25 KESALAHAN FATAL PENDIDIKAN KITA SAAT INI

Kontributor : Panitia Penerimaan Santri Baru (PSB)

Ponpes. Terpadu Ulul Abshor

albusyro

  1. Tidak melibatkan wahyu dalam basis filosofisnya (Jauh dari nilai Ketuhanan), hanya mengandalkan otak dan pengalaman pragmatis.
  2. Terjadi kesalahan fatal dalam memandang manusia. Manusia hanya dipandang sebagai “Robot”, kurang perhatian terhadap unsur ruhaniyah.
  3. Memandang rendah profesi guru dibanding yang lainnya, dan menjadikan profesi guru sebagai kerja sambilan daripada tidak bekerja. Padahal profesi guru adalah profesi yang pa-ling mulia yaitu hampir-hampir seperti profesi kerasulan.
  4. Menyimpang dari hakikat pendidikan yaitu pembentukan keyakinan dan akhlak. Sementara pendidikan saat ini hanya menekankan dan berlebihan dalam membentuk otak kiri (berlebihan dalam kognitif saja).
  5. Terdistorsi menjadi pengajaran klasikal padahal hakikat pengajaran adalah face to face, jika ada seratus orang yang akan diajar maka minimal ada seratus desain watak orang.
  6. Sibuk berurusan dengan kulit dan meninggalkan isi.
  7. Tidak melihat pendidikan sendiri sebagai tumpuan perubahan, sebaliknya cenderung mengharapkan perubahan dari bidang lain. Padahal pendidikan bukan segalanya, namun segalanya dari pendidikan.
  8. Hanya senang bergumul dengan soal-soal jangka pendek, kurang telaten mengurusi agenda jangka panjang.
  9. Sering berfikir linier, kurang memahami pola spektrum dalam berfikir.
  10. Senang membuat kehebatan fisik, kurang pandai membangun kehebatan pengelola fisik (SDM).
  11. Sangat pandai melihat kesalahan orang lain, kurang suka melakukan introspeksi.
  12. Senang membuat dan menawarkan program revolusioner, namun tidak pandai membangun infra struktur revolusi.
  13. Sangat pandai membongkar, agak bodoh dalam bongkar pasang.
  14. Sangat gegabah merumuskan program strategis dan kurang sabar pada hakikat perjuangan, yaitu waktu yang panjang dan jalan yang terjal.
  15. Hanya gegap gempita di wilayah teknis, sangat sunyi pada wilayah strategis.
  16. Senang memberikan ikan, lupa memberikan kail dan penggunaannya kepada anak didik.
  17. Suka melakukan pengajaran, kurang pandai melakukan pendidikan.
  18. Sukses memberikan raport dan ijazah (angka dan label), kurang (bahkan tidak sukses) memberikan ilmu.
  19. Sering menjadikan anak didik sebagai obyek saja, jarang memperlakukannya sebagai subyek dan obyek.
  20. Menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar dan sumber kebenaran, bukan sebagai penyampai kebenaran dan salah satu sumber kebenaran.
  21. Senang bermimpi masa depan, kurang pandai membangun bekal saat ini.
  22. Gemar membuat organisasi pendidikan, kurang mampu membuat jaringan kader.
  23. Sangat suka membuat program, kurang mampu mempertelakan agenda di dataran praktis.
  24. Senang bernostalgia dengan sejarah kejayaan masa silam, lupa menyerap dan mengambil pelajaran darinya.
  25. Bertumpu dan bergantung pada kekuatan makhluk bukan pada kekuatan Alloh SWT.

 

Bagikan

Guru Sebagai Muajih

 

albusyro

Guru dalam proses pendidikan Islam tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah materi yang akan diberi-kan kepada anak didiknya. Ia juga harus menguasai berbagai strategi, metode, dan teknik guna kelangsungan transrformasi dan internalisasi materi pelajaran. Penguasaan terhadap metode menjadikan proses dan hasil KBM lebih berhasil dan berdaya guna. Dengan metode yang canggih, anak mampu terlibat baik secara emosional dan intelektual dalam setiap aktivitas belajar sehingga apapun kegiatan yang dilakukan akan memiliki nuansa kebermaknaan yang tinggi. Metode yang tepat dan menarik, menjadikan hubungan guru dan anak didik laksana sahabat, sebagaimana Rasulullah SAW  ber-sama para shahabatnya dahulu.

Allah berfirman yang artinya :

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ

“Dan carilah jalan (metode) yang mendekatkan diri kepada-Nya dan bersungguh-sungguhlah pada jalanNya.”

(QS. Al Maidah : 35)

 

Dalam kaidah usuliyah dikatakan :

“Perintah-perintah terhadap sesuatu merupakan perintah juga mencari mediumnya (metodenya), dan bagi medium hukumnya sama dengan apa yang dituju.”

Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam prosedur pembuatan metode pendidikan antara lain:

  1. Tujuan Pendidikan
  2. Anak Didik
  3. Situasi dan Kondisi
  4. Fasilitas
  5. Pribadi Pendidik

Adapun asas-asas pelaksanaan metode pendidikan yang perlu diperhatikan antara lain : asas motivasi, aktivitas, aper-sepsi, ulangan, korelasi, konsentrasi, individualisasi, sosiali-sasi, evaluasi, kebebasan, lingkungan, globalisasi dan pem-biasaan.

Bagikan

Guru Sebagai Mursyid

albusyro

Mendidik adalah seni membangun manusia yang esen-sinya terletak pada pemunculan nilai kesadaran. Hakikat pendidikan merupakan salah satu dasar dari risalah Islam. Orang yang paling berhasil melakukan proses pendidikan adalah Rasulullah SAW secara khusus dan para rasul pada umumnya. Karena mendidik merupakan salah satu hakikat fungsi kerasulan, maka orang yang ingin berhasil mendidik ia harus paham manhaj kerasulan pada dimensi ini. Syauki bersyair :

“Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang rasul.”

Guru sebagai mursyid adalah syeikh bagi murid-muridnya. Ia dijadikan oleh Allah sebagai sarana pembuka hati dan pembawa hidayah bagi anak didiknya. Ia orang yang paling tahu dari pintu hati mana kesadaran mutarabbi (murid) akan dibuka sehingga masuklah hidayah Allah ke dalam kalbunya. Bila hidayah telah bersemayam dalam lubuk hati anak didik maka ia telah memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, sehingga pada gilirannya muncullah sosok diri yang mempunyai nilai kesadaran.

Bagikan

Guru Sebagai Mu’alim

psb

Seorang guru adalah pribadi yang memiliki basis ilmiah yang memadai yang akan diajarkan kepada anak didiknya. Bagi pengajar matematika maka ia adalah orang yang memi-liki kapabilitas di bidang matematikanya, demikian juga jika ia pengajar IPA, tafsir, dsb. Namun demikian ia juga harus memiliki standar minimal ilmu-ilmu syar’i. Rasulullah bersabda : “Jadilah kamu para pendidik yang penyantun, ahli fikih, dan berilmu pengetahuan. Dan dikatakan predikat rabbani apabila seseorang telah mendidik manusia dengan ilmu pengetahuan, dari sekecil-kecilnya sampai menuju pada yang tinggi.” (HR. Bukhari dan Ibnu Abbas).

Seseorang yang mengajarkan ilmu tertentu tetapi tidak menguasai basis konseptualnya akan menyebabkan terjadinya  distorsi ilmiah, yang berakibat antara lain:

  1. Penyimpangan visi dan misi ilmu yang bersangkutan.
  2. Terjadinya kekaburan konsep pada diri anak sehingga ter-jadi shock down psikologi pada diri anak.
Bagikan

KARAKTERISTIK KURIKULUM ISLAM

psbpsb

Pengertian  kurikulum  apabila kita rujuk dalam bahasa Arab dapat disamakan dengan  istilah minhajمنهاج ) yang berasal dari kata :

نهج ) yang artinya menjelaskan

Al Qur’anul Karim melalui ayatnya menerangkan tentang term manhaj. Diantaranya adalah sebagaimana firman Allah SWT :

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“…Untuk tiap-tiap ummat  diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.”

(QS. Al Maidah : 48)

Dalam  dataran praktis, kurikulum yang  diterapkan dalam sebuah lembaga pendidikan Islam haruslah merupakan kurikulum yang dibangun atas landasan konsep Islam.  Ada beberapa hal yang merupakan basis konseptual dalam penyu-sunan kurikulum yang Islami, diantaranya :

  1. Kurikulum yang Islami haruslah memiliki sistem pengajar-an dan materi yang selaras dengan fitrah manusia, sebagai-mana sabda Rosulullah SAW :

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِه

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya  sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi.”

(HR. Bukhari)

  1. Kurikulum Islam haruslah dapat mewujudkan tujuan pen-didikan Islam yang fundamental yaitu memurnikan ketaat-an dan peribadatan hanya kepada Allah.
  2. Tingkatan setiap kurikulum Islami haruslah sesuai dengan tingkatan pendidikan, baik dalam hal karakteristik, usia, tingkat pemahaman, dan sebagainya.
  3. Aplikasi, kegiatan, contoh atau teks kurikulum Islami harus memperhatikan tujuan-tujuan masyarakat yang realistis dan bertitik tolak dari konsep Islam yang ideal. Sebagai contoh : bisnis yang Islami, olah raga yang islami dan sebaginya.
  4. Sistem kurikulum Islam harus selaras dengan desain psiko-logis yang telah Allah ciptakan untuk manusia. Atas dasar inilah maka seluruh ilmu yang diberikan haruslah diarah-kan pada pembentukan kepribadian manusia yang ber-tauhid.
  5. Kurikulum Islami hendaknya memiliki metode yang elastis sehingga dapat diadaptasikan keberbagai kondisi dan po-tensi yang ada.
  6. Kurikulum Islami haruslah memperhatikan pada pendidik-an tentang segi-segi aktivitas langsung seperti jihad, dakwah, dan sebagainya.

 

Bagikan