuduhan yang sama sekali tidak ada buktinya. Tuduhan pemerkosaan.

8. Mendapat kekayaan dan kenikmatan yang melimpah

Ketika menjadi seorang petinggi di Mesir, Yusuf, memiliki harta yang melimpah. Apa saja yang diinginkan akan tercapai.

9. Memaafkan saudara-saudaranya

Saudaraku, renungkanlah ! Kalau ada orang yang mengalami peristiwa tersebut, apakah ia akan membalas atau tidak ? Hati nurani Anda mungkin akan mengatakan, “ Ya.” Saya sependapat dengan Anda. Semua peristiwa yang dialami, sejak ia berusia dua belas tahun sampai keluar dari penjara, mengharuskannya menjadi pribadi yang kompleks, penuh dengan kesulitan. Akan tetapi, jiwa Yusuf tetap stabil bukan ? Bahkan tidak sekadar itu, ia juga merupakan sebaik-baik hamba Allah.

10. Mendapat cobaan beruntun

Allah menguji Yusuf dengan berbagai cobaan yang datang silih berganti bahkan di luar akal, misalnya :
Pertama-tama, ia harus berpisah dengan sang ayah yang sangat mencintainya, terlempar ke dalam sumur yang gelap gulita, penuh dengan misteri dan mengerikan. Setelah itu, dari rumah Al Aziz yang megah, tempat yang bisa ia menikmati makanan lezat dan apa saja yang diinginkan, menuju penjara selama sembilan tahun. Setelah itu, dia keluar dari penjara untuk menjadi seorang petinggi Mesir.
Perpindahan-perpindahan yang berlawanan dan kontroversial itu sebenarnya sudah cukup untuk menimbulkan goncangan dan ketidakstabilan pada jiwa Yusuf. Akan tetapi renungkanlah ! Ternyata dia tetap tabah, tegar, dan sabar. Inilah jiwa yang kokoh dan tahan banting.

Bagikan